Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Komunikasi Web ala Sayur

August 16, 2007
Oleh Nukman Luthfie

Anak terkecil saya, Lala, kemarin mengajak ayah ibunya menyanyi bareng-bareng. Si kecil berusia 2,5 tahun itu memang baru saja masuk ke playgroup beberapa hari. Ia diajarkan berbagai lagu anak-anak dan kini sedang senang-senangnya menyanyi di rumah. Ketika kami sedang berkumpul, Lala berteriak: “Ayo kita bersama-sama nyanyi marilah pulang.” Tanpa tunggu aba-aba, kami menyanyi bareng: Mari pulang …marilah pulang …marilah pulang …bersama-sama….

“Ayo ibu dan ayah tepuk tangan,” teriak Lala.

Hehehe.. kami berilah ia tepuk tangan.
Setelah itu ia minta lagu lain.

“Ibu, nyanyi sayur dong,” katanya.

Sayur? Lagu berjudul sayur? Istri saya bengong sambil menatap saya minta bantuan. Hehehe, mana saya tahu.

“Lagunya seperti apa sih dik? Ibu kok ndak tahu. Coba adik nyanyikan dulu,” pinta istri saya.

“Aaaah ndak tahu,” jawab Lala. Ia memang biasa menjawab begitu untuk banyak hal.

Tapi ia ngotot agar ibunya nyanyi lagu sayur.

Istri berusaha keras mengingat, adakah lagu berjudul sayur atau mengandung kata-kata sayur. Tapi sampai pening pun tak ketemu. Saya juga pasrah.

“Yang mana sih dik lagunya?” tanya lagi istri saya.

“Yang kayak di sekolah itu lho bu,” jawab Lala.

Tiba-tiba, “cling” ..lampu menyala di kepala istri saya (kayak gambar kartun seseorang yang dapat ide brilian). “ooooooh…. ibu tahu,” kata istri saya.

Maka istri saya memimpin dengan bangga.

Sayurnara ..sayur nara.. sampai berjumpa pula….

Lala langsung menyambut lagu itu dengan gembira.

Benar. Itu lagunya.

Maka saya pun ikut meramaikan koor sambil terpingkal-pingkal.

Sayurnara ..sayurnara.. sampai berjumpa pula….

Buat apa susah …

Buat apa susah …

Susah itu tak ada gunanya…..

Kami pun tepuk tangan ramai-ramai seusai koor ambur radul di atas.

Hanya dengan memahami cara berpikir Lala, istri saya bisa tahu apa yang diinginkan anak keduanya itu.

Kisah nyata di atas saya kisahkan ulang karena saya seringkali menemukan situs web yang memiliki target audience jelas, namun isi content-nya tidak nyambung dengan kebutuhan target pasarnya. Cara komunikasinya pun seringkali tidak cocok dengan target pasarnya. Saya juga beberapa kali ketemu petinggi perusahaan yang ngotot membuat situs web sesuai keinginan mereka. Mereka lupa, bahwa situs web itu dipersembahkan untuk pelanggan, bukan untuk memenuhi ego mereka. Mereka tidak mau tahu apa kebutuhan pelanggannya.
Sudah pasti, situs web yang demikian akan gagal.

Situs yang seperti itu saya sebut sebagai situs yang gagal menerapkan strategi komunikasi web ala sayur.

Catatan:

Ssssst… hak cipta nama strategi komunikasi ini sudah didaftarkan atas nama Lala (2,5 tahun).

lala.JPG

39 Responses to “Komunikasi Web ala Sayur”

  1. Horeee…. PERTAMAX
    (juara bertahan 2x berturut-turut, harusnya dapat hadiah :P )

    Wah, posting yang dalam… Perlu waktu semalaman untuk merenungkannya.

    Merdeka!

  2. yainal says:

    makasih Lala… :)

  3. good analisa, saya tunggu lagu yang lebih dalam tentang komunikasi web ala sayur. beserta contoh webnya.

  4. Endy says:

    Pak taryono ternyata udah absen disini :)

  5. Mas Wawan says:

    Hooh contoh webnya dong Pak Nuk

  6. iLm@N says:

    asslm..
    wah, lucunya dik Lala.. sayang waktu kemarin ke rumah Pak Nukman saya nggak banyak main sama Lala.. maklum baru kenal kali ya?

    ngomong-ngomong, nama strategi komunikasi web ala sayur ini lucu pak.. kalo sering dibicarain di seminar2, pasti bakal langsung populer pak..

  7. Endy says:

    saya berkomentar disini sudah beberapa kali, sebenarnya ini melalu moderasi tidak? jika iya, kenapa tadi sempat muncul sebentar komentar saya lalu setelah itu hilang lagi? dan kayanya semua gak ada yg di approve, padahal saya tidak melakukan spam, ataupun yg lain. apakah disini hanya tempat untuk orang2 yang pintar? atau ada yg lain? jika ini tidak pantas untuk di app, silahkan kirimkan jawaban di email saya.

    terimakasih

  8. #1.
    Rachel sudah saya kasih hadiah ya… :)

  9. #7:
    Blog ini dimoderasi. Biasanya kalau hari libur seperti ini tidak saya tengok, sehingga banyak yang nggantung menunggu approval dari saya. Untung hari ini saya lagi di Jogja dan sempat browsing terus jadi nggak banyak komentar baru yang nggantung.

    Mas Endy memang beberapa kali kirim komentar. Tapi semuanya dilakukan pada hari yang sama. Karena sebelumnya belum pernah, maka semua komentar mas Endy terkena moderasi. Sekarang sudah saya approve. Habis ini semua komentar mas Endy akan lolos dengan sendirinya, asal tidak menggunakan email yang berbeda.

    Blog ini justru tempatnya orang-orang yang tidak pintar namun lapar untuk pintar sehingga saling berbagi ilmu. Meski demikian, yang pintar seperti mas Endy juga diperbolehkan sharing di sini.

    Selamat datang mas Endy.

  10. Endy says:

    Terimakasih pak nukman, saya bukan orang pintar, tetapi kalo dibilang haus informasi iya, dan ada beberapa artikel disini yang saya jadikan referensi dalam tulisan saya. Seingat saya tidak hanya kemarin saya comment diblog ini, sudah beberapa kali, Namun tidak menjadi masalah jika demikian. Saya juga mengucapkan selamat datang di Jogja, dan semoga menyenangkan.

  11. #3 dan #4.
    Contohnya banyak. Menurut pak Taryanto sendiri apakah situs web Anda, seratjati.com sudah menerapkan komunikasi web ala sayur?

  12. Wah ndak tahu pak Nukman saya juga kawatir web saya seperti yang dikategorikan bapak, maklum ndak pandai marketing sih, namun saya mohon komentarnya pak Nukman, agar ngeh.

  13. Coba pak Taryono mulai dari pertanyaan seperti ini.

    1. Siapa target pasar situs web seratjati.com? Dugaan saya: calon pembeli mebel, khususnya berbahan baku kayu jati.

    2. Ketika membuat situs web tersebut, apakah pak Taryono melakukan riset terhadap target pasar? Misalnya, apa yang mereka butuhkan ketika masuk ke seratjati.com? Maukah calon pembeli diganggu oleh informasi google ads dan auctionads?

    3. Apa tujuan membangun situs web seratjati.com? Dugaan saya, pak Taryono ingin jualan mebel berbahan baku jati. Masih perlukan mencari uang dari google ads atau auctionads?

    4. Bagaimana cara komunikasi terbaik dengan calon pembeli mebel jati via web? Sudahkah pak Taryono mencoba diskusi dengan calon pembeli dari Internet sehingga paham apa kebutuhan mereka di Internet?

    Coba bandinglan seratjati.com dengan situs Tekaparquet.com, dan rasakan beda komunikasinya.

  14. Andy Santoso says:

    Betul sekali, sekilas saya melihat sempet bingung juga, kenapa mesti ada ads by google? jangan khawatir, me”maintenance” web site memang akan butuh selama web site itu up, jadi perbaiki saja terus.

    Cara yang paling mudah apakah website kita memenuhi apa yang dibutuhkan oleh target audience kita adalah dengan merasakan “menjadi” user web site itu sendiri terlebih dahulu.

  15. Mas Wawan says:

    … nunggu komunikasi ala “Gudeg”, ala “Jangan bening..” dll.

  16. catur pw says:

    Kebetulan saya sedang baca:

    The Big Red Fez: How to Make Any Web Site Better by Seth Godin

    Menurut buku itu, pengunjung web diibaratkan seperti “monkey” yg hanya akan tertarik dengan “banana”

    Sebuah situs harus jelas dan gampang memperlihatkan “banana” ditiap halaman website, jika ternyata “banana”nya susah dicari, maka dipastikan “monkey” ini akan mencarinya ditempat lain, bisa langsung klik back, atau lebih parah lagi ketik halaman situs lain.

    Kalo “banana” mudah diketemukan, diharapkan pesan di web kita tersampaikan dengan baik, dan cepat atau lambat, pengunjung2 ini menjadi buyer (utk service/produk kita)

    kira2 begitu dari buku seth godin ini, yg saat ini masih dlm proses baca, insya Alloh buku ini bermanfaat bagi para dotcomers. Termasuk saya dlm mengembangkan http://www.tokohelm.com ke arah yg lebih baik. Mohon Do;a restunya dari mas Nukman dan kawan-kawan semua.

  17. Buku itu sudah lama sekali, edisi pertama terbit lima tahun lalu. Masih relevan nggak untuk masa kini? Coba mas Catur nulis resensi bukunya di sini kalau sudah selesai baca.

  18. @13 Wah terima kasih pak Nukman, ini lah advice yang saya tunggu, basically all advice diatas benar, next saya akan ubah lagi. salam.

  19. catur pw says:

    Alhamdulillah “Qatam” baca The Big Red Fez.

    IMHO mas Nukman,
    Buku ini sangat bagus untuk dibaca bagi siapa saja yg menginginkan perkembangan kearah yg lebih baik di websitenya yg skrg. Dan menurut saya, pendapat Seth Godin dibuku ini masih relevan dengan saat ini, dan dapat diterapkan dengan baik di website kita.

    Buku ini lebih membahas tentang kesalahan2 konten dan layout website yg sering terjadi, dimana kita seringkali “kurang efektif” dalam menyusun konten dan layout website kita, terlalu bias dan terlalu banyak hal2 yg “gak penting” di halaman web kita, jadi gak jarang pesan website tidak tersampaikan dengan baik ke target market.

    Kalaupun isi website kita tergolong banyak, kita hendaknya mampu menyusun sedemikian rupa untuk mengarahkan visitor ke tujuan utama website kita (subscription/sales/download/ etc.) Jadi harus diperjelas tanda-tandanya (banana) untuk mengarahkan para visitor web kita tadi.

    Contohnya pada halaman Amazon.com yg menjual Digicam Canon EOS 30D ini
    Dimana tujuan halaman web amazon.com ini adalah untuk menjual Kamera Canon EOS 30D, dan terlihat dengan jelas, “banana” yg disodorkan adalah kotak harga dan tombol add to shopping cart, yg didesign sedemikian rupa agar terlihat sangat menarik perhatian para visitor.

    Seth melalui buku ini menyarankan agar kita mampu memenuhi keinginan visitor dengan memposisikan diri “jika kita sebagai visitor/ calon customer”, bahwa yg kita inginkan adalah segala kemudahan untuk memperoleh yg kita cari baik itu berupa berita/jasa/produk yg disediakan oleh website tsb. Si calon customer gak akan mau repot, maunya cepet, mudah dan dilayani dari awal hingga akhir secara sempurna tidak ada cacat.

    Beberapa kali dia tegaskan, “Don’t make It easy for You(Website owner/web developer), Make It Easy For Me (customer)”

    Sebagai contohnya disini, ketika visitor dihadapkan kepada registration form, dia harus memilih negara asal dia, biasanya oleh web developer dibuat pull-down menu urut alfabet mulai dari Afghanistan -… Indonesia …- Zanzibar, kenapa tidak dibuat urutan pertama “Indonesia” pada saat visitor dari indonesia membuka halaman registrasi itu??

    Seth juga mewanti-wanti bahwa kita sebagai pemilik web seyogyanya selalu men-cek halaman2 web kita, jangan sampai ada error page, wrong page, wrong content, dll yg bisa membuat visitor enggan membeli atau bahkan juga enggan berkunjung lagi ke website kita.

    Isi buku ini masih America Centric (berdasarkan habits dan knowledge visitor america/west), jadi jikalau dotcomers yg memiliki target market indonesia berniat untuk menerapkan strategi “Banana” didalam buku ini, sekiranya kita harus menyesuaikan dengan Sifat karakter dan pengetahuan pengunjung web local/indonesia.

    Sekiranya begitu review dari saya mas, mohon maaf jika ada bahasa yg saya gunakan yg kurang jelas. Untuk lebih jelasnya, saya sarankan teman-teman untuk membaca sendiri Buku The Big Red Fez: How to Make Any Web Site Better by Seth Godin.

    Sukses 4 All!

    catur pw
    http://www.tokohelm.com

  20. Mas Wawan says:

    Kalo mas catur… mengikuti kaidah dari buku yg dianggap kuno oleh pak Nukman, kenapa Toko Helm nggak mengikuti cara2 Amazon dalam menampilkan product detailnya.

    Ehem…. itu Adsense+Adbrite di tokohelm.com kenapa nggak di buang aja, biar konversi pengunjung ke “action” beli lebih besar dari pada perhatiannya tertarik dengan iklan Adsense.

    Ato malah mungkin akan dianggap sebagai situs ala Sayur oleh Pak Nukman…seperti situsnya mas Taryono seratjati.com.

  21. catur pw says:

    @ Mas Wawan
    Setelah baca buku ini, saya jadi sadar kesalahan2 saya, dan berusaha untuk memperbaikinya, dan sekarang sedang dalam proses penyusunan strategy baru bagi web http://www.tokohelm.com
    Btw, saya tidak menganggap buku ini “kuno” dalam artian negatif.

    Karena bagi saya tidak ada istilah “kuno” bagi ilmu pengetahuan, hal ini akan memperkaya pengetahuan kita. Sehingga kita dapat belajar dan menuntun kita untuk lebih baik dari yg sekarang. ;)

    Sekali lagi, IMHO.

  22. itulah yang sering terjadi, bahwa strategi komunikasi pemasaran bukan dibuat sesuai dengan selera owner ataupun perusahaan tapi harus sesuai dengan “bahasa” konsumen. Jadi bila memang konsumennya suka dengerin dangdut, maka produk kita juga harus dikomunikasikan dengan dangdut. Bukan mentang2 kita gak suka dangdut, maka gak pakai dangdut.

    Makanya saya beranggapan bahwa perlu diberikan pengetahuan dasar tentang komunikasi dan pemasaran di bangku kuliah, meskipun itu jurusan engineering.

  23. Betul mas Andri. Paling tidak, ilmu dasar komunikasi dan pemasaran dimasukkan sebagai mata kuliah pilihan di jurusan non komunikasi, termasuk engineering. Saya perhatikan, salah satu masalah utama lulusan enginering di dunia kerja dan bisnis adalah komunikasi dan pemasaran. Sangat sulit mendapatkan lulusan engineering/MIPA yang memiliki kemampuan komunikasi dan pemasaran bagus seperti mas Andri.

  24. #20 dan #21

    Ad sense, adbride, iklan online dan sejenisnya adalah upaya-upaya kapitalisasi trafik. Tidak ada salahnya dengan hal tersebut. Namun, lalukanlah dengan cerdas.

    Coba perhatikan halaman Digicam Canon EOS 30D di Amazon.com yang dicontohkan mas Catur. Kalau di scroll ke bawah, akan ada banner-banner iklan lain yang tak ada hubungannya dengan produk yang dijual.Itulah upaya Amazon mendapat income tambahan dari iklan. Langkah ini pernah banyak dikritik karena akan membingungkan calon pembeli. Namun karena letakknya jauh di bawah, Amazon.com berhasil meminimalkan risiko membingungkan pembeli.

    Coba baca postingan lama saya berjudul: Menjiplak Amazon.com? Nehi!

  25. #19.
    Terima kasih resensi singkatnya mas Catur. Great!

  26. syaefulloh says:

    ini baru ngeblog… :D

  27. Mas Wawan says:

    … lah bang syaeful… kemana aja ? jadi postingan sebelumnya nggak dianggap nge-blog..?

  28. Pak Nukman ada contoh webstore dengan Shp Cart bikinan Virtual?

  29. Tidak ada. Untuk benchmark, coba lihat toko komputer Bhinneka.com atau toko buku Kutukutubuku.com.

    Dari sisi proses transaksi, Bhinneka lebih bagus: begitu masuk ke shopping cart, sama sekali tidak ada iklannya. Yang ada justru informasi aman berbelanja, jaminan garansi, keamanan pembayaran dan asuransi pengiriman.

  30. Andriko Perdana says:

    Halo Mas Nukman :)

    Mas nukman ini ex bossku di agrakom, ilmunya segudang banget dan ada satu kejadian yang sampai hari ini masih aku ingat secara karena kantorku yang sekarang hanya berbeda lantai dengan kantor Mxdxxxds. Waktu itu manajemen Mxdxxxds sedang kalap karena pemberitaan dxtxkcxm soal pimpinan mereka, saya dan rekan saya Dian Zahara terbengong2 karena dimarahi atas satu masalah yang tidak ada hubungannya dengan kerjasama kita dalam mengelola situs mereka. Mereka dengan nada marah meminta kami menghubungi mas nukman yang kala itu adalah atasan kami, agar datang ke kantor mereka. Selama menunggu kedatangan itu, tensi kemarahan mereka “tetap tinggi” dan membiarkan saya dan rekan saya terbengong bengong bingung di ruang meeting mereka. Tapi apa yang terjadi berikutnya membuat saya terkenang sampai sekarang. Begitu mas nukman datang dan menegur mereka, aroma kemarahan seketika hilang lenyap seperti tidak pernah terjadi apa-apa.Suasana langsung cair dan akrab yang membuat saya dan rekan saya bingung dan bengong, wah pakai ilmu apa mas nukman ini? Bisa membuat mereka jadi berubah sedrastis itu? Sampai sekarang sayapun masih belum tahu pakai ilmu komunikasi jenis apa meskipun saya pernah menimba ilmu PR di UI :) … Cukup datang, senyum , sapa dan masalah selesai.. :)

    Andriko Perdana
    IS System Analyst di
    Salah satu perusahaan rokok terkemuka di dunia dan no.1 di Indonesia.

  31. Mas Wawan says:

    pake ilmu… pelet penggoda aura kali :D kan pak Nukman pernah “mondok” waktu masih kuliah di UGM…!

    bercanda lho pak Nuk..!

  32. #30. Hi Andriko.
    Thanks sudah mampir ke gubug virtual ini ya.
    Kalau kasus di atas saya pakai ilmu mendengarkan. Mendengarkan, kata banyak orang, termasuk ilmu komunikasi paling susah.

    #31. Pelet penggoda aura ndak akan mempan mas Wawan. Lha wong yang marah cowo. Masak jeruk makan jeruk :P

  33. Dian Zahara says:

    Hi pak Nukman ku sayang…hehehehehehehehe….

    wah comment no 30 membawa daku kepada kenangan 5 tahun lalu . waktu masih berguru di Agrakom University, faculty of Nukman Luthfie. Kenapa disebut NL fac soalnya yg aku pelajari ya dia itu hehehehehe…..,,,,, baik, buruk semua aku serap , jatuh , bangun, belajar dari Nol sampe jadi bisa PD kaya sekarang…., dan iya setuju mengenai pesona nya terhadap client. Thanks ya pak…untuk semua panduannya, supportnya dan kepercayaan nya.

    sorry ini comment ga ada hub ama review nya.

  34. Ollie says:

    Pak Nukman… aku baru pulang nih ^^

  35. Hanzky says:

    Pak Nukman, analogy nya bagus sekali. Agak ironis memang, banyak company yang ingin punya website hanya karena mereka ingin punya presence di dunia maya. Malu doong, tetangga sebelah aja punya situs, masa’ saya nggak punya. Istilah kata begitu. Oleh karena itu, establishment mereka seringnya tidak mempunyai visi dan misi yang jelas, akhirnya target audience, content and goal nya juga menjadi simpang siur. Tanpa visi dan goal yang jelas, akhirnya yang terbangun adalah situs yang self-centric, padahal seperti yg pak Nukman sebut, sebuah situs harusnya dipersembahkan untuk pelanggan (user-centric). Ini adalah prinsip yang sangat dasar sekali, unfortunately banyak pemilik perusahaan yang cenderung ignorant untuk memahami prinsip ini.

  36. dagus says:

    #35
    jadi gimana dong . . bukannya itu masalah klasik, dan hampir di semua bidang, apalagi situs yang tergolong baru (di indonesia) lha wong bikin cp aja mereka banyak ngatur.
    di banyak forum2 jg banyak yang mengeluhkan hal2 seperti ini
    bagaimana cara membuat mereka mengerti?

  37. hanzky says:

    #35
    Bagaimana cara membuat mereka mengerti ? Naah this is the million dollar question. Menurut saya solusi nya ya meng-educate beliau beliau ini. Kita kan ngerti masalahnya dan tau solusinya, tp gimana pelaksanaannya. Kalo kita lihat Roger’s Model Innovation Adoption Curve. Saya yakin kita2 yang ada disini adalah either innovator, early adopter atau early majority. Nah golongan terakhir (Laggards) lah yang sebetulnya menjadi masalah. Pikirannya tradisionil, dan susah nya minta ampun buat mencoba hal2 baru. Unfortunately beliau2 ini kan yang sekarang menjadi petinggi2 perusahaan. Gimana caranya merubah pemikiran mereka yg highly resistance to change (memakai internet). Memang ini adalah masalah klasik. Gimana cara nya meng-educate para petinggi perusahaan ini. Gimana caranya merubah pemikiran mereka tentang internet. Gimana caranya membuat mereka aware dengan the power of Internet supaya bisa me-leverage kemampuan yg ditawarkan. Apa jadinya kalo si Boss (Laggard) minta dibikinin Web site oleh si programmer karyawannya (Early Adopter). Tentunya visi si Boss dengan si karyawan hampir pasti mis-match. (meningkatkan kemungkinan diterapkannya strategi komunikasi web ala sayur…hehe)

    Solusinya ? Ya edukasi ini. Memang agak susah mengeducate sesuatu yang belum mainstream ke kalangan ini. Makanya dibutuhkan pesistance dan passion yang tinggi. Kalo kita lihat Pak Nukman sudah berusaha melakukannya dengan cara out-reach dan menjadi advocate perubahan ini dengan aktivitas2 beliau seminar2 ke perusahaan2, pergi ke Aceh dsb. This is critical. Mudah2an Pak Nukman bisa menjadi Change Agent yang handal dan “preaching” nya diterima di kalangan ini. Tidaklah gampang memang, but its doable.

    Regards,
    Hanzky
    http://www.fashionesedaily.com

  38. Joko says:

    Setuju Hanzky. Dimana ada inovasi pasti dilema diatas muncul. Permasalahannya memang complex dan analisa diatas kurang lebih menjadi dasar dari permasalahan yang lainnya. Apalagi kurang ada dukungan pemerintah dan praktis infrastruktur seadanya. Wong ya internet di Indonesia sebetulnya dah ada sejak lama. Jadi nggak bisa dibilang baru. Cuman penerapannya masih sangat terbatas dan banyak orang yang salah kaprah mengikuti trend, tidak memiliki value proposition yang jelas. Semua perusahaan kepingin punya website, semua kepingin punya portal, wong tetangga saya yang jualan Sejadah saja kepingin buka toko online. Edaaan! Balik lagi ke topik semula. Buka portal, toko online ndak apa apa asal tujuan, target market, eksekusinya jelas dan kita harus mikirnya sebagai long term investment. Bukan situs yang 1-2 taun kedepan hidup segan, mati pun enggan (sekarat). Mudah2an Pak Nurman bisa memberikan pencerahan agar ini tidak terjadi dengan situs member2 disini. Ma\’af kalo ada kesalahan kata kata. Matur Nuwun.

  39. [...] Terakhir, mencari solusi terhadap “project” yang diberikan, bagaimana mencari cara komunikasi web (ala sayur) yang tepat bagi sang client. Saya rasa yang satu ini nggak begitu menarik, karena kedua-duanya menawarkan video content based solution. Kreatifnya sih OK, tapi solusinya?. [...]

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Kurnia Septa: - wah, selamat ya

  • mirza: - Saya dulu pernah magang di Virtual. Selamat ulang tahun ke-9! Mudah2an...

  • Zulfikar Akbar: - Tulisan yang cukup menarik. Memang soal mendirikan komunitas itu lebih karena...

  • samehadaku: - klo untuk “Direct Connect from Google Search” bagaimana caranya mas?

  • hendra andiarto: - Met Millad untuk Virtual Consulting. semoga tetap mewarnai dunia marketing...

  • sony set: - sugeng tanggap warsa…tetap semangat mbak Iim, Mas Nukman…tetap mewarnai...

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting