Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Flash Intro Tetap Saja Dibenci.

May 1, 2007
Oleh Nukman Luthfie

Empat hari lalu saya mendapat surel dari Surabaya yang menanyakan apakah tulisan mengenai Flash intro pada tahun lalu masih relevan pada tahun ini. Ini dia surelnya: Saya nih baru2 aja di-”paksa” untuk mendesain situs dengan flash intro. Saya kemudian mereferensikan tulisan pak Nukman ttg Flash intro. Mengingat itu tulisan juni 2006 dan rata2 artikel diluar juga ditulis di tahun 2006, saya cuma mau tau aja pendapat pak Nukman, yakni setelah infrastruktur Internet di Indonesia kian membaik dengan hadirnya 3G dan Broadband acces macam Speedy, apakan flash Intro masih di benci oleh audience?

Mengutip hasil survei, sebagian besar pengguna Internet memang membenci flash intro. Dari perdebatan di postingan tersebut, saya paham, masih banyak yang kurang mengerti makna hasil riset tersebut. Celakanya, yang kurang paham justru kebanyakan para developer, programmer atau desainer. Orang-orang komunikasi biasanya paham.

Maka sekali lagi saya bahas hal ini. Dan saya lengkapi hasil riset tersebut dengan melakukan interview dengan pengguna Internet di Indonesia untuk mendapatkan insight lokalnya.

70% pengunjung pergi tanpa sempat melihat apa-apa.

Yang membuat kebanyakan pengunjung membenci flash bukan HANYA soal infrastruktur. Memang betul, flash intro, juga desain-desain lain berbasis flash, cenderung memprovokasi user dengan animasi-animasi yang indah dan canggih, namun dengan risiko ukuran file yang besar. Otomatis, kebanyakan flash intro dan desain web berbasis flash, lambat diakses di sini. Hal ini yang membuat pengunjung frustrasi. Tidak heran jika kita bedah statistik kunjungannya, maka akan terlihat bahwa lebih dari 70% pengunjung hanya sempat berkunjung di bawah 30 detik. Apa artinya? Tujuh dari 10 pengunjung yang datang, segera hengkang dari situs tersebut bahkan sebelum situs tersebut muncul lengkap di layar komputernya!

Mengunjungi website gratisan kok harus membayar.

Namun, hal utama yang membuat pengunjung benci flash intro adalah hambatan untuk mendapatkan informasi utama. Untuk memahami hal ini, saya perlu sebutkan lagi definisi flash intro. Mahkluk yang satu ini adalah sebuan animasi (bisa berbasis flash bisa juga gif animation atau yang lain), sebagai SATU-SATU-nya pintu gerbang yang harus dilihat pengunjung sebelum memasuki sebuah situs web. Intro tersebut bisa diibaratkan karcis yang harus dilihat oleh pengunjung sebelum masuk ke situs tersebut. Kalau kita baru pertama kali mengunjungi situs tersebut sih bisa jadi tidak masalah (atau malah senang) dengan intro tersebut. Tapi kalau kita berkunjung kedua kalinya, dan harus melihat intro itu lagi, pasti merasa kurang nyaman. Biasanya, yang kita lalukan adalah pencet menu skip intro. Namun, kalau kali ketiga pengunjung datang, biasanya sudah mual-mual melihat intro tersebut.

Mengapa mesti mengusir tamu setelah capek mengundangnya?

Celakanya, yang punya hobi membuat flash intro justru situs korporat. Situs jenis ini dibuat susah payah dengan tujuan mengundang sebanyak mungkin pengunjung yang menjadi target audiencenya, mengharapkan agar para pengunjung betah berlama-lama di situsnya, bahkan berusaha sekuat tenaga agar mereka mau berkunjung secara rutin.

Namun gara-gara memaksakan flash intro ini, pemilik situs korporat tidak sadar bahwa mereka langsung mengusir tamu yang mereka undang sendiri hanya dalam tempo 30 detik!

Kesimpulannya:

Meski infrastruktur internet sudah bukan masalah, flash intro tetap saja dibenci sebagian besar pengunjung.

Tautan:

Kok Masih Bandel Menggunakan Flash Intro!

47 Responses to “Flash Intro Tetap Saja Dibenci.”

  1. galih says:

    Setuju pak nukman! Content is still the king. Apalagi buat pengguna indonesia yang rata-rata fakir bandwidth dan biaya internet yang masih mahal, flash intro adalah sampah yang menjengkelkan. Desain bagus, bukan berarti hanya desain yang wah, tetapi bagaimana membuat mata pengunjung nyaman dan betah di situs tersebut.

  2. ufan says:

    wah sip pak… sekarang punya “senjata” up to date saya hahahaaha :)
    makasih lo pak

  3. Niko says:

    setuju sekali, apalagi di indo kan masih banyak yg pake dial up, tunggu 5-6 detik gak keluar, ya tinggal klik tanda silang di kanan atas =)
    pak nukman, bisa review web saya di http://www.kiosdvd.com? memang masih banyak yg harus diperbaiki, tapi akapah isinya sudah cukup informatif?

    rgds,
    Niko

  4. Andy Santoso says:

    hmmm… kalau menurut pendapat saya, untuk site coorporate memang tidak perlu, atau silahkan dikasih button SKIP.

    Tapi bukan berarti flash / flash intro tidak cocok untuk semua website, karena kita tahu target audience yang berbeda internet behaviornya juga berbeda, apalagi kalo didukung internet connection yang “whusss whuss” seperti diluar negeri.

    Contohnya untuk anak muda, saat mereka masuk ke adidas.com saya optimis mereka menyukai flash / video David Beckham dengan konsep “Imposible is Nothing”nya.

    Atau kalau masuk ke YouTube.com saya juga optimis mereka rela “menunggu” hasil streamingnya selesai dari website yang isinya hanya berjuta-juta video clip, meskipun di Indonesia. :)

  5. mr.bink says:

    Flash Intro memang menyebalkan, apalagi kalao gak dikasih skip intronya :(
    Yang lebih baik mungkin secara default adalah versi HTML, kemudian disitu dikasih link opsi ke Flash version..

  6. Nukman says:

    #4.
    Yang di adidas itu bukan flash intro. Itu namanya embedded flash. Coba baca lagi definisi flash intro di atas.

    Sama halnya dengan Youtube. Tidak ada flash intronya.

  7. ginanjar says:

    btw.. kalau http://www.telkomspeedy.com itu karyanya Virtual Media bukan pak Nukman ?.. kok pake flash sih…

  8. Nukman says:

    Bukan mas.
    Nah, Telkomspeedy yang hari ini saya lihat itu salah satu contoh yang menggunakan flash intro.

  9. emang kayaknya sampe sekarang masih belum ada institusi pendidikan yang mengajarkan dunia internet. baik tentang designing, programming, dan marketing.

    semua kampus Informatika kok keliatannya lebih mengarah ke arah programming offline. dan sementara untuk institusi design, juga masih ke arah offline.

    jadinya ya gini deh dunia per-internet-an indonesia :p

    btw, apa udah ada ya institusi yang memfokuskan diri di bidang online?

  10. Andy Santoso says:

    @Mr Nukman > ehm, maaf saya tidak memberikan detilsnya, maksud saya coba masuk ke adidas.com, pilih sub menunya, misal performance > football, nanti akan kebuka windows baru, dan ada button Enter Site, nah disana kita diharuskan menunggu loading sampai 100%

    Kalau contoh YouTube memang bukan flash intronya yang saya maksud, tapi saya mengarah ke internet behaviornya, alias kerelaan menunggu informasi sesuatu dari internet, baik itu flash, video, ataupun hal lain tergantung audiencenya.

    Thanks penjelasannya.

  11. avianto says:

    Dari dulu sampai sekarang saya selalu melihat bahwa Flash Intro adalah bentuk (maaf) masturbasi dari pembuat maupun pemilik website. Jadi kegunaannya hanya untuk pemuasan ego saja.

    Secara content, struktur bahkan kegunaan tidak ada gunanya kecuali sebagai sarana “showoff” atau pamer.

    Nah karena gunanya sebagai sarana pamer, kadangkala flash intro cocok untuk situs-situs yang memang ingin “pameran” skillnya dan kembali lagi kegunaannya untuk orang lain tidak ada – hanya bermanfaat untuk orang yang ‘memamerkan’ diri.

    PS: Flash intro yang dimaksud adalah flash animasi diawal masuk situs yang 100% tidak ada manfaatnya selain bergerak-gerak tanpa ada interaksi sama sekali. Ibarat menonton iklan tivi tapi tanpa kemampuan pindah channel. Situs adidas.com tidak termasuk hal ini karena setelah 100% loaded, flash di situs tersebut memiliki interaktivitas.

  12. Nukman says:

    Terima kasih Avi.
    Ini komentar yang saya tunggu-tunggu.
    Dan saya setuju 100%.

  13. Nukman says:

    # 10.
    Mas Andi, saya sudah masuk ke sub menu sesuai dengan saran mas Andi. Tapi hasilnya sama saja. Itu bukan flash intro. Untuk mendapat gambaran lebih jelas mengenai flash intro, silahkan baca penjelasan Avianti di komentar no. 11.

    Yang terjadi di Adidas.com, termasuk sub-sub menunya adalah desain web berbasis full-flash. Ini sama saja, misalnya, dengan situs viral New Vios di Intelligent-Lab

  14. Andy Santoso says:

    @Mr. Nukman>Sorry, nampaknya memang saya salah tangkap dan ngasih contoh, terima kasih untuk detilsnya :)

    Lalu saya jadi bertanya, bagaimana dengan flash intro di website game online dimana audiencenya adalah gamer mania yang mungkin senang melihat efek2 flash dari game favoritenya, terlebih lagi flash intronya selalu di update karena story gamenya memang terus berkembang?

  15. saya juga termasuk yang gak setuju dengan penggunaan “flash intro” ini. Jaman dulu ketika masih jadi tukang jahit web, saya mesti beri penjelasan setengah mati buat para pemesan web, syukurnya banyak yang mau mengerti. Bahkan menurutku situs corporate tidak perlu pake halaman pembuka, even itu cuma gambar jpg/gif dengan button “Indonesian Version” dan “English version”, lebih baik langsung masuk ke halaman yang ada contentnya sehingga pengunjung ketika pertama kali buka situs corporate akan langsung bilan”ooo, ternyata ini perusahaan yang bergerak di bidang ini to”

    ps : Jelas flash intro beda banget dengan full flash site.

  16. Hery says:

    Karena saya juga masih kurang bisa dengan membuat flash, setiap saya konsep website tidak pernah pakai flash, namun saya cenderung pakai gambar yang modern, soft dan cerah. Saya udah berapa kali gonta-ganti header website saya.

  17. Jadi Tampilan depan dari situs telkomspeedy itu flash intro ya pak .

    Tuh , speedy , tolong diperbaiki yach. Biar lebih oke.
    Speedy cukup cepat dan bermanfaat untuk kalangan corporate dan rumahan kok . Salam hangat dari ZoomPromosi.com

  18. MODES Arianto says:

    Saya sangat setuju apa yang disebutkan oleh Bung andi santoso.
    Dalam hal ini, website dengan tampilan muka flash, ada 2 sudut pandang.

    1. Flash tidak bermasalah digunakan, dengan menilik dan meninjau target customer kita. Seperti yang beliau katakan di situs adidas, cukup menarik dengan Video Intronya Si david BCK.

    2. Namun dari sisi marketing dan pengenalan kepada search engine, kayaknya nggak banget sihh.
    sampai saat ini the big Google belum pernah saya dengar beritanya kalo dia bersahabat dalam soal pengindekan flash.

    Sudah seyogyanyanya kita tidak memungkiri itu, wong kita juga hanya sebagai pengguna.

    Gimana kalo flash dijadikian optional aja, maksudnya flash diletakan dalam additional page aja. Jadi kita tetep mengacu pada konten yang berbobot

    Salam Sukses
    No pay no gain

  19. Pogung177 says:

    wah..rame lagi deh…
    Setelah vakum nggak ada postingan baru beberapa minggu, sekali posting langsung…”gemruyuk” yang komen.

    Quote: “Celakanya, yang kurang paham justru kebanyakan para developer, programmer atau desainer. Orang-orang komunikasi biasanya paham.

    Lah ini pak yg kurang ak mengerti, seharusnya yang kurang paham itu pihak korporatnya ato pemilik/pemesan situs yg ber-flash.

    Kalo developer, programmer, designer lebih tahu masalah trend, kapan harus menggunkan flash kapan nggak.
    Bahkan ke-3(developer, programmer, designer) lebih paham berkomunikasi dengan media yg di buat.
    Kalo semua menolak menggunakan flash tentunya Macromedia sudah bangkrut beberapa tahun yang lalu.

    Lah yg jadi pertanyaan orang komunikasi yg mana? Pihak marketingkah ato yah ke-3 itu.

    Kalo orang komunikasi itu user, saya rasa tidak.

  20. Andy Santoso says:

    @pogung… banyak case pihak korporat / pemilik / pemesan situs “ngotot” maunya dikasih intro flash meski sudah dijelaskan manfaat dan kerugiannya :)

    Celakanya kadang team developernya “lupa” akan faktor2 penting seperti target audience, objectifnya website tersebut, dsb.

    Ditambah lagi orang marketingnya yang hanya “pokoknya menjual” dan “putus” setelah dapet deal.

    *Saya ngomong diatas karena saya sales, saya lagi kejadian nih dapet “team creative” yang ngotot, saya marketingnya dan kebetulan mereka tidak ingin saya memberikan “penjelasan” apapun terhadap client dan memaksa saya “hanya menjual”. sebel aku… hahaha.

  21. Pogung177 says:

    @Andy….. setuju

    Karena semua punya idealis sendiri2

    Marketing: dah..diam ak yang cari tender kamu(web desiner+web programmer) buat aja yang bagus
    Web Designer: a…lah marketing banyak ngomong, gak bisa grafis aja sok, nggak ada gw web nggak bakalan menarik
    Web Programmer: dua..duanya sama aja, rewel mulu. Nggak ada gw juga web nggak bisa online transaksi, kirim email, gak bisa submit/update kontent…bla…bla

    Itulah kenyataannya….!!

  22. Nukman says:

    # 19.

    Maksud saya adalah kurang paham menerjemahkan hasil riset yang saya sebut di atas. Hampir semua developer, designer atau programmer menafsiran, user benci flash karena masalah donwload dan infrastuktur.  Padahal hasil riset tidak menunjuk infrastruktur sebagai penyebabnya. Biang keladinya adalah: flash intro menghalangi user untuk mendapatkan informasi utama yang dibutuhkan. Mereka yang memiliki ilmu komunikasi langsung paham hal ini dan tidak menghubungkan dengan download lambat atau infrastruktur.

  23. Nukman says:

    # 20 dan 21.

    Semua itu tergantung pada manajemennya. Kalau tiap orang dibiarkan bekerja sendiri tanpa arahan manajemen yang jelas, ya seperti itulah yang akan terjadi.

  24. tentang ini jadi mengingatkan saya pada project barusan ini. alhamdulillah kemarin DheZign.com dapat orderan untuk bikin situs berita semacam detik.com, karena responsibilitynya cuman di bagian development website, ya kita kerjain deh.

    setelah jadi desainnya (keren banget loh, pokoknya bener bener style web 2.0 banget), client minta dirubah. setelah jadi lagi, minta dirubah lagi. terus terusan…. sampe akhirnya client bilang, “dijadiin mirip detik aja, banyakin warna warna, biru, ijo. dll. teksnya dibesarin aja ukurannya, pake monotype corsiva semuanya. trus JANGAN SAMPE ADA WARNA PUTIH :o kalo ada putih tumpukin aja dengan warna lain supaya warna warni…”

    saya melongo :o …………

    ini serius ta? padahal udah dijelasin desain yang efektif dan bagus itu seperti apa. lha kok…….

    eh… malah jadi curhat. sebel banget seh :p dah kadung kontrak juga, ya udah terpaksa menyelesaikan dan kliatannya jadinya hancur lebur tuh web (mungkin sekelas detik (padahal content sudah pasti kalah T-T)

    kan jadi malu juga ngakuin kalo itu hasil karya kami :p

  25. tentang ini jadi mengingatkan saya pada project barusan ini. alhamdulillah kemarin DheZign.com dapat orderan untuk bikin situs berita semacam detik.com, karena responsibilitynya cuman di bagian development website, ya kita kerjain deh.

    setelah jadi desainnya (keren banget loh, pokoknya bener bener style web 2.0 banget), client minta dirubah. setelah jadi lagi, minta dirubah lagi. terus terusan…. sampe akhirnya client bilang, “dijadiin mirip detik aja, banyakin warna warna, biru, ijo. dll. teksnya dibesarin aja ukurannya, pake monotype corsiva semuanya. trus JANGAN SAMPE ADA WARNA PUTIH :o kalo ada putih tumpukin aja dengan warna lain supaya warna warni…”

    saya melongo :o …………

    ini serius ta? padahal udah dijelasin desain yang efektif dan bagus itu seperti apa. lha kok…….

    eh… malah jadi curhat. sebel banget seh :p dah kadung kontrak juga, ya udah terpaksa menyelesaikan dan kliatannya jadinya hancur lebur tuh web (mungkin sekelas detik (padahal content sudah pasti kalah T-T)

    kan jadi malu juga ngakuin kalo itu hasil karya kami :p
    apa emang kebanyakan client di indo ‘buta internet’ yah??

  26. #25.
    “apa emang kebanyakan client di indo ‘buta internet’ yah??”

    Di YogYES, kami meyebutnya sebagai “beda kasta”. Hahaha. Sabar aja, Kang. Lha wong kita ini cuma “buruh digital” koq… :D

  27. Rizky says:

    ada ungkapan “an image can speak a thousand words”. lupa denger darimana :D

    klo flash intronya bisa dibikin efektip dia malah bisa buat gantiin sebagian besar konten promosional yg ada di website bersangkutan. ngurangin clutter gitu loh…

    tp klo ditanya intro yg efektif kyk gimana ya tergantung :P

    lagian klo buat pamer juga sah-sah aja. tp untuk seterusnya mendingan dipasangin cookie supaya user yg udah pernah mampir ga perlu liat intro-nya berulang-ulang.

  28. Nukman says:

    #25. Apa yang terjadi itu adalah kisah klasik yang muncul sejak bertahun-tahun lalu. Rasanya akan selalu terjadi. Moga2 saja prosentasenya turun dari tahun ke tahun

  29. iya nih :) tapi untung juga sih ada ‘beda KASTA’ semacam ini. kalo saya dan pak Agus mungkin emang cuman buruh digital kelasnya… kapan ya bisa jadi konsultan digital kayak pak Nukman…

    btw, emang bapak masih mengalami hal seperti itu pak? maksud saya client ‘bandel’ :p

  30. Dimana-mana dan di industri apapun urusan meyakinkan teman kantor, bos dan juga client adalah masalah “bahasa”. Kita mesti ngomong pake perspektif lawan bicara kita untuk memasukkan ide kita agar diterima. Gak usah masalah web, masalah ide perbaikan internal aja memerlukan hal tersebut.

    Jadi kalo vendor ngomongin masalah “teknologi” sementara client ngomongin keuntungan alias “bottom line”, maka ganyambung. Mestinya si vendor ngomong bagaimana mencapai peningkatan “bottom line” dengan teknologi, baru deh nyambung.

  31. Nukman says:

    Nah, ada resep bagus dari mas Andri. :)

  32. Pitra says:

    Kalau kebutuhannya utk corporate website, gak usahlah pake flash intro.. toh yg penting, konten teksnya.. Emang banyak client yg masih perlu dieducate soal ini. Lagi pula, website corporate kan sangat penting utk bisa diindeks Google yg sangat amat peduli teks (dan anti flash).

    Beda kebutuhannya kalo flash ini utk website brand. Kadang, utk bisa mendapatkan feel dari brand tersebut, kebutuhan flash menjadi mutlak. Mau sitenya adidas, absolut, nike, axe, udah pasti butuh flash utk bantu bangun feel n experiencenya. Namun, catatan nih.. semua site itu ada di luar negeri yg tiap usernya bisa punya bandwidth tinggi.

    Kalo di Indo, ya hindarilah flash sebisa mungkin. Cari cara utk bisa bangun feel n experience dari brand dengan seminimum mungkin flash

  33. kangen nih sama tulisanannya pak Nukman :)

    apa sedang sibuk pa?

  34. kw says:

    saya juga benci flash intro, kelamaan, selain ngeloadnya, juga harus ngeklik lagi.
    eniwe, pak nukman, bagi linknya ya.
    pasti boleh kan, jadi langsung aku pasang ni. :)

  35. Kalo menurut saya, Flash Intro juga tidak buruk2 banget, kenapa ? untuk beberapa Perusahaan Multimedia Flash bisa jadi alternatif bagi Desain situs mereka yang notabene memang butuh tampilan multimedia yang ‘wah’. Yang penting adalah bagaimana mendesain flash intro ini agar tidak mengganggu load process suatu situs dan mencari content didalamnya, sekarang klo mereka hosting di Indonesia dan kita ngebrowse pake link IIX pasti juga tidak akan merasa terganggu bukan ? semoga saja link IIX kita jadi semakin maju dan meluas, Hidup Internet dan Local Content Indonesia!

  36. eddy says:

    Kalo pendapat saya, boleh aja pake flash intro dengan catatan animasi-nya harus bagus dan bikin kita bilang WOW! Kalau cuma biasa-biasa ajah atau cuma kilasan fade-in fade-out photo mending ngga usah deh…bener kata Pak Nukman…bikin mual-mual, udah nunggu lama cuma liat animasi standar :D

    http://www.titikbalik.net

  37. modesarianto says:

    Kerugian menggunakan Flash Intro
    1. Crawle Jadi males malesan
    2. Lebih banyak penggunaan bandwith hosting
    3. Customer pada kabur… karena berat and lama nungguloading
    4. Kalo ada customer yang disable flash di brosernya ?
    5. ….++++

    Keuntungan :
    1. tampilan sedikit cantik
    2. belum nemu keuntungan yang lainya

  38. Indra says:

    Yang paling menyebalkan, kalau link entry ke web yang bersangkutan nempel di flash intronya. Sementara kunjungan ke situs tersebut wajib dilakukan (misal cek penggunaan quota pada TelkomSpeedy). Soal ini, saya sempat sangat berprasangka (buruk) dengan yang dilakukan telkomspeedy.com. sekian kb flash X sekian pengguna X sejumlah pemakaian =???

    Update:
    Agar nggak dianggap menjelek-jelekkan, saya cek telkomspeedy.com (biasanya saya pasrah saja pada tagihan yang datang), eh…mungkin baca juga postingan bung Nukman, sekarang ini sudah ada pilihan mau pakai flash atau tidak.

  39. Kalau kasus ini saya sangat setuju untuk tidak digunakan dalam sebuah situs, karena akan sangat mengganggu. Mending memanfaatkan form optin, betul tidak bang ? :)

  40. BudiTyas says:

    Bagaimana jika yg ditarget memang yang 30%?. Bagaimana jika itu memang segmennya? Semua yang memberatkan mungkin ada maksudnya. Seperti harrods, atau toko2 exclusive lain contohnya. Jika memang tertarik dan butuh, maka mengikuti aturan empunya web bisa jadi adalah keharusan.

    Untuk yg tdk terlalu butuh untuk masuk, close browser segera juga tidak mengapa kok. Itu tandanya si pengunjung bukan 30% yang ditarget. Nda bole protes, seleb masuk harods ‘nyeker’ juga ga boleh masuk kok.

  41. BudiTyas says:

    Menurut saya, flash intro memang didesain untuk membentuk eksklusivitas, biasanya untuk company profile atau semacamnya. Company profile biasanya statis dan tidak untuk dikunjungi secara reguler. Tidak perlu dicrawl oleh mesin pencari krn biasanya ketulis di kartu-nama2 r media lain. Di optimize juga ga manfaat wong statis. Dikunjungi sekali2 (bahkan mungkin emang cukup 1 kali), ..so mengapa harus diformat kayak situs berita?…klo ga oke skalian ntar malah dibilang “kok cuman kayak situs berita?…pasaran banget”,..nah lho, repot kan?

  42. made yudhi says:

    @BudiTyas. bener juga ya. anda bisa memmandang permasalahan dari sudut yang berbeda. jadi penggunaannya (flash) emang diperlukan, untuk beberapa kasus.
    di dadoo Studio, kami menyebutnya, teknologi yang mengerti anda.

  43. dagus says:

    suatu saat flash tidak akan dibenci karena peningkatan abbility interaktif yang lebih luas kelak akan menjadi tuntutan konsumen, seiring dengan koneksi yang lebih baik tentunya. dan teknologi flash tidak akan tinggal diam :P , designer harus paham benar scripting flash untuk menghasilkan output yang lebih compact, gak asal motion.
    dibeberapa hal saya membenci kemampuan finansial saya yang tidak bisa membeli koneksi diatas rata-rata, padahal situs leoburnett sangat menarik, hehehe
    ato emang koneksi di indonesia masih tertinggal?

  44. dagus says:

    oya saya membaca ada juga istilah (maaf,hanya sekedar mengulang) masturbasi pembuat atau pemilik. tapi kok yang saya rasakan sebagai user kok justru senang dengan adanya flash intro, seperti masuk ke sebuah hotel berbintang, dan saya yakin saya tidak akan membayar sejumlah uang untuk tidur di lobby, tapi saya juga kurang senang dengan interior lobby yang seadanya.
    *’hey, buat apa kalian simpan lukisan mahal itu disitu?’ dan lukisan itu tetap tergantung disana*

  45. muchlis says:

    Wah jika saya hanya tertawa melihat tulisan ini…. karena flash itu adalah suatu sarana show off kebesaran sebuah perusahaan. Untuk alasan bahwa flash memerlukan kecepatan akses yg tinggi, memang benar. Sekaligus flash membutuhkan komputer requirement yang tinggi juga apalagi jika sudah digabung dengan 3D, dan ini sudah pasti dimiliki perusahaan2 besar, investor besar yang menjadi target pemilik website. Belum pernah lihat perusahaan/orang pribadi yang berada didaerah bonafit menggunakan koneksi telkomnet instant, atau jangan2 anda membuka web di warnet. Jika anda tidak bisa memainkan flash berarti ada termasuk orang2 yang tidak bonafit dan anda memang bukan target kami. Pernah lihat website Donald Trump ? Jika anda tidak bisa membukanya, memang anda bukan target yang dibutuhkan seorang Trump. Karena anda pasti tidak mampu bermain di daerah Trump. Cukup masuk akal bukan ? Orang yang tidak haus dengan koneksifitas mobile tinggi, maka bisa dipastikan ia bukanlah orang yang berfikir bahwa “WAKTU ITU ADALAH UANG”. Berapa besar size flash untuk web http://www.trumpdubai.com ? 2.1 MB, dan saya membuka dalam 15 detik. Dan saya sangat puas menunggu 15 detik untuk melihat intro dan 3D dari trump dubai tersebut !!! Jika anda belum berhasil membukanya, ingatlah bahwa anda belum mampu bermain di daerah itu ! Untuk web ini saya membuka hanya 1 detik…. tapi tidak ada sesuatu yg istimewa kecuali tulisan kontroversial di atas. Sehabis saya menutup web ini, saya lupa apa nama domain web yg baru saya buka :)

  46. garten says:

    Flash intro hanya akan diapresiasi jika penggunaannya tepat sesuai tujuannya. Untuk website trumpdubai, wajar saja jika Flash digunakan secara maksimal. Itu adalah website untuk properti berkelas tinggi milik seorang konglomerat tingkat dunia.

    Saya yakin banyak alasan yang bagus kenapa mereka memakai Flash yang berat, TIDAK HANYA sekedar untuk show off :)

    Mereka menggunakan Flash tidak hanya mempertimbangkan segi target audience, tapi juga user experience, teknologi, data, DANA dll.

    Ada website yang cocok memakai Flash intro, ada pula yang tidak.

    Dan terus terang saya setuju jika banyak orang yang membenci flash intro, karena koneksi mereka berbeda-beda dan mayoritas ingin melihat informasi di websitenya, BUKAN flash intronya. Karena itu mrk cenderung langsung skip atau close window jika merasa terintimidasi.

    Untuk hotel trumpdubai, mungkin user behavior seperti diatas bukan masalah besar, sepele saja. Tapi untuk website-website “kebanyakan”, itu adalah masalah besar.

    Hati-hati dalam menggunakan flash intro. People don’t hate flash, they hate the intro.

  47. dienudien says:

    lha kalo saya mo jualan animasi dari dulu nggak laku laku dari animasi film sampai animasi hp (flashlite)eh malah dapetnya piagam sama piala plus duit yg bisa buat isi perabot rumah, tetapi semua itu harus kita syukuri urusan duit alias bisnis ada prinsip masing2, mau bilang flash nggak bermutu monggo, mau bilang flash buat ajang pamer yah monggo yang penting yuk berkreasi untuk negeri kita tercinta, majukan web dari semua sisi isi dan budaya, nggak usah saling ini paling bagus dan lain lain yang penting semuanya ada tempatnya lak yo ngono tho…,( pengalaman pribadi selama 10 tahun di dunia web dan content. web itu luas mau flash, blog, corporate, portal, e commerce, dll semua bagus dan ada fansnya masing masing, ibarat makanan ada yang junkfood, fastfood, seafood, sampai sego kucing semua mempunyai rasa yang akhirnya bisa membuat kenyang sampai ketiduran.

    kesimpulannya, apapun rasanya bentuknya yang penting bisa berkarya dan berguna ujungnya dapet duit, sampean seneng seng gawe yo seneng, nek ra seneng di guwak wae… sip pak de

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih atas apresiasinya, semoga kampanyenya sukses!

  • Andi Primaretha: - Betul Mas Wahyu, saya juga selalu menganggap internet sebagai Universitas...

  • hdtv mount: - sangat menarik. saya sangat terinspirasi oleh tulisan anda. Tampaknya kampanye...

  • wahyu awaludin: - menarik, mas.. memang kita harus memilah-milah data supaya gak pusing sendiri....

  • Tonton: - setuju bangeeet, memang harus segala macam teknik marketing, harus juara. terimakasih,...

  • andina: - thanks infonya mas Andi

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting