Jika biasanya sebuah negara mempromosikan dirinya dengan cara yang sophisticated, menggambarkan keindahan alam atau ramah tamah penduduknya, lain hal nya dengan Israel. Iklan yang dibuat oleh sejumlah orang yang anti isu politik ini sangat jauh dari kesan tersebut. Di iklan ini diperlihatkan dua orang laki laki yang sedang duduk-duduk di pantai sambil menikmati ‘pemandangan indah’ tubuh-tubuh sexy perempuan israel yang menggoda. Dari mulut mereka terlontar kalimat kalimat seperti ‘Holly shit’, ‘Holly jesus’, ‘holly fuck’ dan ‘holly mother of god’. Di ujung commercial, keluarlah tagline ‘Israel. No wonder they call it the holly land’.
Terlepas secara content (bisa jadi) kita tidak setuju, tapi paling tidak Iklan yang disebar dalam bentuk viral ini bisa dicontoh dalam keunikannya menggali point of view yang berbeda dalam mengkomunikasikan sebuah negara. Point of view yang tidak paritas.
Review viral selengkapnya bisa dilihat disini http://www.holyvirals.org/
Pelajaran dari Israel.
Contoh yang diberikan Iim dan Adhit mestinya bisa mengilhami Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk membuat kampanye yang tidak melulu menyajikan visual pemandangan alam, tarian maupun janji keamanan. Perkembangan Informasi dan perang propaganda tak bisa hanya di counter dengan Visualisasi “Mooi Indie”, sementara bom-bom yang bisa kapan saja meledak seolah menjadi teror bagi rubuhnya bangunan “citra aman” yang selalu diteriakan.
Iklan Anti Indonesia yang dilakukan Portugal menyangkut Timor-Timur yang sangat gencar di tahun 2000 sangat banyak mempengaruhi pendapat umum masyarakat Eropa. Entah tak mengabaikan, atau memang tidak tahu… Kementrian Luar Negeri tak bereaksi pada kampanye tersebut.
catatan :
Iklan Departemen Pariwisata Indonesia di Majalah TIME awal tahun ini justru memperlihat pemandangan alam dan Hotel NOVOTEL dengan jelas.
Kita ganti saja kampanye membujuk turis mancanegara dengan “Tantangan”, Siapa berani ke Indonesia?!!! Mungkin turis malah datang.
Iim dan Adhit membuka mata kita.
Hi iwan. Thx for coming to my blog.
Sepertinya Departemen Pariwisata Indonesia memang belum memiliki pandangan yang strategis dan taktis tentang cara menjual Indonesia sebagai aset wisata.
Untuk menjual, pastinya pertama yg harus dibenahi adalah produknya. layak jual atau ngga? pariwisata kan bukan sekedar punya aset wisata yg bagus tapi juga terkait dengan kemudahan kunjungan (birokrasi), kesiapan layanan, pengelolaan aset wisata dll.
Setelah produk siap, baru komunikasi dijalankan, sehingga kita terhindar dari kesan ‘over promise under deliver’ seperti iklan iklan pariwisata Indonesia selama ini. Tidak berpijak pada kenyataan.
Jika produk tidak atau lama untuk membenahi? ya at least komunikasinya harus mencari angle yang berbeda. Jika selama ini keamanan menjadi isu utama, mungkin realita ini bisa dibalik menjadi : mati bisa dimana saja. Come to indonesia sebelum Anda menyesal
wah. baru tau nih ada blog spt ini..
sebagai org teknis yg lagi berkarir jadi pedagang kecil2an, saya benar2 terbantu
tx berat !
RMZ,
Alhamdullilah jika bermanfaat. Blog ini dibuat memang sebagai Sarana pembelajaran untuk semua orang. Terimakasih.