Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Detikcom Syndrome

March 8, 2007
Oleh Nukman Luthfie

Widowati: Mas Nukman, kenapa ya kalau saya tidak mengklik detikcom terasa ada yang hilang gitu. Jadinya setiap hari ada dorongan bawah sadar untuk membuka dan membacanya. Saya menyebut ini Detikcom Syndrome. Temans sekantor juga mengalami hal yang sama. Bagaimana ilmu marketing bisa menjelaskan hal ini?

Itulah komentar Widowati pada postingan mengenai persaingan antara Detikcom dan Okezone. Apa yang disampaikan Widowati juga dirasakan oleh banyak orang. Survei yang dilakukan oleh majalah MIX tahun lalu menunjukkan, bahwa Detikcom sudah masuk dalam 24 hour brand, merek yang dipakai alias dikonsumsi sehari-hari oleh banyak orang. Ahli marketing mungkin bisa menjawab hal ini dari sisi branding. Saya kurang ahli di bidang ini.

Yang saya ketahui, Detikcom bukan hanya lahir dan menang sebagai media dotcom. Lebih dari itu, Detikcom memberikan model baru dalam menikmati informasi, yang sebelumnya tak pernah dirasakan via media apapun. Berita Detikcom dibuat (ekstrimnya) detik per detik. Satu peristiwa bisa ditulis beruntun dalam sekian banyak tulisan. Indahnya, tulisan itu bertaut satu sama lain, sehingga pembaca bisa menikmati dari awal sampai akhir (kalau mau). Kalau dalam bahasa Tukul: ada user experience yang menawan di Detikcom.

Lho, media teve dan radio kan juga seperti itu caranya? Betul. Tapi karyawan mana yang menonton teve atau mendengarkan radio pada jam kerja?Kalau pun ada, jumlahnya amaaat kecil. Coba dibalik pertanyaannya: karyawan mana yang tidak membuka Detikcom pada jam kerja? Kalau pun ada, kemungkinan besar itu karyawan-karyawan yang tidak mendapat akses Internet. Lagi pula, ini kelebihan Internet, semua tulisan terarsip dengan baik, sementara berita teve dan radio hilang ditelan bumi setelah tayang. Kalau pun bisa disimpan, diputar ulang, user experience-nya hilang.

Detikcom sudah menciptakan HABIT baru bagi banyak kalangan. Habit itu makin kuat terbentuk ketika bertahun-tahun Detikcom melenggang sendirian tanpa pesaing. Itu yang membuat orang seperti Widowati ketagihan. Inilah tantangan terberat para pesaing Detikcom. Membuat portal baru mah gampang. Mengalahkan habit itu pekerjaan yang luar biasa berat.

72 Responses to “Detikcom Syndrome”

  1. mumu says:

    saya ada sedikit kenangan (ketika masih bergabung dengan detikcom). suatu pagi, detikcom nggak bisa diakses. tiba-tiba sebuah sms masuk ke HP saya, dari triawan munaf: mas mumu, detikcom kenapa ya nggak bisa dibuka. rasanya kayak ada yang hilang, udah jadi habit sih.

    saya hanya bisa terbengong-bengong. tentu saja kala itu, sebagai “orang dalam” saya nggak pernah berpikir sejauh itu, bahwa membaca detik bagi sebagian orang sudah jadi “tradisi”. saya waktu itu malah berpikir, ah, pak triawan ini berlebihan deh hehehe.

  2. tuhu says:

    kalo menurut saya karean ditik.com merupakan pertama di kategorinya. jadi kalo orang mo baca berita terbaru pasti ingetnya detik.com. Lagian namanya juga pas, detik, jadi orang selalu menghubungkannya dengan kecepatan berita itu dipublikasikan.
    Akan sangat sulit bagi pesaing untuk bisa menyaingi kalo cuman copy paste, harus ada sesuatu yang lebih bagus kalo mau mengalahkan detik.com hehehe. Karena ngapain pindah kalo sama aja. Ingat bahwa jumlah terbesar konsumen adalah orang-orang yang enggan mencoba hal baru, sampe sebagain besar orang lain telah berubah.

  3. Machless says:

    Terlepas dari semua romantika bersama ketika di detikcom, saya rasa kita perlu cermati hal ini sebagai respons kritis terhadap prilaku pengguna online. Saya justru melihat ini sebagai sesuatu yang perlu ditelisik lebih jauh.

    Mestinya hal ini bisa diangkat sebagai sebuah survey yang komprehensif agar sebuah situs bisa menjadi lebih tepat sasaran. Sekali lagi, saya cenderung mencermati ini sebagai lampu kuning tentang berubahnya prilaku pengguna yang mesti ditangani dengan hati-hati dan serius oleh Owner sebuah dotcom.

    Seperti yang pernah saya posting sebelumnya, saya tetap berkeyakinan bahwa dunia online itu bukan sebuah surga tanpa tata krama. Perlu pendalaman, perlu pendekatan yang komprehensif dan tetap perlu passion serta visi yang terukur. Singkatnya jangan pernah berjudi di dunia online …

  4. menarik juga ulasannya :)

    btw, ada saran nggak pak untuk model situs e-commerce supaya menawarkan user experience yang lebih menawan pada visitor? tentunya selain dengan layanan standar eperti artikel dan hal hal lain yang sudah umum dilakukan.

    i’m looking for something new ;)

  5. Cholis says:

    wah…marketing online benar2 sudah berkembang sampai sebegini pesat, kalau dulu masarin sampai emosi sudah bagus. sekarang ditambah habit ya..hmm…:)

  6. Harmadji says:

    Saya setuju soal detikcom syndrome. Memang yang saya rasakan juga seperti itu. Di samping itu, bagi saya mengonsumsi informasi adalah soal kepercayaan. Saya sudah lihat-lihat Okezone, tapi kok ya tidak ada berita yang menyoroti Tommy Soeharto (keluarga Cendana), adik Bambang Trihatmodjo. Kalau sudah begitu bagaimana saya bisa percaya? Bandingkan dengan detikcom yang bebas lugas mengkritisi siapa saja, presiden, wapres, Tommy, DPR, dst, dst.

  7. Mulky says:

    Menurut saya jika sebuah media massa sudah terasosiasi dengan kekuatan tertentu, maka dia akan susah memperoleh kepercayaan dari publik. Okezone dari awal kelahirannya sudah diasosiasikan dengan Bambang Tri, kelomok MNC, Bimantara, etc. Ini saja sudah kredit minus. Apalagi kalau diperkuat dengan sajian yang terkesan alergi dengan pengkritisan terhadap keluarga sang bos, puak Cendana. Kesan tidak independen, sekadar kepanjangan tangan, ini menjadi faktor negatif. Kurang menjual. Bagaimana menurut Pak Nukman?

  8. Andy Santoso says:

    ehm, apa berarti hanya saya disini yang ngga begitu sering / akses detik? :) mungkin karena saya ngga terlalu tertarik dengan berita2 lokal *kecuali kalo ada berita musibah. I prefer digg.com dan situs2 international lainnya. :)

  9. Rizky says:

    @Andy

    same here. gue juga ngga pernah tertarik buka detik.com (mungkin kadang detikinet sih). kita ini tipe audiens yg hanya tertarik dgn topik/niche tertentu aja kali. feed reader gue malah isinya cuma situs en blog seputar webdev en web marketing doank.

  10. Elyas says:

    Saya melihat Rizky adalah satu dari beberapa, tapi Widowati adalah juga satu dari sekian penyandang Detikcom Syndrome. Dan jumlahnya saya kira ribuan, jauh lebih banyak, salah satu indikatornya dari pageviews. Saya kira sah saja pilihan kedua pihak itu, tapi biasanya jumlah yang kecil diabaikan. Satu hal saya lihat bahwa pernyataan Rizky mengandung contradicio in terminis… [waduh, terminologi hukum masuk marketing :) ) ]. Bilang tidak pernah tertarik buka detikcom, tapi mengaku membuka detikinet, hehehehe :D Ya setali tiga uanglah. Artinya, Rizky juga tidak terbebas dari Detikcom Syndrome :)

  11. Voucha says:

    Belakangan ini berita detik.com kadang-kadang “gak mutu” dan keliatan copy-paste dari situs lain seperti slashdot atau freshmeat. Tapi kayaknya jarang dipersoalkan karena orang cari berita yang lain.

    Yang saya tidak suka dari detik.com adalah iklannya yang bloated. Lebih enak pakai detik.usable.

    catatan dari nukman: maaf link detik.usable yang ditulis Voucha saya hapus dari komentar ini. 

  12. Elle says:

    Voucha, slashdot dan freshmeat kan untuk isu-isu ITC. Setahuku dari awal, detikcom itu core-nya kan breaking news politik dan peristiwa. Kanal kayak detikinet dll itu produk kemudian. Lagian, mana ada media massa Indonesia yg sajikan teknologi tanpa ngambil sumber asing? Kompas (KCM) juga gitu. Siapa cepat duluan, itu aja.
    Aku cermati orang ngaku tidak suka detikcom karena iklannya yg banyak. Voucha ngaku gitu juga. Ujung-ujungnya lari ke alternatif detik.usable (tanpa ada iklan, tapi ilegal). Mungkin ini refleksi mental kita. Tapi ya ini uniknya statement Mbak Widowati tentang Detikcom Syndrome, pas banget ungkapan itu. Pada Voucha, walau declare ngga suka, tapi tetap lari ke alternatif, yaitu ke detik.usable hikhikhik :D Disinilah uniknya tema dan terminologi Detikcom Syndrome. Wah, mbak Wido jeli mengangkat isu.

  13. Edi says:

    Saya buka situs detik.com sehari lebih dari 10 x , pagi , siang , malam , tengah malam. Udah bukan syndrome lagi kali nich kelihatanya,…. perlu rehabilitasi :)

  14. radityo says:

    Mas Nukman, kalau saya alhamdulillah belum kena penyakit detikcom. Tapi sepertinya saya kok terjangkit penyakit “Yahoogroups Syndrome” ya. Kalau sehari saja tidak buka yahoogroups langsung perut mules, demam, dan kepala pusing. Kira-kira obatnya apa ya dok? Ups, maaf…….Mas Nukman….

  15. radityo says:

    Mengomentari detikcom, sepertinya lagi demam PKS, lafal Allah, dan mukjizat-mukjizat lainnya. Terakhir saya dapat postingan ada lafal Allah di sayur terong, kemudian di bulu kucing. Hampir tiap hari beritanya soal begituan. Atau mungkin karena kantor detikcom yang sekarang dekat sama kantor PKS ya?

  16. Olly says:

    Aku juga udah mulai addicted to detikcom niy..Abis suka ga sempet baca koran..Jd update-nya lwt detikcom aja deh..hehe.. :-)

  17. marwan mazwan says:

    Awak kalau tdk buka detikcom rasanya gelisah. Sudah jadi kebutuhan. Sudah seperti Dji Sam Soe, melekat kuat. Biar ada merk baru, rasanya susah untuk pindah. Apakah ini yg disebut detikcom syndrome?

  18. Kayaknya Pak Nukman kena Thukul Syndrome… :)

  19. Nukman says:

    Bukan syndrome. Kesurupan. hahahaha

  20. galih says:

    Tapi detik.com juga harus waspada terhadap perkembangan blog yang begitu menggila. sekarang, saya jauh lebih suka baca planet terasi dan beberapa blog yang saya subscribe daripada detikcom. saya rasa, detik.com juga perlu menyediakan fasilitas rss feed karena sekarang mulai ada pergeseran cara masyarakat mendapatkan informasi, yaitu melalui feed daripada browsing langsung.

  21. mr.bink says:

    Kembali ke…DetikCom

  22. Richard says:

    Saya melihat posisi detikcom sangat kuat saat ini, meskipun datang pesaing-pesaing baru. Salah satu sisi kuatnya menurut saya adalah inovasi dan kejelian berkomunikasi. Lihat misalnya forum Surat Pembaca detikcom versi baru. Pembaca selain bisa memasang foto, juga bukti-bukti keluhan untuk dikomunikasikan, misalnya sobekan tiket, rekening atau bahkan lokasi jalan berlubang. Sejauh pengamatan saya, Surat Pembaca detikcom paling efektif dan produktif dibandingkan forum yang sama di media lain. Buktinya, keluhan pembaca banyak mendapat respon dari pihak terkait.

  23. tony says:

    Syukurlah, aku ga sendiri. Ga bisa aku ol ga klik detik.com. Home page di mozilla-ku aja ‘detik.com’. Okezone??? baru tau skarang malah ….. Ndesooo banget :)

  24. TEBE TEA says:

    COBA BUAT WACANA TENTANG OKEZONE SYNDROME, PASTI YANG MENGOMENTARI ATAS KEPUASANNYA AKAN LEBIH BANYAK…

    TERBUKTI MENRISTEK SAJA MEMUJI…

  25. Nukman says:

    Sayangnya tidak ada email nyasar ke saya mengenai hal itu, dan belum ada hasil pengamatan yang menunjukkannya. Nanti kalau trafik Okezone sudah bisa melampaui Detikcom, saya kira Okezone bisa juga membentuk Okezone Syndrome. Kalau baru mulai, rasanya mustahil membuat sindroma.

    Menristek memuji tidak berarti beliau sindrome terhadap Okezone.

  26. Agnes says:

    #24. Hikhikhik… :D Popularitas media measurement-nya kok digantungkan pada seorang Menteri :) ) Bagaimana media yang matron seperti itu mau membangun kepercayaan? Publik, mas… publik, sekali lagi publik. Dan itu measurement serta monitoringnya jelas, lihat saja trafiknya. Lihat statistik server, bilang apa dia? Kok menteri, kumaha atuh?

  27. A Hok says:

    Dari pendekatan Feng Shui, nama okezone sebenarnya kurang menguntungkan. Nama itu lekat dengan kegagalan. “Okeson, gagal maning…gagal maning…” Ada buktinya lho. Walaupun dibackup Sindo dan RCTI dengan iklan gencar, tapi okezone masih tetap letoi (lihat di alexa.com). Pertanyaannya sampai kapan MNC akan membuang duit? Satu kuartal, dua kuartal, tiga kuartal, empat kuartal? Sebesar-besanya MNC, jika rugia terus pada akhirnya logika bisnis akan berbicara.

  28. Nukman says:

    Justru dari Alexa perkembangan trafik Okezone kelihatan mantap. Kenapa A Hok malah bilang letoi?

  29. A Hok says:

    #28. Karena aku liat udah mentok mas, flat mulai April. Tadinya aku perkirakan akan terjadi duel ketat melawan raksasa detikcom yg udah established. Didukung kapital besar, promosi dan iklan jor-joran, seharusnya 1 kuartal udah terlihat. Ternyata tidak. Jangan2 ada “efek warung pisang goreng” di sini. Orang heboh dan bersedia mengantri. Setelah melihat dan mencicipi, mereka tak mau kembali lagi. Kesempatan okezone tinggal 3 kuartal lagi menurut saya. Setelah itu orang akan melupakan selamanya. Kayak satunet.com dan astaga.com

  30. Nukman says:

    Gitu ya….Analisa yang menarik.
    Coba kita tunggu tiga kuartal lagi.

  31. eddy says:

    masa sih sampe ada syndrome kayak gitu??? menurut saya detikcom itu bikin kepala pusing ngeliatnya, kok malah jd syndrome sampe ketagihan ya? :D

    http://www.titikbalik.net

  32. Nukman says:

    Ada yang pusing kepala melihat detikcom.
    Tapi statistik menunjukkan, yang ketagihan jauuuuuh lebih banyak.

  33. sofyan hamdy says:

    Melihat ramainya diskusi di sini, saya mengamati antara detikcom dan okezone secara seksama..terutama dari kualitas pemberitaannya.

    Jika saya bandingkan, kualitas, variasi, kedalaman, dan kejelian isu lebih dikuasai okezone. variasi berita okezone lebih baik. detikcom terkadang sumir dalam membuat berita, dan (maaf) terkadang remeh temeh.

    Memang pembaca detik sudah loyal, ini yang jadi tantangan buat okezone. Dibutuhkan strategi marketing yang baik, untuk bisa merebut pembaca online.

    Kalau dibilang okezone akan mati seperti beberapa prediksi, justru sebaliknya buat saya. Persoalannya hanya waktu. okezone didukung infrastruktur, sumber daya, dan kekuatan modal yang luar biasa. mungkin bagi MNC mengelola bisnis online hanya perlu mengeluarkan uang recehan.

    oya, kalau menurut mas nukman, apa yang perlu dilakukan okezone agar bisa merebut pembaca? tampaknya strategi iklan tidak cukup baik buat mereka.

    trims,

  34. A Hok says:

    Analisis Pak Sofyan ngawur, naga2-nya titipan Okezone, hahaha :) ) (Sorry, “Aku hanya just kidding, Pak”, pinjam Tukul). Tapi serius, analisis itu mentah. Aku baca di Suara Merdeka justru detikcom beritanya lebih variatif & berkualitas. Ini kata Pimred Suara Merdeka dan Solo Pos dlm simposium dgn LKBN Antara di SMG. Suara Merdeka malah ngaku > 50% contentnya memakai detikcom. Saya liat detikcom juga ternyata sdh punya sindikasi 39 media regional, pageviewsnya 6 jutaan. Dan kalau dilihat di Alexa.com detikcom jauh di langit, disusul KCM. Okezone cuma selevel ‘koran cetak’ & media mingguan (Republika, Gatra, Tempo, etc). Padahal kalo semua klaim itu benar, seharusnya Okezone sdh menempel ketat. Apalagi konon didukung kapital tak terbatas. Sudah 1/2 tahun lho! Mosok segitu aja? Sampai kapan MNC rela buang uang? 1 tahun? 2 tahun?

  35. sofyan hamdy says:

    Oya, boleh tahu omongan Pimred Suara Merdeka dan Solo Pos itu kapan?

    Analisis saya ini melihat berita dalam sepekan terakhir. Tidak ada titipan. Kuantitas berita dan jangkauan reportasenya lebih luas, baik di Jakarta maupun luar Jakarta.

    Saya pribadi kebetulan mengamati media lainnya, karena itu pekerjaan saya sebagai analis. Dan tidak sedikit media di daerah yang mengutip okezone.

    Kalau tidak salah, okezone baru berumur tiga bulan, bukan enam bulan. Dia launch Maret atau April —mohon diralat kalau salah—.

    Kalau Alexa, saya nggak paham tingkat akurasinya. Toh, ini media tiga bulan melawan media sembilan tahun. Masih terlalu dini untuk disimpulkan.

    Pilihan lebih memilih detik bisa jadi benar, karena memang detik punya sindikasi. Tentu saja media-media lebih memilih detik, toh sudah bayar.

    Oya, kebetulan saya membaca dua berita detik hari ini yang sumir. Salah satunya soal “Bella Saphira Dilukis Bugil di Kamar Mandi”. Padahal tidak ada isi di dalamnya kabar tentang artis itu dilukis bugil. Jadi beritanya sumir. Maaf, mungkin reporternya/editornya bodoh. Dan masih ada beberapa berita lainnya.

    Okezone juga masih ada beberapa kelemahan.

    Tapi kalau okezone yang masih tiga bulan sudah dianggap menjadi ancaman yang mengerikan, ini memalukan buat detik. Seharusnya detik menjadikan media lain yang sudah terlebih dahulu, yang juga tak kalah besar, menjadi saingan, ketimbang takut dengan kehadiran okezone. Media baru, tentu belum mapan secara finansial, sumber daya, dan infrastruktur. Meski disokong oleh MNC yang raksasa. Tapi, kita toh belum tahu apa benar MNC benar-benar mengeluarkan uang besar. Jangan-jangan hanya seratus-dua ratus juta saja, atau maksimal satu miliar, yang itu tentu sangat kecil untuk mendirikan perusahaan media. Lagipula MNC pasti tidak bodoh untuk hanya buang-buang uang. Bisa jadi mereka irit seirit-iritnya untuk profit yang jauh lebih besar.

    Detik saya yakin akan terus memperbaiki dirinya. Begitu juga okezone. Jadi, kita lihat apa gebrakan yang akan mereka keluarkan. Bandingkanlah keduanya saat okezone, minimal, berumur satu tahun. Bukan tiga bulan, yang kalau masih bayi, okezone masih terlalu merah.

    Saya pikir, kompas bisa jadi jauh lebih menjadi ancaman, daripada okezone. Kenapa tidak mengkritik kompas.

    Menurut Pak Nukman yang alumni detik bagaimana?

  36. Nukman says:

    Kalau Kompas.co.id itu ekstensi dari media cetak Kompas. Membandingkan Kompas.co.id saat ini dengan Detik.com kurang tepat. Detikcom adalah bisnis yang 100% murni berbasis dotcom. Maka Detikcom lebih pas ditandingkan dengan Astaga.com (pada tahun 2000 lalu) dan sekarang dengan Okezone.com

  37. sofyan hamdy says:

    Saya pikir tidak juga… Pengelolaan Kompas Cyber Media (KCM)tersendiri, terpisah dari yang cetak. Dia juga memakai sistem update berita, dan tidak melulu sama dengan edisi cetaknya. KCM juga menganut running n breaking news. Karakter yang sama dengan detik, okezone, rakyatmerdeka online, ataupun antara. Kalau yang murni ekstensi dari cetak bisa dilihat seperti republika.co.id.

    Hanya bedanya, kompas saat ini juga mengembangkan citizen journalism, yang responsnya juga cukup baik. Ini saya lihat sebagai kelebihan kompas dibanding detik.

    Bagaimana pendapat Pak Nukman tentang fairness untuk membandingkan media yang baru tiga bulan dengan yang sudah sembilan tahun?

    Kalau menurut saya, karakter jurnalis online tentu berbeda dan butuh pengalaman tersendiri. Ini yang saya pikir bagi okezone membutuhkan akselerasi bagi SMDnya.

    Denger-denger Pak Nukman sempat diminta jadi konsultannya okezone? Apa benar? Kenapa batal? (hehe…maaf, ini dengar-dengar dari obrolan bos-bos saya…)

  38. Lusi says:

    gua liat mas sofyan rancu dgn “detikhot (infotainment)” dan core-nya detikcom: “detiknews (berita)”. sebagaimana infotainment lainnya, detikhot kadang sumir. gua sendiri jarang akses detikhot, karena merasa bukan segmennya. tapi kalo detiknews gua jadiin homepage, sebagai referensi utama. tiada hari tanpa detiknews. kalo dibilang jangkauan reportase okezone lebih luas, ya ngawur juga. gua sering baca reportase wartawan detikcom di aceh, hingga maluku. yg di luar negeri ada basis detikcom di london, den haag dan washington. dan kalo dicek di daftar redaksi, nama2nya ada di sono. sebagai analis, mas sofyan kredibilitasnya bisa ancur, sebab analisisnya ternyata ngawur… hehehehe :) )

  39. Erna says:

    Denger-denger Pak Nukman sempat diminta jadi konsultannya okezone? Apa benar? Kenapa batal? (hehe…maaf, ini dengar-dengar dari obrolan bos-bos saya…)

    —> BOS ANDA DI OKEZONE MAS SOFYAN? :)

  40. Nukman says:

    #37.

    Definisi bisnis dotcom: bisnis yang dibentuk murni hanya untuk berjalan di media internet dengan beragam business model. Contohnya yang lokal: Detik.com, Astaga.com, PortalHR.com, Yogyes.com, Indo.com, Paketrupiah.com. Contoh yang intenasional: Yahoo.com, Google.com, eBay.com dan lainnya.

  41. Nukman says:

    # 37

    Bagaimana pendapat Pak Nukman tentang fairness untuk membandingkan media yang baru tiga bulan dengan yang sudah sembilan tahun?

    NL:
    Postingan saya di atas adalah mengenai Detikcom Syndrome. Tidak ada satu pun yang membandingkannya dengan Okezone. Tidak fair jika dibandingkannya karena setahu saya tidak ada satu pun brand yang membuat syndrome dalam tempo tiga bulan. Paling tidak, kalau pun ada, saya belum pernah tahu.

  42. sofyan hamdy says:

    Maaf Pak Nukman, saya menanggapi postingan A Hok beberapa kali di atas (27, 29, 34)…Bukan semata-mata merespons postingan Pak Nukman di awal. Diskusi ini kan berkembang. A Hok dalam tiga postingan itu membanding-bandingkan okezone dengan detik. Karenanya saya minta tanggapan Pak Nukman….

  43. sofyan hamdy says:

    #40
    Nah, kompas cyber media saya pikir masuk dalam kategori ini…Rakyat Merdeka Online juga. Memang mereka punya koran/cetak, tapi core bisnis di pemberitaan online mereka dijalankan dengan core dotcom…

    Sama mungkin halnya dengan okezone di bawah MNC, yang satu grup dengan Koran SINDO atau RCTI atau Trijaya…

  44. sofyan hamdy says:

    #39

    Saya sudah katakan bukan dari okezone…Jadi nggak perlu panas…

    Terima Kasih…

  45. sofyan hamdy says:

    #38

    Anda yang lebih ngawur…Apapun ketika diberitakan tidak boleh menjual sekadar sensasi…Itu baru satu contoh…Di atas saya katakan juga ada yang di detiknewsnya. Detik menurut saya kerap menjual judul, ketimbang isi…Ini yang tidak pantas dalam dunia jurnalistik…

    Soal jangkauan, ingat, okezone di bawah payung MNC. Info yang saya dapat, perusahaan ini punya lebih dari 500 jurnalis…Ada dari Aceh sampai Papua…Koresponden di luar negeri juga punya…Saya lihat itu di Koran SINDO.

    Sedangkan jumlah reporter detik saya hitung-hitung hanya 30-40an orang…

  46. Nukman says:

    #43.
    Boleh saja mas Sofyan kategorikan spt itu.

    Supaya lebih jelas, mungkin saya membaginya ke dotcom murni dan dotcom hasil ekspansi brand. Dotcom murni lahir tanpa membawa embel-embel sebuah brand, dengan business model dotcom. Sebaliknya, dotcom hasil ekapansi brand, lahir dari sebuah tradisional brand (bisa media atau non-media), dengan content utama berasal dari (atau diindetifikasikan sama dengan) brand aslinya. Kompas.co.id yang sekarang memang sudah lebih luas dari content cetaknya, namun ruh brandnya masih melekat kuat. Nah, sepanjang yang saya pantau, dotcom hasil ekstensi brand tradisional tidak ada yang berkibar hebat, sehebat dotcom murni. Bahkan media-media hebat di luar negeri, seperti New York Times juga tidak luar biasa ketika masuk ke online. Oleh karena itu, tidak sepadan membandingkan dotcom murni dengan dotcom ekspansi.
    Sebaliknya Okezone itu brand baru yang sejak lahir hanya main di Internet. Sama seperti Astaga.com, Satunet.com, PortalHR.com dan lain-lain. Maka pantas jika Okezone ditandingkan dengan Detikcom. Sama pantasnya ketika Astaga lima tahun lalu ditandingkan dengan Detikcom.

    Moga-moga bisa memperjelas.

  47. Nukman says:

    #42.
    Jawaban saya jelas:  soal brand syndrome Detikcom tidak pantas ditandingkan dengan Okezone atau pemain baru manapun. Mengapa? Karena untuk mencapai level syndrome butuh waktu lama.
    Maka kalau mau menandingkan saat ini adalah parameter-parameter yang non loyalty. Misalnya, kecepatan berita, kuantitas (bukan kualitas) berita, dan sejenisnya.

  48. sofyan hamdy says:

    Penjelasan yang menarik Pak Nukman, terima kasih…

    Tapi bukankah media online hasil ekstensi traditional brand juga pantas dipersaingkan dengan yang murni dotcom. Toh core yang dimainkan adalah dotcom?

    Saya dengar grup Bakrie —disokong Rupeth Murdoch— juga akan ikut bermain di media online. Begitu juga dengan Sampoerna-koran Jurnas, juga denger-denger bakal muncul. Saya berharap ini semakin mencerdaskan masyarakat, bukan murni persaingan di bisnisnya.

    Bagaimana dengan Pak Nukman?

  49. Nukman says:

    Boleh saja kalau mau membandingkan. Tapi hasilnya selalu mengecewakan. Kompas.co.id sampai sekarang masih terlalu jauh jaraknya dari Detikcom, baik dari sisi trafik, income, maupun (apalagi) syndrome. Padahal kompas.co.id lebih tua dari Detik.com. Apalagi contentnya jauh lebih berkualitas. Di luar negeri pun, seperti saya sebutkan di atas, koran sehebat New York Times pun tidak mencorong di online. Maka kesimpulan saya saat ini, buat apa susah-susah membandingkan dotcom murni dengan dotcom ekspansi?

    Saya juga mendengar selentingan akan lahirnya dotcom2 baru seperti yang mas Sofyan sebut. Moga-moga lahir beneran. Saya tidak sabar menunggu.

  50. Totok says:

    Wah .. kayaknya diskusi ini makin menarik dan hangat. kalau pak Nukman tak sabar menunggu munculnya dotcom baru, saya juga. Saya juga tak sabar untuk menunggu okezone syndrome. Soalnya makin hari kalau diperhatikan, okezone makin oke pak Nukman.

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih atas apresiasinya, semoga kampanyenya sukses!

  • Andi Primaretha: - Betul Mas Wahyu, saya juga selalu menganggap internet sebagai Universitas...

  • hdtv mount: - sangat menarik. saya sangat terinspirasi oleh tulisan anda. Tampaknya kampanye...

  • wahyu awaludin: - menarik, mas.. memang kita harus memilah-milah data supaya gak pusing sendiri....

  • Tonton: - setuju bangeeet, memang harus segala macam teknik marketing, harus juara. terimakasih,...

  • andina: - thanks infonya mas Andi

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting