Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Detikcom Syndrome

March 8, 2007
Oleh Nukman Luthfie

Widowati: Mas Nukman, kenapa ya kalau saya tidak mengklik detikcom terasa ada yang hilang gitu. Jadinya setiap hari ada dorongan bawah sadar untuk membuka dan membacanya. Saya menyebut ini Detikcom Syndrome. Temans sekantor juga mengalami hal yang sama. Bagaimana ilmu marketing bisa menjelaskan hal ini?

Itulah komentar Widowati pada postingan mengenai persaingan antara Detikcom dan Okezone. Apa yang disampaikan Widowati juga dirasakan oleh banyak orang. Survei yang dilakukan oleh majalah MIX tahun lalu menunjukkan, bahwa Detikcom sudah masuk dalam 24 hour brand, merek yang dipakai alias dikonsumsi sehari-hari oleh banyak orang. Ahli marketing mungkin bisa menjawab hal ini dari sisi branding. Saya kurang ahli di bidang ini.

Yang saya ketahui, Detikcom bukan hanya lahir dan menang sebagai media dotcom. Lebih dari itu, Detikcom memberikan model baru dalam menikmati informasi, yang sebelumnya tak pernah dirasakan via media apapun. Berita Detikcom dibuat (ekstrimnya) detik per detik. Satu peristiwa bisa ditulis beruntun dalam sekian banyak tulisan. Indahnya, tulisan itu bertaut satu sama lain, sehingga pembaca bisa menikmati dari awal sampai akhir (kalau mau). Kalau dalam bahasa Tukul: ada user experience yang menawan di Detikcom.

Lho, media teve dan radio kan juga seperti itu caranya? Betul. Tapi karyawan mana yang menonton teve atau mendengarkan radio pada jam kerja?Kalau pun ada, jumlahnya amaaat kecil. Coba dibalik pertanyaannya: karyawan mana yang tidak membuka Detikcom pada jam kerja? Kalau pun ada, kemungkinan besar itu karyawan-karyawan yang tidak mendapat akses Internet. Lagi pula, ini kelebihan Internet, semua tulisan terarsip dengan baik, sementara berita teve dan radio hilang ditelan bumi setelah tayang. Kalau pun bisa disimpan, diputar ulang, user experience-nya hilang.

Detikcom sudah menciptakan HABIT baru bagi banyak kalangan. Habit itu makin kuat terbentuk ketika bertahun-tahun Detikcom melenggang sendirian tanpa pesaing. Itu yang membuat orang seperti Widowati ketagihan. Inilah tantangan terberat para pesaing Detikcom. Membuat portal baru mah gampang. Mengalahkan habit itu pekerjaan yang luar biasa berat.

72 Responses to “Detikcom Syndrome”

  1. A Hok says:

    publik susah percaya pada okezone karena terasosiasi dgn nama bambang trihatmodjo dan bimantara. orang2 okezone membantah link ini, namun source okezone berkata jujur: “keywords” content=”okezone, mnc, bc, media nusantara citra, bimantara citra, portal, berita” (data 24/6/2007). makin kentara lagi krn okezone selalu tiarap kalau ada peristiwa negatif seputar bambang tri, padahal kompas/KCM, detikcom, jawapos dan semua media lainnya selalu memberitakan. itulah -menurutku- mengapa setelah hampir 1/2 tahun pageviews okezonecom mentok pada level mingguan dotcom. dgn iklan gencar dan dana besar, harusnya ‘anak’ bambang tri cs ini sdh menempel ketat KCM dan detikcom. media kalau terasosiasi sekadar sbg kepanjangan tangan memang repot. publik akan selalu bertanya: kalau terkesan tdk independen, lalu yg oke itu apanya. ini tentu PR besar.

  2. Maurice says:

    Kami tinggal di Stavanger, Norway. Semua website berita telah kami coba untuk memantau Indonesia, tapi akhirnya pilihan kami jatuh pada detikcom sebagai referensi utama, the Jakarta Post dan Kompas.

  3. A Hok says:

    #35. sofyan hamdy

    Pak Sofyan ngaku analis, tapi data kok tak punya? Kalau begitu analisisnya berdasarkan apa? Pantas saja analisisnya membabi buta memuji-muji okezone hahahaha :) ), padahal common sense sehat mengatakan bahwa okezone masih perlu membuktikan diri. Bagaimana orang mau percaya hasil analisis anda, Pak?

    Ini saya search pendapat media lain ttg detikcom yg anda minta itu. Jadi bukan isapan jempol. Sebagai analis mestinya hal ini tidak boleh luput dari monitoring anda.
    http://www.suaramerdeka.com/harian/0612/14/nas10.htm

    Kesimpulanku: detikcom syndrome yg diungkapkan Mbak Widowati adalah fenomena yang hidup dan meluas di kalangan publik segala lapisan. Ini menarik, dan media lain perlu merumuskan strategi bagaimana efek seperti itu bisa dicapai.

  4. Sari says:

    diskusi ini sangat menarik.

    Tapi saya rasa untuk membandingkan 2 media, kita harus melihat dari sisi obyektif. dari sudut pandang 2 media. Misalnya : kelebihan masing2 dan kelemahan masing2. Dirangkum dan dikritisi dari poin2 yang pnting diperhatikan dalam dunia online, seperti kecepatan, tampilan, kuantitas, link dan sebagainya.

    tampaknya kurang baik kalau kita menyanjung sebuah media dari satu sudut dimana kompetitornya lemah pada bagian tersebut, aplg hal tersebut bukan menjadi parameter dalam mngukur bagus / tidaknya sebuah berita online.

    nothing’s perfect. Jadi kalo dicari2 celahnya pasti ada saja :) ..

    saya rasa topik spt ini (http://www.virtual.co.id/blog/?p=184) lebih menarik dan bahkan berguna untuk media2 yang dibahas..

    salam damai.

  5. sofyan hamdy says:

    #51
    Saya tidak membela okezone…nggak perlu menurut saya…

    Oya, a hok tidak mengikuti perkembangan bursa saham ya…kepemilikan saham bambang di perusahaan ini sudah minim, bisa dibilang nihil…karenanya, bimantara sudah diganti dengan global mediacom, karena kepemilikan beralih ke bhakti investama.

    kalau soal pemberitaan bambang tri, setelah saya cek di okezone, berita itu beberapa kali dimuat…silakan cek sendiri…

    tapi yang penting buat saya, maaf, termasuk di okezone maupun media lain, saya tidak suka dengan berita gosip…tidak ada urgensinya untuk bangsa dan masyarakat…ranah privat tidak pantas jadi konsumsi publik…jadi saya enggan mengomentari soal gosip…

    saya kebetulan jg mengikuti perkembangan kasus uang tommy di BNP Paribas, semua media ternyata memuat isu soal pangeran cendana ini, termasuk okezone…

    toh, media bukanlah sesuatu yang bebas nilai…dia punya keberpihakan….dan ini sah….kan nggak mungkin a hok membeberkan kejelekan diri sendiri atau keluarga…iya bukan…

  6. sofyan hamdy says:

    #54

    berdebat dengan a hok ini, kalau bahasanya jalaluddin rahmat, berputar-putar…alias circular reasoning….soal itu kan sudah dibahas….

    oya, berita di suara merdeka itu bulan desember 2006 ya….hehe…kalau saya malu jadikan itu sebagai referensi…tidak pantas kalau ingin membandingkan….okezone saat itu belum lahir….

    untuk data terkini, silakan a hok pergi ke daerah-daerah, dan membaca berita-berita di sana, dan ada beberapa yang menjadikan okezone sebagai referensi…saya enggan mencarikan untuk anda…

    lagipula, untuk mengutip berita dari sebuah media, ada hak cipta yang tidak boleh dilanggar…mencantumkan sumber media di bagian belakang berita sebenarnya juga tidak pantas….hak cipta pemberitaan berumur sekitar 24 jam. sebelum itu lewat, tidak layak dikutip….kecuali sudah membayar….

    kalau anda berkali-kali menyebut saya orang okezone, maaf saya klarifikasi…bukan…

    jangan-jangan, anda orang detik?panas ya ada okezone? hehe…

    tapi tenang aja pak a hok…masing-masing media online itu punya ceruk pasar dan segmen tersendiri…punya positioning yang berbeda satu sama lain…jadi detik tidak perlu takut atau panas kuping….

    okezone pun menurut saya terlalu naif kalau hanya menjadi “kembaran” detik…

    mengutip rupeth murdoch, ke depan adalah era media online…kehadiran media apapun akan eksis, tergantung pengelolaannya…

    soal menciptakan syndrome, kan sudah dijelaskan detil oleh pak nukman….detik pun butuh waktu untuk menciptakan syndrome…

    kompas, saya pikir, dia punya segmen sendiri…dia tentu punya konsumen loyal yang tidak puas dengan berita-berita dangkal dari media online…tentu ada kompas syndrome….saya termasuk di sana…belum puas rasanya kalau belum baca kompas….sama halnya dengan majalah tempo….tiap pekan selalu saya baca….saya ketagihan dengan kedalaman berita dari jurnalis tempo….

    nah, ini yang saya lihat berbeda antara detik dan okezone…berita-berita dan tulisan analisis mendapat porsi lebih daripada detik…

  7. A Hok says:

    Pak Sofyan sekali lagi menunjukkan diri sebagai analis ngawur dengan mencurigai aku sbg orang detik, hahahaha :) ) Seorang analis profesional tdk akan melakukan hal ini.

    Aku posting dari luar Indonesia (silakan lihat IP-adresku). Awalnya aku tergelitik ikut berdiskusi karena Pak Sofyan ini konstan memuji-muji okezone, sebuah media yang menurutku masih perlu membuktikan diri dan diuji oleh waktu. Selain itu setiap ada sentilan hubungan okezone-Bambang Tri, Pak Sofyan ini sangat defensif dan fasih sekali tentang detil pergeseran saham, etc. hahahaha :) ) Makin terlihat memihak okezone, aku makin iseng untuk ngomporin dgn menghadapkan detikcom. That’s all. Hahahahaha :) )

    Silakan kalian bersaing, nanti yang untung kan publik. Langkah Pak Sofyan yang terselubung melakukan black campaign dan sangat memuji-muji okezone akan kontraproduktif dan mengundang orang seperti aku untuk iseng bereaksi.

    Source okezone:

    meta name=”keywords” content=”okezone, mnc, bc, media nusantara citra, bimantara citra, portal, berita”

  8. eddy says:

    :D Iya…aku emang suka pusing Mas Nukman kalau lihat iklan animasi yang digarap secara tidak proporsional (maaf kalau off-topic) dalam hal ini konten iklan di detikcom yang terlalu banyak iklan animasinya dan perpindahan per-frame-nya terlalu cepat bikin mata sakit dan kepala pusing. Mau baca beritanya jadi terganggu sama iklan-iklan yang super banyak dan berdesak-desakkan. Emang yahud deh detikcom buat narik pemasang iklan :)

    Maaf ya, kalau ada yang tersinggung…nanti aku di tuduh orang okezone lagi … hehehehehehehehehe…

  9. eddy says:

    Sekedar masukan buat detikcom, okezone dan yang lainnya yang mungkin perlu mengatur komposisi iklan (kalau ada) di website atau blog, supaya enak dilihat dan nggak bikin kepala pusing :)

    http://custom.simplemachines.org/mods/index.php?mod=255

  10. Postingan saya mengenai Detikcom Syndrome.
    Untuk menjaga fokus komentar sesuai topik, maka diksusi mengenai Okezone saya stop sampai di sini. Hanya komentar yang relevan dengan topik yang saya loloskan. Mohon maaf ya untuk mas A Hok dan mas Sofyan Hamdi.

  11. sofyan hamdy says:

    setuju pak nukman…daripada diskusi semakin tidak konstruktif dan malah tidak bikin cerdas…

    terima kasih untuk tersedianya forum ini…

  12. Silaban says:

    Di Eropa ini sejauh yang saya pantau dalam pertemuan-pertemuan PPI cuma ada 3 media yg jadi acuan utama: detikcom, kompas, the post (Jakarta Post). Mingguannya ya Tempo dan Gatra. Kepercayaan pada media2 tersebut diperkuat dgn indikator di Alexa.com. Hanya detikcom dan kompas yg jauh berada di atas. Bung Sofyan saya perhatikan mati-matian meNEGASI Alexa.com dan meragukan akurasinya. Namun di dunia internet, Alexa.com menjadi barometer yg umum diterima. Di situ publik bisa memantau pengaruh dan popularitas sebuah web. Tidak ada sistem dan model yg 100% sempurna. Bahkan sebuah model astronomipun tetap mengandung deviasi yg variatif. Dgn Alexa.com publik dapat pegangan untuk memantau pergerakan pengaruh media. Bahwa kompas dan detikcom teratas, dengan gap sangat lebar dengan para kompetitornya, itu adalah fakta. Bahwa grafik okezone sudah flat sejak usianya yg baru 2 bulan, itu juga fakta. Levelnya pada kisaran Harian Republika, Mingguan Gatra. Artinya apa? Argumentasi yg hendak dibangun Bung Sofyan ketahuan isapan jempol belaka. Sebab, jika grafik okezone pada Alexa.com yang flat pada level rendah dikatakan tidak akurat, maka ketidakakuratan itu juga berlaku untuk kompas dan detikcom serta web dunia lainnya. Saya sependapat dengan hipotesis A Hok: dgn promosi gencar dan dukungan dana yg diklaim tdk terbatas seharusnya kisaran grafik okezone sdh menyodok ke atas, mendekati kompas dan detikcom. Bahwa faktanya berbeda, kebalikan dari itu, seret di level bawah, tentu harus dicari sebabnya. Nah, itu tugas para awaknya, bukan kita dari publik. Dan itu tidak bisa ditolong cuma dgn berbagai trik diskusi di forum ini. Bisa-bisa malah kontraproduktif, bisa muncul ketidakpercayaan ganda dari publik.

  13. Chandra says:

    Masih boleh isi komentar kan om?? Saya baru baca kalau di sini ada semacam forum yang ngebahas detik.com dan juga topik lainnya. Sekilas yang punya situs/blog ini mirip Om Farhan. Saudara, oom?

    Ngomong ttg detik.com, saya mgk juga salah satu pasien detik.com syndrome. saya hanya seorang wiraswasta, UKM. Seseharian saya, terutama malam hari saya isi dengan baca-baca berita di detik.com. Awalnya, saya sebenarnya tidak sadar, tapi baru saya sadari bahwa saya mulai kecanduan setelah baca blog ini. Saya setuju dengan tulisan “user experience”, yang mungkin tidak di didapat pada situs berita lainnya. okezone buat saya masih asing, dibanding dengan kompas (online). Bukan menaruh kompas sebagai pembanding, saya menganggap kompas mungkin punya berita yang tidak dimiliki detikcom. Yaahh,,, terkadang dapat, terkadang tidak. Detik.com buat saya masih yang terlengkap untuk situs berita nasional.

    Saya tentu membanggakan detik.com, tapi bukan berarti tidak berisi keluhan.
    “IKLAN BANNER”, seperti yang ditulis pada #11 oleh Voucha, dan juga komentar2 setelahnya juga saya rasakan. Kadang saya panik karena kadang2 saya menjadikan detik.com sebagai standard koneksi internet di tempat saya, yang mana gara2 banner yang sepertinya berat di bandwidth membuat halaman di browser saya kadang2 memberikan alert message. “Kalau ga bisa buka detik.com, berarti koneksinya ngawur”, begitu lah kira2 standard nya.
    “MONOTON”, saya tahu detik.com saat ini expanded, dari punya produk mobile, online-publishing, dan saat ini merambah ke multimedia. Tapi saya tetap merasa kalo detik ini monoton, entah karena desain nya, penyajian berita nya, atau entahlah. Beberapa rekan2 juga merasakan hal demikian. Apakah Oom jg ikut ngerasain?
    Ada lagi beberapa keluhan saya yang jadi uneg2, pernah saya tulis email ke detik, lupa tepat nya kapan. Namun tidak ada respon datang ke email saya. Kalau saya tulis di sini takutnya ntar saya mengintimidasi hahaha..

    Sepertinya sudah panjang nih. Maap ya oom…

  14. weh, memang saya mirip om farhan ya? Bukannya om farhan yang mirip saya? :P .

    Iklan banner Detikcom memang sudah jadi keluhan banyak pengakses. Saya juga sudah sering mendengarnya. Namun tanpa bejibun banner, Detikcom tak akan mampu melayani pembacanya sebaik sekarang. Karena pembaca tidak ada yang membayar, alias gratis, maka harus ada income dari sumber lain. Apa lagi kalau bukan iklan.

    Meski demikian, Detikcom memberikan jalan keluarnya. Jika anda terganggu dengan banner itu, masuk saja ke DetikPortal, yang sama sekali tanpa iklan. Ya tentu saja Anda harus jadi anggota dan berbayar.

  15. eddy says:

    Mudah-mudahan detikcom bisa sedikit mendengar keluhan pengakses-nya pak, supaya iklan yang bejibun bisa lebih teratur dan kalaupun harus pakai animasi, diatur time frame-nya jangan terlalu cepat, pasti lebih apik dipandang.

  16. Ada beberapa komentar masuk lagi di sini. Sayang, isinya hanya membahas dan mengkritisi Okezone. Mohon maaf, tanpa bermaksud untuk tidak menghargai komentar Anda, terpaksa tidak saya loloskan atau saya delete. Polemik Okezone saya anggap sudah cukup di postingan ini.

  17. Antin says:

    gile…..detikcom menggurita…..www.detiksurabaya.com

  18. BudiTyas says:

    Detik sih pemasarannya tepat. Dari net, via net, untuk net. Yg laen kadang pake iklan mahal n mubazir. Masak lewat tipi, kan banyak yg ga nyasar. Net sih yg penting cepatnya dulu, kedalaman berita bisa dilink or ditambahkan menyusul. Asik lho jika tiap beberapa jam yg ganti udah banyak. Gimana ga ketagihan coba.., pas layar direfresh dah beda isi.

  19. Lili says:

    Positioning detik emang tepat dan pas. Jadi detik.com=berita. Nggak nge-klik detik kayak belum baca berita hari ini.
    Beruntung karena pertama atau memang strategi oke dan jitu ya??

  20. Maurice says:

    Berdasarkan referensi di forum ini untuk memakai Alexa.com, aku lihat detiksurabaya.com malah grafiknya sudah selevel dgn jawapos.com dan okezone.com. Dengan okezone.com reach-nya detiksurabaya.com malah lebih unggul, kalau pageviews-nya agak kalah sedikit. Hebatnya, kinerja dan pencapaian detiksurabaya.com ini tidak menggerogoti detik.com. Grafik detik.com tetap berada teratas disusul KCM. Bagaimana formula dan strateginya, itu yg bikin penasaran. Dari kacamata awam aku menangkap tim detik.com memang unggul dalam kreasi dan inovasi. Belum tertandingi. Setidaknya sampai hari ini. Lihat juga misalnya forum Surat Pembacanya, sangat produktif dan ramai dimanfaatkan oleh publik, terutama konsumen dan produsen. Ide untuk memungkinkan orang pasang foto diri atau bukti keluhan, itu efektif dan sangat menarik. Apalagi di era sekarang ini orang kemana-mana sdh menenteng ponsel berkamera.

  21. detik emang yg pioneer. jd, emang layak jadi yg terdepan. kelebihannya, tepat sasaran dan konsisten.
    terutama dalam kecepatan berita. akurasinya juga lumayan.
    tapi masih banyak kelemahannya loh.. mau tahu?
    detik masih terbatas jangkauannya, meski dah coba ngembangin ke daerah, tapi tetap aja nanggung.
    Bagi rekan2 media mungkin tahu LKBN ANTARA. kantor berita milik pemerintah itu, lebih luas jangkauannya. Meski kelemahannya malah seabrek. Kurang cepat, dan terlalu datar, kurang menarik dalam banyak hal.

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih atas apresiasinya, semoga kampanyenya sukses!

  • Andi Primaretha: - Betul Mas Wahyu, saya juga selalu menganggap internet sebagai Universitas...

  • hdtv mount: - sangat menarik. saya sangat terinspirasi oleh tulisan anda. Tampaknya kampanye...

  • wahyu awaludin: - menarik, mas.. memang kita harus memilah-milah data supaya gak pusing sendiri....

  • Tonton: - setuju bangeeet, memang harus segala macam teknik marketing, harus juara. terimakasih,...

  • andina: - thanks infonya mas Andi

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting