Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Email dari Anggun: Jangan Hanya Terfokus pada Angka 18 Juta Pengguna Internet

July 26, 2006
Oleh Nukman Luthfie

Pekan lalu, saya diskusi dengan salah satu eksekutif menengah sebuah perusahaan besar di Indonesia. Ia mengeluhkan, betapa kecilnya perhatian manajemen puncak perusahaan terhadap media Internet. Perusahaan itu akan meluncurkan sebuah produk/jasa yang harus diakses via web, namun corporate web mereka sendiri tidak terurus dengan baik. Perusahaan tidak menyediakan anggaran yang cukup untuk strategi Internetnya, sekaligus tidak memikirkan manajemen e-bussinesnya dengan baik.

Suara sejenis itu sudah sering saya dengarkan dari banyak eksekutif lapis tengah — yang biasanya memegang jabatan Manager atau General Manager — perusahaan besar. Mereka sangat maklum karena bos-bos mereka berusia 40 tahunan ke atas dan kurang (tidak?) melek Internet. Nah, kebetulan hari ini ada komentar menarik dari Anggun Himawan pada tulisan saya berjudul Email dari Bangkok Mengenai Iklan Internet di Indonesia yang isinya hampir sama dengan suasana hati yang disampaikan beberapa eksekutif menengah di atas. Seperti komentar Pandu yang saya jadikan posting tersendiri, maka komentar Anggun pun saya muat khusus dalam tulisan ini. Terima kasih ya Anggun.

Silahkan disimak.

Pak Nukman, salam kenal ya…

Saya tertarik mengikuti perkembangan usaha rekan2 web agency untuk mendidik pasar supaya sadar thdp potensi internet sebagai media beriklan. Dulu ada Cyber Design Asia yang sempet bikin viral jenaka dengan pesan menggelitik, menyindir “kebodohan” orang Iklan yang blom percaya dgn internet (kira2 mirip banner Virus Communication-nya Mbak Iim). Sekarang ada blog-nya Pak Nukman & tulisan khusus Pak Pandu yang terus “memompa” semangat beriklan di internet. Salut.

Kalau saya perhatikan, kita terlalu banyak berkutat di atas kertas dengan angka-angka (18, 16, 11 juta pengguna) tanpa melihat faktor lain yang justru lebih besar mempengaruhi pertimbangan pemilik budget, diantaranya :

Pertama, bos-bos besar yang usianya di atas 40 tahun bukan “generasi internet”, mereka nggak punya pengalaman berinternet seperti anak2 muda yang masih merasakan keuntungan fasilitas friendster, flickr, blog, wikipedia, youtube, chat dsb. Tentu kita akan susah menjual kursi pijat kalau calon pembeli sama sekali nggak bisa membayangkan enaknya dipijat. Secara visual yang terlihat hanyalah kursi dengan tonjolan2 dan penggerak mekanis, alih-alih dipersepsi sebagai kursi nikmat, bisa jadi malah mirip kursi penyiksaan. Dalam situasi seperti ini, angka2 dan testimonial tidak cukup, harus ada sampel yang bisa melibatkan calon pembeli dalam pengalaman yang sama. Apalagi menjual iklan interaktif pasti banyak berurusan dengan faktor “WOW & AHA”.

Kedua, belum ada riset mendalam tentang kebiasaan pengguna (lagi-lagi bukan sekedar angka). Di Amerika dan Eropa, riset strategis sudah banyak dilakukan baik untuk pengembangan situs komersil (eStore) maupun pemerintahan dan pendidikan secara serius, makanya prediksi “behaviour” yang dilakukan konsultan kita banyak “copy-paste” dari data mereka ;P. Salah satu source cukup lengkap dan bagus ada di www.pewinternet.org, memuat hasil riset terhadap pengaruh internet dalam kehidupan orang Amerika, baik pada keluarga, komunitas, pekerjaan, pendidikan, kesehatan hingga politik.

3. Saya blom pernah menemukan ide iklan interaktif yang memang dahsyat dan unik, masih banyak berkutat seputar banner (plus beberapa micro-site). Kalau bicara banner, ada penelitian yang menunjukkan bahwa user secara selektif bisa memfilter matanya untuk “nyuekin” (skip) banner. Ditambah lagi, kantor2 yang memakai proxy biasanya mengaktifkan pilihan untuk mem-block banner, begitu juga individual browser. Kalau kita membuka Detik.com yang muncul adalah situs “compang-camping”, di sana sini bolong bannernya. Artinya = banner tidak efektif. Yang fair memang seperti saran Pak Pandu, hanya menagihkan kepada klien sejumlah banner yang telah di-klik, karena di internet jumlah “view” menjadi tidak relevan. Kembali ke soal ide iklan interaktif, kita masih menunggu karya Indonesia yang bisa menyaingi -misalnya- iklan2 AXE (www.axefeather.com, www.axeunlimited.co.in), sangat kreatif dan “mendebarkan”, hehehe.. silahkan dicoba.

Oiya, saya mau tanya, bagaimana dengan ajang Citra Pariwara, apakah sudah ada kategori penghargaan iklan interaktif/new media?

15 Responses to “Email dari Anggun: Jangan Hanya Terfokus pada Angka 18 Juta Pengguna Internet”

  1. enda says:

    Kalo buat saya jangan berparadigma beriklan di Internet, tapi menggunakan Internet sbg bagian dari marketing mix, yg punya keistimewaan jalur dua arah. Jangan melihat angka 10 juta sbg audiens, tapi liat sbg potensi pemberi masukan juga.

  2. Unik Sultan says:

    dari yang saya baca, sepertinya kembali ke jawaban klasik Pak, selalu kita terpentok pada kurangnya data riset. Mungkin virtual bisa mengembangkan bisnisnya sebagai penyedia jasa hasil riset, khususnya adv. online? hehehe..

    Anyway, adakah sharing lebih mendalam tentang bagaimana thailand bangun dari tidurnya?…

  3. Nukman says:

    Nah, itu ada mas Enda yang juga dari Bangkok. Ayo mas share di sini

  4. pandu says:

    Dear Pak Unik, saya coba jawab di blog saya saja yah, soalnya agak panjang. (www.newmediaisme.blogspot.com).

    Mas Enda apa kabar? Bantu saya mas, saya ingin membangun online advertising di Indonesia, mungkin mas enda bisa share juga.

    Regards
    Pandu

  5. Ufan says:

    saya kok jadi tertarik neh sama tantangan Anggun Himawan mengenai “blom pernah menemukan ide iklan interaktif yang memang dahsyat dan unik”

    kalo menurut para komenter disini iklan interaktif apa aja yang menurut anda semua menarik akhir2 ini??

  6. Unik Sultan says:

    Pak Pandu,
    saya sudah baca postingan di blog Anda. Menarik sekali ya. Buat yang mau berdiskusi lebih mendalam mengenai bisnis web spot ini mari mari…

    Untuk Ufan,

    betul! saya juga merasakan hal yang sama! kemarin satu harian saya surf itu iklan di Axe dan coba coba bandingkan dengan iklan iklan yang pernah saya lihat.

    Sebenarnya materinya cukup unik (yang dibuat Axe) dan konsepnya kuat dengan axe facultynya. Namun saya pikir yang dibahas disini bukan maslah materi iklannya ya?
    Tapi mengenai satu ide dimana ada page, khusus hanya memuat iklan satu company dan itu downlodable, bisa dinikmati oleh semua orang, dimana saja kapan saja, sesuai dengan sifat iklan on net, forever and ever! Ingat iklan lewat podcast?. Itu saya rasa yang sedang booming di “luar sana”.

    kalau di Indonesia, saya dengar dan saya simak di beberapa milist marketing, di Indonesia belum bisa diterapkan, karena..ummm…saya punya ipod aja nggak :D hehehe…itu juga yang harus video ya…

    atau mungkin ada yang bisa menambahkan?

  7. budiyanto_02 says:

    Sebenarnya data statistik meskipun validitasnya masih perlu banyak dikritisi, namun inilah yang dilihat oleh para pemegang keputusan di atas perusahaan sana! Saya tidak melihat ini karena faktor usia yang kemudian membuat mereka kurang melek internet.(Mungkin ini ada benarnya, namun dalam kaca mata bisnis, jika dianggap menguntungkan secara finansial, saya rasa mereka akan fine2 aja terjun ke dunia internet..!)
    Namun karena memang pasarnya memang belum berkembang, mereka cenderung malas menginvestasikan dana dan juga pikirannya tentu saja ke media ini. Karena itu sekali lagi, Edukasi pasar buat saya lebih penting. Pasarnya itu ya lagi-lagi masyarakat itu..!
    Bukan apa-apa ya teman-teman, kalo saya banyak membaca tulisan pak Nukman ataupun komentar teman-teman dalam blog ini kok rasanya Indonesia itu penuh dengan orang-orang berpikiran maju dan pinter. Saya tuh jadi bangga juga jadi orang Indonesia! He..he.. Namun ketika saya harus kembali kepada dunia nyata saya (saya tinggal di pinggiran jakarta, apalagi ketika saya kuliah di Purwokerto) kok ya internet itu masih menjadi barang yang mahal dan sangat jauh di luar jangkauan komunitas masyarakat di sekitar saya itu. Internet itu bagaikan medianya orang-orang pintar saja. Orang yang miskin dan kurang pendidikan sulit banget menjangkaunya. Inilah yang kemudian timbul dalam pikiran saya, Jangan-jangan karena kita terlalu banyak berkutat dengan dunia internet dan komunitasnya, kita jadi lupa bahwa, internet belum sepenuhnya dinikmati masyarakat Indonesia. Belum lagi kekhawatiran saya bahwa, anak-anak kita pun cenderung menikmati internet hanya melalui game dan pornografi. Ini kan gawat…!

    Maaf ya, kalo melenceng terlalu jauh dari topik. cuma ini adalah sebuah kekhawatiran, boleh dong..? Sapa tau bisa membuka satu pandangan lain dari sekedar bermarketing di dunia internet. Mari kita juga marketingkan internet di dunia nyata…!

  8. Nukman says:

    nah, ini komentar mas Budi juga pintar

  9. ari says:

    Sebelumnya salam kenal terlebih dahulu. Baru hari ini saya membuka situs Pak Nukman ini :D dan ternyata isinya sangat menarik, jadi saya mau ikutan join dan sumbang suara.

    Yang dikatan mas budi emang bener kok.
    saya soalnya juga pernah mengalami hal yang sama dengan atasan di perusahaan saya. Dulunya ia menganggap bahwa teknologi disamakan dengan ‘mahal’ sehingga setiap saya berbicara mengenai investasi dibidang teknologi khususnya internet dia selalu menolak untuk membicarakannya lebih lanjut. Butuh waktu sekitar 1 tahun untuk menyakinkan mengenai pentingnya masuk ke dunia web dan berbagai macam lainnya yang berhubungan.
    Menurut saya yang terpenting dalam menyakinkan atasan adalah dengan memberikan contoh-contoj sukses dimana sekarang banyak sekali situs web yang sudah mendapatkan keuntungan. kedua adalah dengan menyakinkan mengenai benefit yang nantinya didapat dari membuat web yang tidak hanya sekedar memuat profile perusahaan tetapi juga menyediakan layanan informasi dan situs yang interaktif. Sebab pada dasarnya kalo manusia dihadapkan dengan namanya profit udah pasti matanya ‘melek’, hehehe.

  10. Anggun says:

    Pak Nukman, blog sampeyan ini memang luar biasa… postingan yang jaman baheula pun masih banyak menarik comment, salah satunya dari mas Arie ini, so saya mo numpang balas disini ya Pak…

    Mas Arie dkk, klo udah ngomongin profit tentunya ini terkait dengan business model yang dijalankan, apakah spesifik & natural di media online. Nha setau saya di Indonesia, bahkan di Amrik sono yang sempat mengalami “dotcom bubble crash” & sekarang lagi hot2nya dengan “another bubble seri 2 -web2.0″, belum ada satu model bisnis yang “cespleng” & enggak tanggung (maksudnya : profit luar biasa besar, tidak “secukupnya saja”). Klo kita perhatikan, model bisnis yang dijalankan masih itu-itu saja, yaitu transaksi toko (memindahkan toko fisik ke online) dan banner majalah/koran (memindahkan content print ke online trus cari untung dari space iklan). Coba, ada lagi enggak selain dua model tsb? Oya, masih ada 1 model lagi yaitu “infant capital investment” yang bikin heboh karena situs2 seperti YouTube atau MySpace laku dibeli dengan harga fantastis. Sayangnya lagi2 ini hanya terjadi di negara-negara maju dimana banyak orang kelebihan duit dan menjadi investor untuk melecut proyek inovasi dotcom. Dan inget lho, hanya segelintir situs yang happy ending, ribuan bahkan jutaan inisiatif lain mungkin akhirnya terbengkalai karena kehabisan energi. So, klo enggak karena cinta yang teramat sangat, saya yakin orang blom mau masuk dotcom, apalagi buat nyari duit…heheheh, mending bikin stasiun TV atau jual ELPIJI kali ya ;)

  11. Inilah the long tail :P .
    Tulisan jadul pun masih ketemu “pasar”nya.

    #9.
    Betul mas Arie. Dua cara yang disampaikan mas Arie itu mujarab untuk level atas.

    #10.

    Mas Anggun muncul karena efek Long Tail.

  12. Andy santoso says:

    Keadaan sekarang sudah sedikit berubah dari apa yang ditulis oleh Angun (Mr/Mrs/Ms?)

    Behaviour internet user bisa di “baca” dari yang namanya teknologi rich media.

    Ada beberapa kelebihan yang lebih bermanfaat antara campaign di internet dengan media traditional, seperti database gathered sampai kita bisa menghitung berapa lama user “memelototi” iklan kita, hal itu tidak bisa dihitung di media traditional bukan? :)

    Saya akan bisa menjelaskannya jika ada kesempatan. :)

  13. Anggun says:

    Pak Nukman, permisi… numpang blog sampeyan lagi utk meresponse mas Andy ya, hehehe, maaf, soalnya blom punya blog sendiri.

    Mas Andy, saya setuju sekali bahwa dari sisi teknologi Inet menawarkan banyak sekali keunggulan dibanding media tradisional satu arah.

    Makanya saya lebih menyoroti dari segi “cara dapet duitnya”. Selain model “pay per click” & AdSense, kelihatannya blom ada inovasi lain yang berarti, masih banyak ‘mencontek’ media konvensional, misalnya jualan space banner dengan pertimbangan readership (page views) yang mirip plek ketiplek dengan pemasangan iklan di koran/majalah cetak atau jualan online kemudian ambil margin dari selisih harga barang fisik dari merchant yang enggak beda dengan buka toko biasa.

    Tapi ada 1 layanan yang 100% klop dengan sifat online (barangnya digital, bisa di-deliver & di-execute langsung secara onlie & makin menyenangkan kalau interaktif) — hehehe, pasti tahu maksud saya — PORNOGRAFI!

    So kesimpulan sementara, inovasi online sekarang masih ditentukan oleh 2 pemain besar yaitu : Google & industri Pornografi. Setuju Mas Andy? setuju Pak Nukman?

  14. Kalau yang dibicarakan mas Anggun itu di ranah media online yang mengandalkan pendapatannya dari iklan, memang ada betulnya. Namun, di Internet masih ada ranah lain, misalnya B2B dan C2C yang bersifat transaksional. Inovasi di wilayah ini ditentukan antara lain oleh e-market place semacam eBay dan Alibaba.com, atau e-store seperti Amazon.com. Ke depan, model penyewaan aplikasi juga akan berkembang, dengan motor utama Salesforce.com

  15. OrangeMood says:

    @anggun… ngga hanya itu lho, ada lagi system voucher, subcriber, e commerce, online research, dsb. tetapi kalah dilihat dari yang “duit”nya gede hanya beberapa, salah satunya ya dari adverting, dari voucher juga gede, jika model bisnisnya tepat.

    Dan juga ngga hanya pornography, movie, music, podcast, clip, dsb juga bisa langsung di execute langsung kan?! :)

    Beberapa pemain khususnya Indonesia masih terfokus pada voucher dan ads, karena memang mungkin saat ini yang paling cocok dan mudah membangunnya, meski tidak mudah-mudah amat.

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih atas apresiasinya, semoga kampanyenya sukses!

  • Andi Primaretha: - Betul Mas Wahyu, saya juga selalu menganggap internet sebagai Universitas...

  • hdtv mount: - sangat menarik. saya sangat terinspirasi oleh tulisan anda. Tampaknya kampanye...

  • wahyu awaludin: - menarik, mas.. memang kita harus memilah-milah data supaya gak pusing sendiri....

  • Tonton: - setuju bangeeet, memang harus segala macam teknik marketing, harus juara. terimakasih,...

  • andina: - thanks infonya mas Andi

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting