Nukman Luthfie - Online Strategist
28 May 2008
Wow. Saya nyaris tidak percaya apa yang saya baca di Kompas.com kemarin malam, Selasa, 27 Mei 2008, jam 20.01. “Sebagai raksasa media cetak, Kompas Gramedia berhasil membangun sebuah megaportal yakni www.kompas.com, yang bisa mengalahkan detik.com dan okezone.com dalam waktu singkat,” kata Hermawan Kartajaya, Presiden MarkPlus, Inc, pada saat penyerahan New Wave Marketing Award kepada Kompas.com kemarin.
Hermawan Kartajaya mengatakan, Kompas sebagai harian yang cukup kuat dan percaya diri di Indonesia, telah melakukan terobosan baru dengan membangun sebuah megaportal, Kompas.com, yang lebih partisipatif dan kolaboratif dengan audiens. Barangkali, itu sebabnya ia berani mengambil kesimpulan, portal berwajah baru itu bisa mengalahkan penguasa pasar saat ini, Detik.com, dalam waktu singkat. Kalau mengalahkan Okezone.com sih itu biasa, bahkan saat ini pun Kompas.com masih jauh di atas Okezone.com yang baru berumur setahun, baik dilihat dari sisi trafik maupun pendapatan.
Saya sendiri melihat, bahwa langkah Kompas.com awal tahun ini dengan mengubah esensi (bukan sekadar wajahnya) sangat bermakna dalam memposisikan diri sebagai pesaing Detikcom. Selama ini, Kompas.com memang dipandang sebagai portal kedua setelah Detikcom. Namun jaraknya — trafik dan pendapatan — amat jauh dengan Detikcom. Setelah mereka melakukan pembenahan fundamental, saya melihat peluang Kompas.com untuk menjadi pesaing tangguh dan mempersempit jarak ke Detik.com. Bahkan pada wawancara dengan Koran Tempo akhir Januari2008 lalu saya mengatakan bahwa Kompas.com berpotensi besar menyalip Detik.com lantaran sumber daya yang melimpah.
Namun soal bisa mengalahkan Detik.com dalam waktu singkat seperti dikatakan Hermawan? Rasanya mustahil. Hermawan Kartajaya, dalam pandangan saya, berlebihan dalam hal ini.
Kenapa saya berpendapat begitu?
Pertama, karena tidak ada yang instan di bisnis dotcom.
Sebagus apapun usaha pesaing, ia butuh waktu cukup panjang untuk mengalahkan penguasa pasar. Google bisa mengalahkan Yahoo! dalam hal search engine setelah bertahun-tahun usaha. Facebook.com, meski kelihatan progresif, masih butuh waktu untuk menyingkirkan jaringan sosial MySpace.com.
Kedua, pemain utama tidak akan berhenti berinovasi.
Ketika datang sebagai pemain baru di kancah jaringan sosial Internet, Facebook memang menggetarkan pemain lama dengan aplikasi-aplikasi yang bisa dibangun pihak ketiga. Namun, Friendster juga kemudian melakukan hal yang sama, sehingga posisinya sebagai penguasa pasar di Asia, terutama Indonesia, masih belum tergoyahkan.
Demikian pula Detikcom. Sebagai raja portal berita, Detikcom menyimpan banyak peluru inovasi. Mereka memulai masuk ke wilayah Web 2.0 dengan caranya sendiri. Mereka membangun citizen jurnalism melalui DetikSurabaya. Mereka juga kemudia meluncurkan Detikforum, dan menyusul kemudian BlogDetik. Saya yakin masih banyak inovasi-inovasi baru yang akan diluncurkan Detikcom berikutnya untuk merangkul era Web 2.0.
Ketiga, Indonesia adalah anomali pasar portal berita.
Di mana-mana, termasuk di Amerika Serikat, yang menjadi raja portal berita adalah media-media cetak mainstream yang masuk ke Internet dan membangun portal berita, seperti New York Times. Setiap ada dotcom murni masuk ke wilayah portal berita, pasti kalah digjaya dibanding media cetak online. Namun, khusus untuk Indonesia (juga Malaysia), dotcom murni yang membangun portal berita justru mengalahkan media mainstream seperti Detik.com mengalahkan Kompas.com.
Berdasarkan tiga hal di atas, menurut saya, Kompas.com tidak akan mengalahkan Detik.com dalam waktu singkat. Tapi seperti yang saya katakan awal tahun ini, saya sepakat, Kompas.com memiliki peluang besar menyalip Detikcom. Namun, tentu saja dengan beberapa persyaratan, termasuk menggunakan sumber dayanya yang melimpah secara optimal, konsisten, dan terus menerus.
Jika persyaratan itu tidak dipenuhi, maka peluang itu akan terbang.
DIPOSTING OLEH PADA 5:34 am |


May 28th, 2008 at 5:51 am
lha kok belum karuan menang udah dapet award aja toh pak..piye iki??
May 28th, 2008 at 5:51 am
Barusan cek di alexa posisi detik.com di no 10 sedangkan kompas.com di posisi 22 sedangkan okezone.com ada di posisi 32 untuk top site indonesia, Jadi menurut saya detik.com akan tetap menjadi situs berita terpopuler di indonesia dalam 2 atau 3 tahun k depan
May 28th, 2008 at 7:09 am
wah apa nggak lebih dari usaha pembangunan brand HK sendiri itu,masih jauh lah mengalahkannya, atau ada kreteria lain yo?
salam
May 28th, 2008 at 7:25 am
Beliau, Hermawan Kartajaya, perlu mendapat kesempatan untuk menjelaskan kriteria atau metodologi penilaiannya dan dalam hal apa Kompas.com bisa mengalahkan detikcom dan okezoe.com “dalam waktu singkat”. Jika memang argumen beliau masuk akal, bisa dipertanggungjawabkan, saya kira sah-sah saja Kompas.com diganjar New Wave Marketing Award (btw, ini artinya apa ya?).
May 28th, 2008 at 9:20 am
Setuju dengan Ibu Erna.
Tentang New Wave Marketing ada di http://www.virtual.co.id/blog/internet-marketing/low-budget-no-impact-marketing/
BTW, bagaimana bila virtual.co.id / virus communication bikin award sendiri?
May 28th, 2008 at 9:46 am
HK harus bisa menjelaskan kriteria apa yang digunakan untuk memilih sebuah dot com business yang layak diganjar new wave marketing award. Kriteria yang tidak bisa didebat, harusnya. Kalau kriterianya debatable ya akan berakhir seperti award-award an yang lain.
Tapi memang patut dipertanyakan jika disebut ‘bisa mengalahkan dalam waktu singkat’ karena dot com bisnis itu berproses. Ada siklus yang harus dilewati, ada perilaku konsumen yang harus terus menerus dipelajari, juga ada online attitude yang harus dimiliki oleh semua jajaran pelaku bisnis dot com dan lain sebagainya. Mendapatkan itu semua dalam waktu singkat? Hmmm….
Btw, ’singkat’ dalam statemen HK itu seberapa singkat ya?
May 28th, 2008 at 10:09 am
Mas Nukman,
Thanks atas posting2nya. Mudah2an bs menggerakan pemasar-pemasar di Indonesia untuk berpikir bukan saja Offline ATL/BTL tp juga bergerak ke Online.
Untuk komen di atas mengenai New Wave Marketing Award yg td mlm diberikan kepada Kompas Gramedia lewat Kompas.Com, memang ada bbrp hal yang perlu diklarifikasi:
Jadi kalau boleh saya numpang di sini ya, Mas Nukman.
1. Award ini diberikan bedasarkan inisiatif pemasar. Bukan melihat pada hasil. Menurut MarkPlus, langkah yang paling bagus supaya dapat menggiring pemasar untuk berpikir ke new wave marketing adalah untuk men-celebrate inisiatif mereka. Sebab kalau nggak kayak gitu, ya nggak bakal ada yang ‘melek.’
2. New Wave Marketing Award adalah award bulanan yang diberikan oleh MarkPlus, di mana kita ngasih ini ke pemasar bukan bedasarkan kategori industri, produk dsb, tapi balik lagi kita melihat inisiatif dari kampanye pemasaran yang dilakukan oleh si pemasar (bisa saja korporasi, produk, bahkan individu), antara lain salah satunya (1) pendekatan social media (artinya komunikasi yang dilakukan bukan lewat media tradisional/konvensional), (2) ekspiriensial , atau (3) interaktif lewat mobile.
3. Inisiatif-inisiatif ini akan dikumpulkan oleh MarkPlus setiap bulannya dan publik nantinya akan bs berpartisipasi untuk posting dan voting (lewat situs yang tengah disiapkan) utk inisiatif-inisiatif kampanye pemasaran yang new wave bedasarkan kriteria di atas. Insiatif terbaik setiap bulannya akan diumumkan pada acara rutin MarkPlusClub di Jakarta.
Pada akhirnya 11 Desember nanti di saat MarkPlus Conference 09 di Pacific Place, kita akan memberikan New Wave Marketer of The Year.
4. Di acara tadi malam, Pak Hermawan sedang berada di Kuala Lumpur, jd kita tayangkan speech beliau yang telah direkam sebelumnya. Sepertinya ada salah paham. Di rekaman itu sebetulnya yang Pak Hermawan bilang adalah Kompas.com juga baru-baru ini meraih Cakram Award stlh berhasil mengungguli Detik.com dan okezone.com
NL:
Jadi Kompas.com salah kutip ya?
5.Maksud kita dengan New Wave Marketing adalah praktek pemasaran yang lebih terbuka di mana pemasar melakukan engagement dengan konsumen secara horisontal, ekspiriensial, komunal, dan juga mempergunakan platform teknologi seperti internet dan seluler agar tercipta suatu keadaan pasar yang selalu connected, catalyzed, dan civilized. Itulah yang kami sebut sebagai pendekatan New Wave Marketing.
Mungkin segitu dulu Mas.
May 28th, 2008 at 10:13 am
yup, saya kira perlu juga ada award buat dunia dotkom di indonesia dan ada penjelasan mengenai kriteria dari pemilihan tersebut. di amerika aja ada “webby award”.
regards,
May 28th, 2008 at 10:29 am
siapapun yg menang, yg penting tetep dapet berita gratis
May 28th, 2008 at 10:55 am
Siapapun yg masuk ke industri media cetak harian cita-citanya selalu sama, mengalahkan Koran Kompas. Dan kita semua hal ini tidak pernah terjadi dan semuanya tetap hidup.
Hal yang sama sedang/akan terjadi di media online. Semua portal berita kompas.com, okezone.com, inilah.com, kanalone.com dan barangkali masih banyak lagi, pengin mengalahkan detik.com.
Pertanyaan yang menarik, perlukah mengalahkan detik.com?
Akan lebih bagus kalo semua hidup dan tumbuh sehingga pengguna punya pilihan mengakses portal berita yang lebih pas untuk mereka.
May 28th, 2008 at 2:05 pm
Setuju Pak Nukman!
Sok tau Pak Hermawan!
Dia khan bukan internet marketer kayak Pak Nukman..
NL:
Bukan soal internet marketer atau bukan, tapi apa alasan rasionalnya?
Saya yakin pak Hermawan tidak sok tau. Mungkin dia belum menyampaikan secara menyeluruh mengenai statementnya, atau memang Kompas salah kutip, seperti yang disampaikan oleh Waizly dari Markplus. (komentar #13)
May 28th, 2008 at 2:48 pm
saya juga kaget juga baca beritanya hehehe. kalo di bilang inovasi, detik lebih banyak produk unggulannya. Seperti detik bandung dan surabaya, ada blog nya juga, ada forumnya juga.
Cuman emang saya akui, kompas.com melakukan perubahan web yg lumayan radikal, dibanding dengan portal Kompas yang lama. Apaakah ini yg menyebakan kompas menang?
Fitur kompas.com yg paling ok menurut saya, di halaman pasangiklannya nya. ketik, transfer duit, beres deh hehehe. Even ga perlu konfirmasi. hebat..
May 28th, 2008 at 4:49 pm
NL:Jadi Kompas.com salah kutip ya?
Ya tampaknya mungkin salah paham spt itu mas.
NL:
Ok, terima kasih penjelasannya. Karena Waizly adalah tim MarkPlus, maka saya anggap ini jawaban resmi dari Markplus: bahwa kemungkinan Kompas salah kutip.
Sekali lagi kl boleh numpang klarifikasi bahwa apa yang dilihat dr new wave marketing adl ttg 3 hal:
1. Get social
2. Get experiential
3. Get mobile.
Jadi di situ kt lihat bahwa new wave mktg award sebenarnya bukan internet marketing award, internet cm salah satu elemen dr new wave mktg.tdk jg kt selalu bicara ttg online, krn kl utk hal ini kt serahkan ke yang ahli.
May 28th, 2008 at 4:50 pm
tidak ada yg instant dalam bisnis online,,, hmmm pantesan,, berratttt
May 28th, 2008 at 5:34 pm
Dari sisi akurasi/otoritas, DetikCom memang sering dikeluhkan. Di situ Kompas (cetak) lebih unggul. Tapi, dari sisi Speed (dan persepsi tentang kecepatan penyajian berita), Detik lebih unggul dengan model breaking news-nya.
Karena pasar Internet sangat butuh kecepatan, pasar cenderung lebih menghargai speed daripada akurasi.
Menurut saya, pertarungannya di aspek Speed (ditambah akurasi). Yg terjadi mungkin co-existence, jaraknya merapat, dan dua-duanya dikunjungi pembaca..
Ah… kok sok tahu sih… sorry…
May 28th, 2008 at 8:38 pm
Pendapat pak nukman masuk akal. Secara apapun dari sisi bisnis kompas belum punya lebih dari detik. Pageview kalah, berita kalah, pendapatan iklan juga kalah. Tapi terobosan kompas dalam mengadopsi web 2.0 sudah bersaing. Coba liat siapa yang ngasih free konten selain kompas? Detik masih memproteksi berita agar tak bisa di-copy paste. Siapa yang ngasih RSS? kompas sudah semua walaupun belum sempurna…detik belum. siapa yang ngasih fitur komentar? kompas sudah semua detik belum. siapa yang ngasih layanan video upload? kompas sudah detik belum. Detik baru ngasih free blog saja. Detik foto dan tv juga terlihat masih eksperimental. TV kompas dan images lebih profesional. Kompas web radio juga sudah. Streaming? kompas sudah sanggup bahkan TV One streaming di kompas.
NL:
Pendapat yang menarik mas Alino.
Terima kasih. Itu sebabnya saya masih percaya Kompas.com punya peluang besar untuk mengalahkan Detik.com, meski dengan catatan.
Saya yakin komentar pak nukman bukan untuk mendiskreditkan HK maupun karena pak Nukman dulu CEO detik.
NL:
Terima kasih.
Btw, dulu saya bukan CEO Detikcom, tapi Direktur IT dan Marketing.
May 29th, 2008 at 12:17 am
Alo semua & alo PAk Nukman, mau ikut nebeng pembicaraan seru ini neh ^^ Klo menurut analisis ki jago Loyo dan madam Loutre, salah satu keunggulan dari detik.com adalah besarnya basis pengguna mainstream usernya ( pengguna awam ), terutama para pekerja kantoran ( yang menurut prakiraan cuaca merupakan pengakses rutin dari situs portal berita ini ).
Kita semua tahu kan kalo para pekerja kantoran ini begitu dikasih akses internet tau2 punya banyak waktu luang di kantor sampe lupa sama anak-istri ^^ dan biasanya para mainstream user ini juga kagak mau repot2 untuk memulai kembali learning curve dalam menggunakan sebuah aplikasi atau layanan internet baru tanpa adanya sebuah insentif yang bisa memotivasinya untuk mencoba layanan baru tersebut( misalnya karena teman sekantornya udah pada banyak yang pake layanan tersebut, jadi gak keren donk kalo kagak ikutan pake - sample : Facebook, twitter - 2.0 buzz )
kalo Pak Nukman mengambil contoh Yahoo-Gooogle or facebook -myspace, maka klo boleh ( nggak boleh jg saya bakal maksa nih ^^ ) saya akan ambil contoh Digg.com Vs Yahoo Buzz. Tapi ini kebalikannya dari contohnya pak Nukman. Meskipun sebagai pionir dalam era user generated content (UGC), Digg ternyata tidak memiliki basis pengguna / mainstream user yang besar dan telah mencoba beberapa kali untuk meningkatkannya. Nah baru - baru ini Yahoo meluncurkan layanan terbarunya bernama Yahoo Buzz yang mengambil konsep yang kurang lebih mirip dengan yang dianut oleh digg dan ternyata cukup berhasil dalam menarik perhatian dari para mainstream user hanya dalam beberapa bulan peluncurannya, yang mana digg sangat kesengsem untuk menggarapnya. Yahoo dengan jeli melihat siapa basis penggunanya atau setidaknya jeli dalam membidik segmen user yang dituju ( Yahoo memiliki basis pengguna yang sangat besar dan sangat beragam di dunia online ).
Intinya adalah dunia online adalah dunia yang penuh dengan ide dan inovasi, sebuah belantara luas yang masih terbuka untuk berekslorasi. Bila Kompas mau serius dan mulai mencoba memahami basis penggunanya dengan baik, berani untuk inovatif - bukan ikut - ikutan inovatif; pasang blog, pasang forum, pasang comment, pasang badan, dll. - bukan tidak mungkin bisa menyalip detik atau bahkan menjadi legenda baru di ranah dunia peronlinenan Indonesia.
Mungkin bisa ambil pelajaran dari apa yang juga sedang dilakukan oleh New York Times baru - baru ini, yang menawarkan API - nya ( mirip facebook - yang nantinya developer bisa mengembangkan aplikasi - aplikasi menarik untuk situs portal berita itu ). Buat yang tertarik dengan artikel lengkapnya bisa di berkunjung ke : http://www.readwriteweb.com/archives/new_york_times_api_coming.php
Wah2 komennya panjang nih hehehe, bukan salah saya, tangan saya yang salah nih - kagak mau berhenti ngetik, padahal udah merem - tuh keliatan kan lagi merem ^^
Sorry pak Nukman saya suka bercanda sedikit ^^, terima kasih ya pak boleh nebeng komat - kamit di sini ^^
NL:
Top banget analisa Hanzo.
Keberhasilan Digg menjadi fenomena user generated content, namun kemudian mandeg, sulit berkembang lagi, memang kasus yang menarik. Terima kasih mengingatkan saya pada kasus ini.
May 29th, 2008 at 3:55 am
#13
>NL:Jadi Kompas.com salah kutip ya?
Akurasi Kompas.com saya amati memang mulai terlihat payah, beda dengan versi cetak. Salah cetak dan salah kutip nama cukup sering muncul. Lama-lama nanti publik akan maklum pada kesimpulan, o… ternyata media online begitu
‘Arah angin’ seperti ini bisa menguntungkan detikcom, dalam arti mengurangi tekanan dari kelemahan minor seperti itu.
May 29th, 2008 at 7:06 am
Fuuii…”…berpotensi mengalahkan,…dalam waktu singkat…”, itu dua kata kunci yg saya pelajari dari komentar-komentar diatas…
Bicara potensi…semua orang punya potensi. Mengalahkan, melewati prestasi yang telah dicapai oleh seseorang tidak berarti mengalahkan, karena kalah-menang itu terminologi yang ada dibudaya “megalomania” saja. Dalam waktu singkat, sesingkat apakah singkat itu.
Tapi okelah, saya belajar banyak dari komentar-komentar diatas….ha..ha..ha. Hidup Kapitalis…salam
May 29th, 2008 at 8:38 am
Semua bisa saja terjadi… saya kira kompas harus bisa mengalahkan detik.com karena menurut saya kompas mempunyai “senjata” untuk mengalahkan detik.com. Untuk bisa mengalahkan detik.com tidak hanya disiplin & inovasi, strategi juga harus disiapkan. Di saat kompas, okezone & detik saling bersaing… akan ada web baru yang muncul yg akan mengalahkan ketiganya. Jangan kira saingan detik hanya kompas & okezone… hehehe.. kita tunggu saatnya nanti
NL:
Saya juga sudah mendengar, akan ada pemain baru yang serius masuk ke wilayah ini.
Bisa jadi peta persaingan akan berubah dalam setahun dua tahun mendatang
May 29th, 2008 at 9:05 am
Ketika pertama kali melihat wajah baru Kompas.com, saya langsung bergumam, “This is what I want.” Sebuah tampilan portal baru layaknya portal-portal berita luar negeri yang mengutamakan kenyamanan dan keleluasaan bagi pembacanya. Tapi bukan berarti kemudian saya meninggalkan detik.com sama sekali.
Detik.com tetap saya akses, khususnya untuk running news seperti berita kecelakaan, atau pertikaian partai/pejabat. Saya punya hasrat tinggi untuk menjadi orang pertama yang tahu kelanjutan dari sebuah news-series. Untuk lingkup metro dan politik, detik.com memang jagonya.
Tapi sebatas itu saja. Selebihnya, saya lebih sering ‘mantengin’ kompas.com. Memang bener juga kata para komentator bahwa orang kantoran seperti saya punya kesempatan luas buat buka-buka website di meja kantor. Apalagi akses internetnya cepat dan spek komputer oke punya (thanks to my office, ;>). Jadi kenikmatan nonton di kompas.tv apalagi seleb.tv gak ada hambatan sama sekali…
Sebenarnya detik.com juga sudah lengkap, tapi bisa dibilang, secara tampilan, bajunya detik.com udah jadul alias out of date.
Saya pikir tidak ada yang salah dengan konsep desain detik.com. Dan kalaupun detik memutuskan untuk mempertahankan desainnya, itu juga tidak salah sama sekali karena detik memang hadir sebagai portal yang ringkes dan simpel.
Hanya saja saya lebih suka sesuatu yg fresh dan lega. Detik dengan arsitektur seperti itu, ditambah dengan banner-banner expand di setiap inci halaman, terus terang mengurangi kenyamanan pembaca seperti saya. Ya, mungkin seperti mall ITC yang dipenuhi dengan kios-kios dan lapak-lapak yang menyesakkan jalan….
Atau, mungkin itu cuma perasaan saya saja….
May 29th, 2008 at 10:13 am
mmm…semakin seru aja, pertarungan antar penguasa portal berita. Klo tiba - tiba kompas.com dan detik.com dikalahkan sama pemilik portal berita ecek-ecek…pasti keren.
di dunia internet gak ada yang gak mungkin ….
NL:
Keren sih kalau bisa. Tapi apa bisa? Faktor apa yang membuat bisa?
Mungkin saja , di Internet gak ada yang gak mungkin, tetapi untuk “menjadi mungkin” kan ada penyebabnya.
Bisa jelaskan penyebab apa yang bisa membuat portal ecek-ecek mengalahkan kompas.com dan detik.com?
May 29th, 2008 at 10:59 am
seperti biasa, nyampe kantor buka email di gmail. chating di yahoo messenger. utak utik mbah google. putar video di youtube. cari informasi di facebook. cari kabar lelang di ebay. bosennnnnnnnn baru deh buka detik. info kurang akurat buka lagi kompas.com . beres!! pulang kantor tetep nyetelnya tvri dangdut.
May 29th, 2008 at 11:05 am
Betul sekali Pak Nukman pastinya ada pemain baru yang lebih serius, peta persaingan pasti akan berubah. Secara inovasi kompas memang lebih unggul dan saya yakin keputusan detik.com untuk mengubah layout / wajah baru tidaklah semudah membalikan tangan, banyak pertimbangan… Sebenarnya mudah saja bagi detik.com membayar orang me-redesign web nya, namun tidak jaminan tampilan baru nya akan mempertahankan posisinya bisa jadi malah tergeser oleh kompas. Di sisi lain, sampai kapan kah tampilan detik.com seperti itu itu terus????
Kompas, detik, okezone bahkan web ecek - ecek sekalipun semuanya bisa memenangkan persaingan. Kalau boleh saya prediksi, jika ada tiga pilihan yaitu okezone, kompas, dan detik dengan posisi masing - masing sekarang ini, kompas jauh lebih sangat bisa mengalahkan detik & okezone. Maaf.. tidak ada maksud membela kompas, saya bukan dari orang kompas, hanya saja jika kompas tahu strateginya.
Semua ada ilmunya, roda kehidupan pasti berputar, semua ada masanya, inovasi tidaklah cukup, dibutuhkan strategi cerdas untuk bisa memenangkan persaingan… dan saya juga setuju dengan pendapat ahmadisa…
NL:
Pendapat ahmadisa terlalu general dan bombastis
Tanpa alasan rasional pula.
Sudah begitu, tidak diterangkan apa yang dimaksud dengan portal berita ecek-ecek.
Coba kalau dia bisa menerangkan definisi dan alasannya, pasti menarik
May 29th, 2008 at 1:31 pm
Pernyataan saya yang setuju dengan pendapat ahmadisa mengenai gak ada yang gak mungkin di dunia internet, Sekedar wacana, ada bisnis di internet yang mencapai omset mencapai 5 milyar per bulan, DIMULAI dari kos-kosan, dengan modal awal 2jt, tanpa karyawan, waktu itu tampilan web nya sangat sederhana, web nya pun bikin sendiri dengan membeli script di internet 350rb. Bisnis nya masih berjalan hingga sekarang, kini bisnisnya semakin besar…
NL:
Kalau yang seperti itu sih iya. Facebook pun dimulai dari garasi oleh mahasiswa.
Gara-gara sebagian sahamnya dibeli Microsoft, si empunya Facebook, Mark Zuckerberg, kini jadi triliuner.
Tapi itu OOT, ndak nyambung dengan “portal berita ecek-ecek bisa mengalahkan detikcom dan kompas.com“.
May 29th, 2008 at 1:47 pm
Lebih jelasnya… mungkin maksud ahmadisa bukan portal ecek - ecek yang mengalahkan detik maupun kompas, tapi web portal kecil yang gak ada apa - apanya dibanding detik & kompas.com yang dirintis dari awal / dari 0 yang dibangun oleh seseorang yang mempunyai visi kedepan, impian besar, penuh keyakinan & semangat, tanpa maksud untuk mengalahkan detik & kompas, semata - mata ingin memberikan manfaat kepada orang banyak, mendengarkan kebutuhan apa yang diinginkan oleh semua orang, dan hingga akhirnya sekarang menjadi besar… Saya sangat yakin itu… :))
NL:
Kita tunggu konfirmasi ahmadisa saja, karena yang dia katakan sangat jelas: Klo tiba - tiba kompas.com dan detik.com dikalahkan sama pemilik portal BERITA ecek-ecek…pasti keren. Tapi saya paham maksud anda, dari sisi bisnis, Detik.com dan Kompas.com bisa dikalahkan oleh model bisnis online selain portal. Saya setuju dengan pendapat itu
May 29th, 2008 at 4:31 pm
Weleh2 jadi malu nih dipuji sama Pak Nukman ^^
Sebenernya cerita digg. vs yahoo buzz ini dah agak basi karena dah sebulan yg lalu beredarnya, namun bisa jadi contoh yg bagus buat mereka yg sedang pada bersaing ( kompas,detik,okezone,mr.ecek-ecek wkwkwkkk ^^)
O ya Pak Nukman dah baca artikelnya ?? di blog itu ( readwriteweb ), banyak sekali postingan2 yg ok tentang trend web saat ini, kalo Pak Nukman dah tau sama blog ini, maaf ya Pak bukannya ogud mau sok tahu ^^, hanzo cuma ingin sekedar berbagi.
Hanzo juga punya beberapa ide nih yg mungkin menarik untuk disimak klo2 salah satu dari para BIG Guys ini mau untuk menerapkannya.
Pertama, mungkin mereka bisa membangun sebuah layanan start page seperti misalnya pageflakes / netvibes / my yahoo. Karena salah satu trend web ke depan adalah semakin maraknya penggunaan teknologi personalisasi. Kalo kompas punya startpage, para pengunjung pasti dimanjakan karena mereka bisa memperoleh berita yang lebih personal (disesuaikan dengan minat dan perilaku online mereka - tapi hati2 jgn sampai melanggar privasi).
Selain itu para pengujung perlu mendaftarkan diri untuk dapat menikmati layanan ini, tentu ini sebuah nilai tambah karena kalau bisa menangkap data konsumen data tersebut bisa menjadi sebuah aset yang berharga buat yang empunya situs web tsb (ini yg terjadi pada facebook yg ditaksir cukup mahal oleh microsoft meskipun riilnya pendapatan iklan FB tidak begitu signifikan dibandingkan nilai bukunya).
Kedua, mungkin juga bisa mempertimbangkan untuk mengadopsi teknologi wiki dalam sebuah segmen berita tersendiri (sebagai projek eksperimental). Teknologi wiki ini sungguh menarik dan sebaiknya jangan dipandang hanya sebagai sebuah aplikasi ensiklopedia saja. Bila kita sering mendengar istilah user generated content, maka pemanfaatan teknologi wiki bisa memicu apa yg disebut user collaborative content, dimana sebuah konten dapat dibuat,dirangkai,dan terus-menerus di perbaharui oleh aksi kolaborasi dari para penggunanya.
Coba bayangkan kompas/detik misalnya meluncurkan sebuah topik mengenai internet marketing, alih-alih hanya menambahkan fasilitas forum dan comment untuk mengalirkan pembicaraan tehadap artikel tsb, dengan pemanfaatan teknologi wiki, artikel yg berisi informasi yg bermanfaat tsb bisa dimanfaatkan lebih lagi oleh para user, sehingga dengan adanya segmen khusus tsb kompas bisa menjadi salah satu sumber referensi yg kaya di bumi Indonesia kita yg Tercinta ini - selamat tinggal budaya klipping koran … selamat datang wikikompas.
Woops lagi2 tangan saya ngetik sendiri aja nih ^^
Bravo Indonesia
Semoga Sukses selalu ya Pak dgn blog2 dan situs2 web Bapak lainnya.
May 30th, 2008 at 8:31 am
pa NL, kayanya bukan cuma di bisnis dotcom yang tidak bisa instant. dibisnis-bisnis lainpun sebenarnya sama. selama si market leader terus melakukan inovasi, si follower dan si challenger, biasanya cuma bisa di tangga ke 2 atau di tangga-tangga berikutnya. kalau market leader jatuh, biasanya bukan karena diserang pesaingnya, melainkan karena di jatuh oleh tindak-tanduknya dan prilaku sendiri. market leader biasanya seperti orang kaya, mati bukan karena kurang makan, tapi mati karena penyakit jantung koroner, akibat kebanyakan makan dan jarang olah raga.
May 30th, 2008 at 10:58 am
Di tulisan bpk ada menyebutkan Malaysia sebagai anomali portal berita. Boleh tahu pak link nama situs portal berita di Malaysia yg besar seperti detik.com?
NL:
http://www.Malaysiakini.com
May 30th, 2008 at 11:07 am
Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada media terbesar di Indonesia ini, namun, semalam saya sempat chit chat dengan pak Hermawan via email, dan sepertinya kutipan yang muncul “kurang lengkap”. Dan seperti yang ditulis oleh Waizly di atas, Kompas.com menggunguli detik.com dalam mendapatkan cakram award.
Hal lain, sebenarnya yang layak ditunggu dan dicermati adalah perfoma new “kompas.com” yang setelah re-born. Apakah mampu menyalip detik.com, kapan, apa strateginya.
Saat ini sebagai megaportal berita, kompas.com masih mendapat berkah dari nama besar Kompas. Dan, dalam reborn kali ini KCM (dahulu) mencoba membuat strategi yang cukup apik (tunggu bahasannya di vlisa.com). Namun, ketika bisnis sudah berjalan, dan jasanya dinikmati oleh pelanggan, maka pasar lah yang akan menentukan. Dalam hal ini pembaca media online dan cetak tentu beda karakter dan neednya. Nah, apakah sebagai portal berita, kompas.com mampu memenuhi need pembacanya, dan membuatnya loyal,seperti pembca Kompas cetak. Kita tunggu saja.
NL:
wah, saya menunggu tulisan dengan antusias. Hayo buruan ditulis mbak Lisa
May 30th, 2008 at 3:46 pm
Sekedar membuka wacana para pembaca yth. Mohon maaf kalau komentar saya sedikit bersifat “mengajar”, tentu dunia internet ini begitu luas dan sangat transparan dalam hal informasi data. Tapi untuk soal ide serta target bisnis dari masing2 perusahaan online menurut saya masih tetap jawaban realnya ada pada masing2 perusahaan.
Untuk soal data traffic & statistik webnya, real akurasinya menurut saya ada pada masing2 admin portal. Makanya jika bicara soal data traffic & statistiknya, mohon maaf, saya tidak percaya pada compete, alexa dll.
Adapun soal penghargaan oleh kompas.com, saya rasa sah2 saja karena mereka secara kasat mata sudah melakukan perubahan2 yg cukup drastis, baik dari sisi design dan isi content sendiri.
Dan perlu dicatat, untuk urusan penghargaan, saya berpendapat ini adalah murni bisnis alias UUD.
Impact dari bisnis ini sungguh luar biasa, apalagi untuk perusahan raksasa seperti Kompas Gramedia yang bisa dengan mudah mengkapanyekan impact penghargaan ini kepada kalangan pebisnis.
Boleh jadi secara traffic (compete.com & alexa.com) terlihat perbedaan2 yang signifikan, tapi untuk urusan UUD (bisnis) dalam hitungan hari siapa saja bisa kalah.
So, satu persolahan jika dipandang dari prespektif yg beda, tentu mempunyai makna yg beda pula.
Cheers!
Bur
May 30th, 2008 at 3:58 pm
Betul #30 vlisa, yg menyebut ‘kutipan yang muncul “kurang lengkap”’. Akan lengkap jika membaca postingan menarik tentang award ini di http://budiono.blogdetik.com/2008/05/30/detikcom-kompascom-cakram-award-dan-ngirit-award/
May 30th, 2008 at 4:47 pm
ada tanggapan menarik dari pak Budiono Darsono di http://budiono.blogdetik.com/
May 31st, 2008 at 3:39 am
dah liat launcingnya kompas.com lom, keren …
Ikut nimbrung masalah kompas vs detik : http://ahmadisa.blogsome.com
June 1st, 2008 at 2:56 am
Detikcom terlalu low profile. Harusnya tepuk dada dikit bolehlah. Contohnya aku baca kompas.com mengklaim pageviewsnya 40 juta/bulan. Padahal detikcom sudah lama bertengger pada kisaran 6 juta/hari - 11 juta/hari. Artinya per bulan minimal 180 juta pageviews. Kayak Cakram Award itu, capaian detikcom sebenarnya lebih berarti, setelah membaca link ini http://budiono.blogdetik.com/2008/05/30/detikcom-kompascom-cakram-award-dan-ngirit-award/ Atau mungkin detikcom takut dicap narsis, jadi hal2 begitu tidak dipamer-pamerkan lagi. Padahal dalam persaingan itu kadang perlu. Yang kecil digede-gedein juga tidak haram.
June 1st, 2008 at 2:39 pm
Saya kira yang perlu dibenahi detik.com saat ini adalah tampilannya yang lebih mirip sebagai portal iklan ketimbang portal berita. Dibandingkan dengan Kompas, Detik sangat jauh dari sisi kerapian dan estetika. Dengan kemampuan dan aset yang mereka punya, seharusnya tidak susah untuk mendesain ulang layout situs mereka menjadi lebih user friendly dan informatif.
June 1st, 2008 at 9:33 pm
Kompas Gramedia Grup boleh menjadi gurita raksasa di media cetak, namun untuk media portal, saya sangat setuju dg Pak NL, tidak bisa dlm waktu singkat walau dalam ukuran 1 - 3 tahun ke depan. seorang Rupert Murdoch pun belum tentu berhasil walau mengakuisisi sebuah News Portal klas dunia. Bukan kita tidak yakin SDM dibawah komando Pak Yacob. Kompas gitu loh…..,(siapa sih yg lawan), namun bisnis adalah bisnis, sekedar ctt. bagaimana dg stasiun TV7 ?. padahal materi banyak bila di tayangkan di TV7 dari gramedia grup. Saya jd ingat waktu sekolah kurun th.90-94 ttg megatrend 2000 dlsb. ternyata hampir dikatakan luluh lantak untuk Indonesia. Ke Pakaran Pak HK dan beliau2 pakar lainnya tidak diragukan lagi, namun ttp tidak bisa merubah sebuah perusahaan dalam waktu singkat atau dalam kurun waktu tertentu tetap diatas. karena yg beliau2 advis, ada yang telah ganti pemilik, bahkan jdi milik publik…..publik asing. saya kalau diibaratkan fans band musik, fans berat detik.com. tapi saya juga ingin detik merubah penampilan, lebih freshh…(kata iklan). kenapa harus takut ditinggal penggemar.kalau yakin lagu2nya tetap diterima penggemar. Iwan Fals, Dewa 19, Slank. tetap mempunyai massa walau sdh beruban. Lha kalau ttp ‘ngeyel’(terlalu pede) untuk tidak merubah penampilan….ya..mending dengerin manthous atau balawan. Adapun award2 bukan tolok ukur utama, karena award ada yg murni… award, tapi ada juga award yg disesuaikan…. Trims Pak NL.
June 2nd, 2008 at 8:57 pm
ah…hermawan kartajaya…cuma digede-gedein aja…buktinyanya dulu ia sangat anti MLM, sekarang ia bela MLM…pakar kok begitu bisa berubah 180 derajat…jadi ya tunggu aja…ia bilang bahwa kompas.com tak akan ngalahin detik.com
June 3rd, 2008 at 12:16 am
Langkah Kompas untuk memperbaharui tampilan portalnya adalah langkah yg bagus. Boleh ditebak deh, setelah ini Detikcom pasti ganti tampilannya yg pakai frame dan penuh iklan.
Selanjutnya Kompas bakalan buka blogging service, kayak BlogDetik, dan pasti pake Wordpress.
Semua koq berebut, bikin suatu yg inovatif kenapa?
June 3rd, 2008 at 11:42 am
Nggak tau kenapa kompas belum buka layanan blog kaya detik meskipun fitur blog sudah ada di videoku.tv salah satu produk baru megaportalnya Kompas. Mestinya kalau mau all out web 2.0 blog itu kudu alias wajib. Mungkin Kompas masih tarik ulur mau bebasin orang boleh pakai nama kompas atau tidak. Tapi asik juga kalau punya alamat dana.kompas.com
June 4th, 2008 at 1:26 pm
yang paling aku gak suka dari detik.com adalah kebanyakan ads nya. orang jadi pusing kalo mau baca berita. kalo lagi pasang anti pop up pasti tampilan detik.com rusak. beritanya emang kadang lebih cepet dari kompas.com, tapi kompas.com punya sajian yang lebih enak dilihat.
June 5th, 2008 at 7:53 am
kompas.com emg keren! jauh dibanding detik.com klo kita liat dari berita2nya, kompas.com isinya lebih beragam dibanding detik.com. dari berita, kompas.com lebih akurat dan terpercaya n ga pernah keluar dari kode etik jurnalistik. Karena emg basiknya dari surat kabar, beda dibanding detik.com yg masih daun muda dibanding kompas.com dalam hal jurnalistik. Dari segi tampilan site yang sekarang, kompas.com lebih kliatan profesional, warna site elegan, ga bikin sakit mata. Apalagi teknologi di dlm sitenya sendiri yg emg keren bener sekarang. detik.com warna sitenya bikin sakit mata. Emg sih cepet berita detik.com lebih cepet dibanding kompas.com, tp kadang kurang akurat. Dan bahasa penulisannya kurang jurnalis. Itu pendapat saya =)
Klo detikcom ga segera berubah, bakalan susah ngejer kompascom nantinya
June 5th, 2008 at 10:42 am
Oh ya di America yang menang New York Times,
Dari mana dan sejak kapan? Google, Yahoo itu siapa mas?
NL:
Yang dibandingkan adalah media tradisional dengan media (berita) online. Kalau di AS, New York Times dengan portal berita di sana. Bukan dibandingkan dengan Google, Yahoo dkk. yang bukan portal berita. Di sini pun, yang dibandingkan adalah sama-sama portal berita: Kompas.com yang datang dari koran cetak vs Detikcom yang murni online.
hex3 pasti mas ini type orang “content is king”.
Bukankah internet itu content mas?
Detik ataupun kompas cuma kontent, orang baca berita online paling lama satu jam, kompetitor mereka blogger yang menyajikan data dan journalistik high quality.
Kalo traffic, Indonesia itu ngomong friendster. Yang diterjemahkan menjadi SMPN 4 Sumenep lebih peka terhadap social media teknology dari pada orang dewasa.
skytradeinc impact
June 5th, 2008 at 10:45 am
P.S.
Kompas Gramedia
Internet could hurt their revenue because Google have all the informations.
June 5th, 2008 at 3:42 pm
Seru memang melihat persaing portal berita, tapi jujur saya bosan, dan menunggu konsep lain yang lebih fresh…
Just wait & see…
“Andy OrangeMood is Online Advertising Consultant”
June 5th, 2008 at 3:59 pm
Menarik mengikuti perkembangan persaingan portal berita antara detik.com, kompas.com dan okezone.com. Setelah gebyar launch kemaren, menurut data alexa terbaru (s/d 2 Juni kemaren) jumlah pageviewnya detik (bukan Reach atau Rank) sudah kesalip sama kompas.com.
Namun begitu, detik.com kayaknya masih unggul kalo itungannya digabung dengan anak2nya, sementara kompas.com kan sudah sama anak2nya. Ini menunjukkan persaingan kayaknya bakal lebih ketat lagi di bulan2 mendatang, belom kalo detik bikin perwajahan baru atau okezone made something different. Let’s wait!
June 5th, 2008 at 5:22 pm
Menanggapi masalah page view tinggi yang disebut2…
Seharusnya kita sudah mulai mengerti kalau Page View tinggi tidak selalu website tersebut ramai / bagus lho, bisa saja teknologi dan arisitekturnya jelek…
Bisa diskus disini :
http://imid.wordpress.com/2008/06/05/page-view-yang-tinggi-web-ramai-bagus-untuk-beriklan/
Thanks.
“Andy OrangeMood is Online Advertising Consultant”
June 6th, 2008 at 11:45 am
Yg aku pernah dengar dari Kang Nukman detikcom sdh lama menyiapkan perwajahan baru, tapi terkendala pemasang iklan. Itu semua memiliki implikasi hukum yang pelik. Brand ‘X’ yg punya kontrak ‘n’ waktu untuk posisi ‘T’, tentu tdk serta merta mau digeser posisinya. Beda dengan kompas.com, karena relatif blank dgn iklan, maka lebih mudah reborn. Anyway, posisi detikcom aku lihat blm tertandingi. Yg dicompare di alexa melawan kompascom dan okezone itu baru detikcom aja masih jauh gapnya. Turunan detikcom lainnya yg bertebaran di ranking cukup atas tdk dihitung, kayak detiksport, detikhot, detikfinance, etc. Makanya detikcom nampak kalem meskipun ada black campaign disusupkan di mana-mana, kayak di forum ini juga. Mugkin berkat pengalaman duel di masa lalu head to head lawan brand dotcom lainnya.
June 8th, 2008 at 4:28 am
bukannya mau bikin rusuh atau ngebanding2 cuma mau share aja data yang terjadi di alexa.com sebagai referensi dari postingan mbak NL ini.
coba buka link ini http://www.alexa.com/data/details/traffic_details/detik.com
nah lihat Traffic History Graph for detik.com
coba kawan2 compare detik.com dan kompas.com
1.nah data reach yang terjadi detik.com menang telak dari kompas.com.
2. data rank nah walaupun detikcom masih diatas, nampak dari ilustrasi graphic kompas.com menanjak naik beware detikcom
3. ini yang gawat dari data pageviews / user dimana detikcom berhasil diKO telak oleh Konglomerasi Media gabungan Kompas Gramedia ini dan itu terjadi baru2 ini sekitar tanggal 31 mei - 1 juni so inikah kebangkitan kompas.com, nampaknya detikcom harus lebih berwaspada
June 8th, 2008 at 9:41 am
Menarik banget, memang itu perlu ada kompetitor agar dalam penyajian tetap menarik dan uptodate. saya sendiri sudah sejak 2 minggu terakhir lebih suka ke kompas.com. buat saya, detik sudah terlalu komersil, iklannya sering nutupin berita (ini kesalahan paling dasar dalam design flash), dan yang paling sangat mengganggu, detik tidak memfilter komentar2 di setiap beritanya sehingga bener2 penuh provokasi, celaan bahkan SARA. buat konsumen seperti saya yang penting uptodate, dan informatif, jangan tambah pusing gara2 komentar2 yang berbau SARA seperti di detik.
June 9th, 2008 at 12:23 pm
Seru banget kayaknya pertarungan menjadi yang terbesar antara Detik, kompas dan okezone hehehehe gimana lagi ya kalo ditambah sama Kanal One ??? hehehehe gak mau berprediksi ahh biar pak Nukman yang prediksi aja
July 8th, 2008 at 4:38 pm
Persaingan memang sangat menarik, setelah myrmnews.com inilah.com muncul ada http://www.berita8.com terus adalah kanalone.com nanti terus dech merambah naik , asyikkkk
July 9th, 2008 at 10:25 am
http://www.berita8.com tanpa tahu malu menjiplak beberapa artikel dari yogyes.com. Sudah dikomplain tapi gak ada tanggapan. Bagaimana mau ikut bersaing kalo beritanya jiplak sana-sini?
Artikel asli:
http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-culinary-tours/pecel-baywatch/
Artikel jiplakan di berita8.com:
http://www.berita8.com/news.php?cat=10&id=2120
July 9th, 2008 at 12:12 pm
Saya rasa masalah jiplak wajar kalau dikasih sumbernya. cozz persaingan memang begitu, detik maju terus kompas oklah, sama sama media indonesia . maju terus
July 9th, 2008 at 2:02 pm
Mas Andi iki piye tho. Menjiplak kok dibilang wajar
. Apalagi jelas-jelas yang dijiplak sudah menyatakan keberatan.
July 9th, 2008 at 6:37 pm
Ambil hikmah nya saja…pasti nggak ada niat buruk. Toh intinya menginformasikan kepada kalayak banyak…
persaingan media memang tinggi…seperti detik.com yang sudah lama masih aja ada yang sirik…kompas.com menyundul, okezone.com apalagi…ya sama2 lah cari dapur ngebul..gitu aja pusing toh mas…
July 11th, 2008 at 4:25 pm
Anomali….siapa tahu tahun depan bukan detik atau kompas atau media dotcom yang kita kenal sekarang yang jadi “leader”…jadi jawaranya kedepan belum bisa ditebak…
August 10th, 2008 at 12:02 pm
[...] kesuksesan kompas.com mengalahkan detik.com dalam hal pageview bisa berlanjut dengan kesuksesan kompas.com mengalahkan detik.com secara keseluruhan?. Pertanyaan ini hanya akan bisa dibuktikan seiring dengan berjalannya [...]