Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Free Economy, Ekonomi Memperebutkan Perhatian

July 22, 2009
Oleh Meisia Chandra

Belum lama ini sebuah majalah HR yang cukup besar di Singapura (Human Resources) menggratiskan langganan majalahnya dengan cara mendaftar di situs web. Trend menggratiskan content (untuk menyelamatkan kelangsungan majalah) pun telah merambah dunia HR. Seorang kenalan dari Malaysia bercerita kepada saya,  bahwa majalah HR (berbayar) di sana, sulit bertahan. Banyak yang sudah kadang terbit kadang tidak. Majalah Human Resources kemungkinan akan mengawali sebuah gelombang baru penggratisan content di dunia media HR di Asia Tenggara. Melihat fenomena ini, saya pun berpikir, mungkin Chris Anderson benar.

Dalam bukunya yang terbaru, Free—sesuai dengan judul dan content yang diusungnya, buku ini benar-benar dibagikan secara gratis di internet—penulis Long Tail itu menerangkan mengapa free (gratis) akan menjadi masa depan ekonomi dunia. Dia juga memaparkan beberapa model bisnis masa kini yang berbasis gratis, lengkap dengan contohnya. Tulisan ini tidak akan membahas buku Free karena bisa dibaca langsung secara online.

Salah satu argumen Chris Anderson adalah bahwa segala sesuatu yang “terbuat dari ide” harganya akan terus turun. Kita melihat, khususnya di dunia online, orang-orang membagikan gagasan-gagasannya secara cuma-cuma. Mereka tidak mendapatkan bayaran (dalam bentuk uang, secara langsung), tetapi sebagai gantinya, mendapatkan perhatian.

Di era membanjirnya informasi dan data (secara gratis) di internet ini, menjadi tidak relevan lagi mengenakan charge. “Kalau ada yang gratis, buat apa bayar?” demikian saya pernah mendengar komentar seorang mahasiswa. Bagi saya, dia bagaikan menyuarakan suara konsumen kita di masa depan. Konsumen yang telah terdidik dengan baik oleh Google dan beberapa brand besar di Internet yang cenderung menggratiskan content dan layanannya.  Mereka sudah terbiasa menggali harta karun di Internet: lagu, film, buku, jurnal, data-data, semua tanpa biaya. Inilah mungkin gambaran konsumen kita di masa depan yang sudah di depan mata.

Pada saat yang sama, dengan begitu banyaknya orang yang memberikan informasi secara gratis, siapakah yang akan kita pilih untuk kita berikan perhatian kita yang terbatas ini? Ekonomi yang berlaku di online kemudian adalah ekonomi merebut perhatian. Gagasan dan pemikiran kita tidak lagi kita jual untuk mendapatkan uang secara langsung, tetapi untuk merebut perhatian. Di era banjir informasi ini, perhatian menjadi mahal. Perhatian (konsumen) adalah capital. Setelah mendapatkan perhatian (konsumen), lalu tinggal bagaimana caranya meng-uang –kan (monetize) perhatian tersebut.

Ambil contoh. Sebuah deal antara Amazon dengan penerbit surat kabar Dallas Morning News. Pemilik surat kabar tersebut menolak deal dengan Amazon, karena merasa model yang ditawarkan tidak adil bagi mereka. Amazon menawarkan model 70-30, dimana Amazon mendapat 70 persen dari revenue (yang diperoleh dari langganan Dallas Morning News di Kindle, peralatan membaca content e-book dari Amazon) sementara Dallas Morning News sebagai sumber content hanya mendapatkan 30 persen. Deal ini menunjukkan Amazon yang hadir dari generasi internet menilai tinggi harga sebuah penyebaran informasi dibandingkan dengan harga informasi (content) itu sendiri.

Dengan penyebaran informasi yang semakin luas (dengan Kindle), maka Dallas Morning News akan mendapatkan semakin banyak perhatian. Hal yang sama berlaku ketika banyak koran di Amerika berubah menjadi koran gratis. Prinsip ini juga berlaku ketika majalah Human Resource di Singapura tadi memutuskan untuk memberikan free subscription. Alih-alih mendapatkan bayaran atas content, mereka memilih mendapatkan perhatian dulu, baru setelah itu diuangkan, dalam bentuk yang lain.

Di PortalHR.com, karena semua content kami gratis, kami juga tidak dapat memberikan bayaran kepada penyedia content. Pernah ada seorang penulis (di bidang HR) yang menolak kerjasama dengan kami karena kami tidak dapat membayar sebuah rubrik yang akan ditulisnya secara regular. Pada saat itu saya belum berpikir tentang Free Economy ataupun ekonomi memperebutkan perhatian ini, tetapi saya hanya tidak punya budget. Kami membayar (meskipun tidak banyak) hanya untuk rubrik kolom yang menerima kontribusi dari pihak luar. Untuk semua content dan data yang lain, tidak ada yang kami bayarkan kepada pihak luar. Mereka (penyedia content) memberikan content/informasi/data secara cuma-cuma. Sebagai gantinya, mereka mendapatkan perhatian (dari audience yang relevan dengan produk mereka).

Ekonomi memperebutkan perhatian ini juga yang melandasi saya untuk tidak bertindak, misalnya, ketika ada yang mengambil content PortalHR.com. Asal dia menyebutkan sumbernya, saya rasa tidak apa-apa, dalam free economy ini. Yang kita rebutkan adalah perhatian, bukan lagi uang secara langsung. Lama-lama orang akan tahu siapa yang menjadi source informasi yang terpercaya, di situlah akan menjadi tempat orang-orang berkumpul. Bahkan ada orang yang mengumpulkan content PortalHR.com dalam bentuk WORD dan kemudian meng-upload-nya menjadi e-book di Scribd. Selama dia mencantumkan bahwa itu adalah content PortalHR.com, saya rasa tidak apa-apa. Ada lagi orang yang menggunakan “portalhr” sebagai meta tag di halaman utama situs web mereka, agar mendapatkan kunjungan dari search engine dengan keyword “portalhr” mungkin. Wahhh, ini adalah pemanfaatan keyword…  tetapi di sisi lain ini juga menunjukkan bahwa portalhr adalah keyword dan brand yang terkenal di kalangan HR.

Perkembangan Internet telah memaksa kita berpikir dengan cara-cara baru, yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya dalam dunia publishing. Jadi, selamat datang di free economy, selamat merebut perhatian!

9 Responses to “Free Economy, Ekonomi Memperebutkan Perhatian”

  1. Arham says:

    kalo bisa tolong ditambahkan link downloadnya… artikel ‘free’ sudah pernah dibahas navinot sekitar 2 minggu lalu. Namun tetap sama hanya sebatas US reader saja… tidak nyaman kalau harus berganti2 IP

  2. wiwit says:

    sudah seharusnya FREE , karena persaingan media – media dengan target readers yg spesifik begitu , kalau nggak ya pasti gulung tikar he he he

  3. ndoro kakung says:

    tantangannya adalah bagaimana membuat yang gratis itu tetap mampu mendatangkan pendapatan bagi si penyedia layanan. bagaimana misalnya penyedia layanan mendapatkan uang agar mampu terus berproduksi? katakanlah dari mana penyedia content memperoleh dana untuk membayar server?

  4. janu says:

    wah, asyik donk kalo semuanya free

  5. Sebenarnya tidak ada yang baru dalam fenomena ini. Dari dulu kita juga mendengarkan “content” dari radio dan melihat “content” dari tv dengan gratis. Banyak juga majalah dan koran yang dibagikan dengan gratis. Mereka semua hidup dari iklan, yang memang berkepentingan mendapatkan perhatian konsumen.

    Masalahnya di kita, orang yang mau membayar perhatian konsumen online itu masih sedikit. Para pengiklan masih asyik beriklan di dunia offline. Kalau di Inggris dan AS tahun lalu ad spending online sudah mengalahkan ad spending di print media, di Indonesia mungkin masih harus menunggu bertahun-tahun sampai iklan online bisa menghidupi kebanyakan penyedia konten gratis itu.

    Saat ini, hanya pemain besarlah yang bisa hidup dengan konten gratis karena kemampuan mereka menarik pengiklan secara langsung. Penyedia konten gratis kecil-kecilan dengan pageviews hanya ribuan per bulan belum bisa hidup.

    Komunitas penyedia konten gratis akan tumbuh pesat bila long tail publisher itu ketemu dengan long tail advertiser. Agregatornya yang besar adalah Google. Saat ini Google belum menyediakan adsense for content untuk situs berbahasa Indonesia. Kalaupun dipaksakan, perklik dan CTR-nya rendah sekali karena kompetisi utk keyword bidding rendah dan relevansi rendah. Ujung-ujungnya, kebanyakan publisher kecil hanyalah menjadikan situs/blognya sebagai hobi.

  6. Titian says:

    Quote “Salah satu argumen Chris Anderson adalah bahwa segala sesuatu yang “terbuat dari ide” harganya akan terus turun.”

    Bagaimana dengan kekayaan intelektual?

    Apakah nanti akhirnya tidak ada lagi paten?, semua bisa membajak / meniru?

  7. taryono putranto says:

    Kata : Konten is King, maka sekarang king is free. kecuali Barang/real goods.

  8. kakday says:

    hmmm… 70-30
    yang free pasti memperoleh perhatian yg besar,
    ide harganya pasti turun, setuju kalo kita tidak berinovasi

    regards..

  9. muntaha says:

    ada batasan2 tertentu sebuah informasi itu di share secara free dan harus berbayar. masalahnya batasan itu sekarang mulai bergeser..

Leave a Reply




nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
Gita Pramestyani @pramestyani
Sr Commerce Strategist
tweet it
adhitiasofyan @purnayuda
Sr Campaign Strategist
tweet it
Jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it
Anggie Harygustia @mister_anggie
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Meja Belajar: - terimakasih untuk informasinya

  • intisar primula: - nice artikel Pak thanks

  • Zy: - Setuju nih sama Mas Akbar. Apakah lebih efektif menggunakan TVC atau social media juga...

  • wawasan online: - Infonya menarik, tetapi jaman sekarang sepertinya sudah banyak yang berubah.

  • Alief: - Nice inpoh gan :D

  • Pengembangan Diri: - Pikiran terbuka terhadap peluang bisnis online yang besar.. Terima kasih Bu...

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting