Banyak orang mengidentikkan bermarketing di internet sebagai aktifitas marketing yang low budget, alias murah rah tapi hasilnya bisa mak nyuss. Salah satu contoh aktifitas yang sering disebut adalah viral. Dengan biaya yang kecil bisa membawa hasil yang besar. Ketika saya membaca blog pak Nukman yang membahas seminar Hermawan Kartajaya yang bertajuk ‘Low budget High Impact Marketing’, lagi-lagi pemahaman itu muncul di kalangan pembaca.
Buat saya, pemahaman itu layak dikoreksi.
Dalam kenyataannya, bermarketing via internet tidak identik dengan low budget dalam arti yang veeerry looow karena untuk mendevelop strategi, mengeksekusi hingga melakukan promosi bisa menghabiskan biaya ratusan juta hingga milyaran rupiah.
Lalu jika begitu, dimana letak low budgetnya?
Bermarketing di internet bisa disebut low budget high impact ketika dilakukan dengan strategy dan ekskusi yang tepat sehingga menghasilkan ROI online yang maksimum. ROI online adalah hal yang bisa di measure jika dari awal kita punya objektif, standarisasi dan cara pencapaian objektif yang strategis.
Bermarketing di internet disebut low budget marketing jika dibandingkan dengan aktifitas traditional marketing lainnya seperti yang saat ini banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar yang menggelontorkan budget belasan hingga puluhan milyar untuk disebar di TV dan media cetak. Hasilnya memang luar biasa. Cucok. Budget besar, impact besar.
Namun, mengutip di blog pak Nukman, Hermawan Kartajaya mengkategorikan langkah ini sebagai langkah yang bodoh, karena saat ini ada new wave marketing, yaitu sebuah langkah yang memanfaatkan perubahan habbit di konsumen yang disebabkan oleh munculnya teknologi yang dalam hal ini adalah internet. Lahirnya komunitas online, social networking merubah total cara pendekatan produsen kepada konsumen. Dengan strategy yang tepat, memanfaatkan internet
bisa menjadi langkah cerdas dalam menekan budget marketing.
Jadi, low itu bukan looooow. Tapi ‘low’ jika dibandingkan dengan impact yang didapat jika campaign berhasil DAN jika dibandingkan dengan komunikasi di medium lain.
Sebuah viral yang didevelop dengan konsep low budget bisa menjadi high budget jika tidak berhasil menimbulkan efek fowarding atau pun buzz.
Sebuah komunitas yang tujuannya mengumpulkan pecinta brand bisa menjadi cost centre jika hanya didatangi para ‘petualang cinta’ yang hanya berkunjung ketika ada hadiah menarik.
Kunci dari semua aktifitas bermarketing/berkomunikasi di internet adalah strategy.
Tanpa strategy, tidak akan ada ROI Online yang maksimum.
Tidak ada ROI Online yang maksimum, berarti hilangnya uang, waktu, tenaga dan kesempatan.
Kalau sudah begitu, Bye Bye Low Budget Marketing. Welcome No Impact marketing.
Maksudnya agar klien yang menggunakan jasa konsultan dan developer online tidak lantas menuntut rate yang rendah ya? Jangan sampai waktu pitching dan masukin penawaran, klien teriak-teriak “Lo, katamu marketing di Internet itu low budget, kok hargamu selangit begini???” Hehehe… Mbak Iim ini bisa aja.
Sebetulnya low budget itu bukan istilah yang tepat. harusnya “smart budget” marketing. Maksudnya smart adalah kita harus mencari leverage yang sebaik baiknya dari cost yang dikeluarkan.
-Jika high cost, high impact itu adalah no-brainer, anyone with money can do that
-jika low cost, high impact itu adalah yang harus di cari bagaimana caranya
jika berhasil, maka akan merupakan competitiveness dari persh ybs.. Sekian dulu
Robby #
Kesimpulan yang terlalu sederhana untuk objektif yang besar ya
Novento #
Ketika bicara low cost, itu harus ada perbandingannya. Begitu juga ketika bicara high impact. Standartnya apa? Itu semua harus jelas. Makanya setiap pekerjaan harus jelas KPI nya dan ROI-nya.
Setuju, Strategy adalah faktor utama untuk menjadi yang nomor satu di semua aspek, termasuk di bidang marketing/marcomm pastinya.
Online low budget menurut saya tidak juga, semua tergantung campaign objective yang ingin dicapai, kalo tols online semua mau dipake bisa sangat mahal tentunya, apalagi mau pake web agency/konsultan yang bagus. Pribahasa “harga gak pernah bohong” bisa jadi berlakukan hehe, viral yang baik juga tdk jd begitu saja ada kan?, butuh ide, creativitas, dan pengaplikasian yang baik, makan waktu dan muter otak juga Bos.
Terlepas dari strategy marketing komunikasi yang akan digunakan, Memiliki online communication adalah hal yang harus segera dilakukan oleh sebuah brand yang belum memilikinya, minimal memiliki website yang sesuai dengan kebutuhannya lah, Bisnis tempat cuci motor rumahan deket rumah saya saja punya website, dan efeknya baik salut saya.
Tapi mengapa media tradisional masih jadi primadona?, menurut saya karena masyarakat kita juga masih banyak yang bersifat tradisional jadi perusahaan takut untuk menggunakan media online untuk jalur komunikasinya, selain itu infrastructure penunjangnya belum optimal.
Saya dapet pencerahan lagi ..
. Terima kasih banyak atas ilmunya yang bermanfaat Mbak Iim.
mungkin memang semakin berkembangnya pengetahuan market akan akses informasi,kebanyakan mereka akan mencari second information source, website, forum , ataupun blog merupakan salah satunya. efek dari website bersifat long term pada beberapa perusahaan tergantung dari goal website tersebut, saya setuju kalau efektifitas media online tergantung dari strategy perusahaan, apa itu mau fokus kepada short-term salessales, ataupun fokus kepada branding yang sifatnya long term.
menurut saya efektifitas sebuah website juga tidak lepas dari peran traditional marketing, yaitu memberitahukan kepada market bahwa perusahaan telah memiliki website resmi.
Terima kasih, banyak masukan yang saya dapat
low budget gak juga ya
buat maintenance web kan butuh modal juga
kendala utama online bussiness saat ini adalah harga koneksi internet yang masih mahal di negeri ini,
Namanya murah khan relatif. Contohnya sekarang khan musim viral marketing semacam YouTube videos. Nah, bagi pengusaha kecil bikin video khan tidak gampang, harus ada tema, sutradara, cerita dll. Kalo dioper ke orang lain (professional) tentu saja biaya membengkak, nah sama saja donk.
Tapi bagi pengusaha besar, yang biasanya memasarkan lewat media trdisional, tentu saja faktor modal tidaklah banyak. Tapi hasil yg dicapai boleh dibilang termasuk lumayan.
Apa nih solusi buat small businesses?
Ini dia (ROI) yang sering jadi sumber perdebatan antara konsultan dengan klien, terutama jika berhubungan dengan CEO, Finance atau Marketing.
Sebagai contoh di komunitas online ada percakapan seperti ini.
“Wah ini yang selama ini saya cari. Perusahaan XXX telah berhasil membuat hidup saya lebih berarti. Saya pakai produk XXX setiap hari dan sesering mungkin saya ajak teman dan keluarga untuk memakai XXX. Saya juga tulis pengalaman saya setiap hari memakai produk XXX ini di blog saya”
How do you measure this?
Secara kuantitas: 1 orang yang mengatakan ini, 48 kata, 4 kalimat, product direct mention 3 kali, company direct mention 1 kali, tone positive. secara kuantitas kecil sekali
Secara kualitas: Tak ternilai harganya, tak terukur dampaknya. konsumen ini telah menjadi Customer Evangelist. This goes beyond numerical value
[...] Bermarketing via internet # low budget marketing! oleh Iim Fahima Jachja [...]