Ketika membaca penjelasan Web 2.0 versi O’Reilly, saya menemukan kata-kata Long Tail. O’Reilly menyebutkan, salah satu ciri Web 2.0 adalah long tail, alias ekor panjang. Jujur, awalnya saya kurang ngeh dengan istilah itu, meski bisa meraba apa maksudnya. Untung saya menemukan buku The Long Tail karya Chris Anderson. Untuk para dotcomers, buku ini wajib dibaca jika Anda ingin sukses memasuki bisnis online masa depan. Bagi marketer, ini buku wajib baca jika Anda ingin memahami perubahan perilaku pembeli di era digital.
Saya sudah meresensi buku The Long Tail di PortalHR.com. Namun di blog yang dibaca oleh banyak dotcomer dan emarketer ini saya hanya akan memberikan tambahan: bahwa buku ini hasil karya seorang yang dengan tekun meriset dan membedah apa yang terjadi di Amazon, Rhapsody, e-Bay, serta puluhan bisnis dotcom yang lolos dari kematian. Inilah bisnis dotcom yang oleh O’Reilly dimasukkan sebagai Web 2.0.
Apa itu ekor panjang? Saya tidak akan berpanjang lebar. Intinya: ciptakan pilihan sebanyak mungkin, sampai tak terbatas, sehingga memunculkan kebutuhan yang tak terbatas pula. Amazon menyediakan database buku yang amaaaaaat banyak, yang tidak akan ditemukan di toko buku manapun. Member E-bay menyediakan barang seaneh apapun yang tak ada di pasar. Rhapsody menampung database lagu yang luar biasa banyak, yang tak mungkin disimpan di toko musik.
Grafik penjualan di Amazon menunjukkan: buku-buku best seller laku seperti kacang goreng. Tapi buku yang kurang laku pun terjual, meski hanya satu buku per kuartal. Dan inilah uniknya: tak ada satu pun buku yang tak laku. Jika dibuat grafik, buku yang lalu membentuk kepala, sedangkan yang kurang laku membentuk ekor. Karena yang kurang laku itu jumlahnya amat banyak, tak terbatas, maka membentuk ekor yang amaaaaat panjang. Namun, jika penjualan buku yang kurang laku ini dijumlahkan, angkanya LEBIH BESAR daripada penjualan buku best seller!.
Hal yang sama terjadi pada penjualan musik di Rhapsody maupun lelang barang-barang khusus di e-Bay!
NB:
Kalau ingin beli bukunya secara online, bisa dipesan di Kutukutubuku.com.
Referensi ini sebagai kado ulang tahun pertama toko buku online Kutukutubuku.com. Semoga bisa berjaya menjadi Amazonnya Indonesia.
rasanya kurang pas kalo mereferensikan ‘Long tail’ kalo cuman dari seabuah sumber.
Sebagai reference mungkin Pak Nuk blom baca blog yg berhubunagn dengan Long Tail + Web2.
http://www.minger.net/
http://blog.sli-systems.com/2007/02/tthe_long_tail.html
http://www.longtail.com/the_long_tail/
jangan lewatkan blognya Chris anderson: http://www.longtail.com/the_long_tail/
thanks referensinya… masuk daftar belanja neh
Terima kasih tambahan refensinya mas Wawan dan mas Ufan.
Di buku The Long Tail sendiri dikisahkan bagaimana Anderson akhirnya memilih judul the long tail dan bukan yang lain, serta bagaimana prosesnya menulis buku. Itu hasil kajian yang panjang, yang diikuti dengan ratusan seminar dan paparan. Blog The Long Tail yang disebut mas Wawan dan Ufan termasuk berperan dalam melahirkan buku ini.
Oohh, jd itu yah yg dimaksud The Long Tail. Kirain apa?
Soale, begitu mendengar web2.0 yg kebayang tuh spt-nya langsung ke layanan web yg menjadikan partisipasi user & interaktivitas sbg panglima.
Salam.
Terima kasih mas Nukman, mas Wawan & mas Ufan
Referensinya sangat bermanfaat
begitu saya baca resensi the long tile di di blog mas nukman,sorenya saya langsung beli he..he.. nampaknya menarik.
salam untuk semua, semoga sukses selalu. mas nukman, kapan ke bandung ?
Pak Nukman, terimakasih banyak atas kado yang sangat thoughtful dan berkesan ini! *Terharu*
Kutukutubuku.com juga ngebahas long tail di blognya:
http://kutukutubuku.blogsome.com/2007/02/20/diskusi-buku-the-long-tail-markplusinc/
Sukses terus buat Pak Nukman dan project-projectnya!
Hari senin 19 februari 2007, MarkPlus Institute of Marketing sebagai subsidiary MarkPlus Inc. bekerjasama dengan Gramedia, mengadakan diskusi buku “The Long Tail” Karya Chris Anderson ini.
Pembicaranya mas Yuswohady (MIM Head Division), Yoris Sebastian (Hard Rock Cafe) dan Bayu Hanantasena (Indosat group Head).
dari pembicaraan yang bergulir,Fenomena Long Tail memang sudah semakin terasa dan tak terhindarkan lagi, dari tanggapan-tanggapan para pebisnis yg mengikuti diskusi buku tsb terlihat mereka sangat antusias dan sangat menyadari akan fenomena ini, mereka makin sadar persaingan bisnis bakal makin beragam.
Kompetitor anda bukan hanya toko sama disamping anda, tetapi bisa juga seorang jago programming dengan bisnisplan handal yg besok membuat toko online untuk produk anda.
Now Everybody Can be a Producer!
Menurut prediksi kedepannya, effect long tail ini akan mengakibatkan hilangnya/ mengecilnya fungsional beberapa chain bisnis, semisal Recods Labels, Production House, Penerbit, Public Relation ataupun toko buku konvensional.
Contoh kongkretnya seperti ini: Dijaman serba costless ini, saya bisa saja dengan mudah membuat sebuah buku elektronik (e-Book) dan mempublikasikannya di internet, para pengunjung web saya dapat membeli e-book saya secara langsung ke saya tanpa melalui jasa penerbit dan distributor buku.
Loh ko bisa? ya bisa saja. Modal saya hanya perlu tekun ngetik bikin buku yang bagus dan bermutu, lalu convert ke pdf, dan pasang di web. Mudah~Simple~Murah.
Saya menghilangkan fungsional penerbit dan distributor buku, jasa percetakan penerbit saya gantikan dengan jasa pem-pdf-an naskah buku, sedangkan jasa distributor penjual buku (toko-toko buku konvensional) saya ganti dengan penyimpanan tak terbatas di website saya (tergantung space hosting yang kenyataanya harga hosting semakin murah dan berkompetisi merebut konsumen)
Nah, jadilah sebuah buku elektronik karangan saya, penerbit saya, dijual di toko saya, semuanya SAYA.
kira-kira seperti itu analoginya.
Siapapun dia, baik Marketers maupun dotcomers harus mempelajari Long Tail ini.
Seperti kata mas Nukman diatas, Untuk para dotcomers, buku ini wajib dibaca jika Anda ingin sukses memasuki bisnis online masa depan. Bagi marketer, ini buku wajib baca jika Anda ingin memahami perubahan perilaku pembeli di era digital.
(mohon maaf, saat itu yg sempet saya undang http://www.kutukutubuku.com dan http://www.rumah-ku.com, saya akan inform kan diskusi buku bulan depan sehingga jikalau para dotcomers berkenan untuk mengikuti, dipersilahkan untuk reservasi tempat, insya Alloh ga dipungut biaya
)
Ulasan panjang lebar yang menarik dari mas Catur. Terima kasih
.
Ada kutipan menarik:
“Kompetitor anda bukan hanya toko sama disamping anda, tetapi bisa juga seorang jago programming dengan bisnis plan handal yg besok membuat toko online untuk produk anda. Now Everybody Can be a Producer!”
Saya harus pertebal ini supaya tidak salah tangkap: “….juga seorang jago programming dengan BISNIS PLAN YANG HANDAL….”. Padahal bisnis plan inilah masalah terbesar kebanyakan programmer.
Entah benar atau tidak pendapat ini, tetapi saya rasa untuk memasuki dunia online itu tidak semudah yang orang bayangkan. Fenomena longtail bisa jadi sebuah hal yang tidak terhindarkan tetapi hal yang perlu dipahami juga adalah bisnis bukanlah sekedar skill bahkan bukan pula pengalaman … tetapi bisnis butuh sekali pemahaman yang mendalam… Apalagi bila terkait prilaku consumer..
Saya berharap kita bisa menilik lebih detil dan menelisik lebih bijaksana setiap fenomena yang ada. Semata-mata agar kita tidak terjebak dalam sebuah Hype saja tetapi kita bisa take advantage dari fenomena ini bagi kepentingan bersama yang memberikan impact positif …
Betul. Yang mas Machless sampaikan 100% benar.
Memasuki bisnis (online) bukan sekadar skill dan pengalaman.
Filosofi ‘Long Tail’ ini sebenarnya sudah lama kita kenal, cuma kita tidak pernah memperhatikan maknanya secara mendalam. Bahkan jadi bahan lucu-lucuan. Pernah dengar LMGA (Lu Mau Gua Ada), ini bentuk ekor panjang ala entrepreneur Indonesia. Pilihan tak terbatas menciptakan permintaan tak terbatas. Persoalannya adalah bagaimana menciptakan LMGA or Long Tail ini dalam skala korporasi, embedded dalam setiap diri marketer. Kendalanya justru dari dalam, dari birokrasi. Sebaliknya bagi UKM, usaha mikro atau usaha pribadi, LMGA jauh lebih mudah diterapkan.
kalau dari riset Nielsen Media Research terbaru, tren pasar internet justru menurun, saya lupa persentasenya. jadi, gimana nih?
Sejujurnya saya pribadi kurang terlalu setuju dengan melembagakan long tail dalam korporat. Memang pada kenyataannya ada banyak hal-hal yang kecil yang diakuisisi customer dalam periode tak tentu tapi bila dikumulasikan bisa mengalahkan yang booming. Namun hal yang tidak boleh dilupakan juga adalah biaya dari maintenance product itu sendiri… Long tail bisa jadi fenomena secara selling produk tapi bisa jadi nightmare bagi finansial korporat…
#15
setuju mas Machless, Long Tail hanya pas buat sesuatu yang baru, bukan sistem korporate yang sudah terbentuk sistemnya.
Satu lagi yang kurang kalo ingin berhasil dalam bisnis berbau long tail, faktor ‘LUCK’.
#16
Mas Wawan, saya jadi penasaran.
Apakah hukum ekor panjang ini juga berlaku dalam bisnis ad-sense? Misalnya apakah jumlahan income dari keyword tak populer lebih besar dari jumlahan income keyword populer?
di kantor juga lagi demam buku ini. bentar lagi mo di bahas di sharing session. jadi penasaran [pengin baca bukunya hehehe
#15.
Baru saja saya meeting sama penerbit buku. Ia mengeluh karena baru saja kena audit bosnya gara-gara tetap menerbitkan buku yang sudah kurang laku.
Sejauh yang saya pahami sekarang ini, efek ekor panjang baru bisa diterapkan di produk-produk digital, yang biaya maintenancenya rendah (tidak perlu space fisik, cukup space digital). Oleh karena itu, hukum ini baru berjalan sukses di ekonomi Internet. Lihat saja, yang dijadikan studi kasus adalah eBay, Amazon.com, Rhapsody dan sejenisnya.
Yang harus diingat, mereka itu bukan produsen. Mereka itu ibarat supermarket maya. Amazon tidak menerbitkan buku. Rhapsody bukan perusahaan rekaman. Dan e-Bay bukan produsen barang.
#17.
Versi saya:
Bagi pemilik bisnis ad sense (Google dan Yahoo!), ad sense adalah long tail karena sudah memenuhi dua syarat:
- supply tak terhingga (bisa dimanfaatkan siapapun)
- demand tak terhingga (orang yang butuh income dari ad sense bisa langsung apply dengan mudah di seluruh penjuru dunia).
Kita tunggu jawaban mas Wawan yang menggeluti ad sense.
#20
Adsense sebetulnya bukan bisnis utama saya, jauh 7 tahun yg lalu sebelom adsense ada, affiliaton marketing yg saya geluti.
Seperti yang #19, menjadi produsen ato distributor gak jauh beda dengan Merchant dengan Publisher, disatu sisi ingin menghasilkan “Sales” yang banyak disisi lain ingin mendapatkan “Komisi” yang banyak juga.
Publisher adalah affiliation marketer bagian dari internet marketing pada umumnya
Mereka nggak punya barang hanya membantu menjualkan barang, berapa barang yg bisa mereka jual ? tak terhingga, berapa pendapatan yg bisa saya peroleh ? juga tak terhingga tergantung skill kita dalam memasarkannnya, PPC skill or SEO skill
Salah satu yang dianggap piawai dan serius menerapkan strategi afiliasi adalah toko buku Amazon.com. Perusahaan dotcom ini serius membangun brand yang dikenal di dunia. Amazon bukan hanya menjadi toko online yang mengumpullan buku-buku sebanyak mungkin, tetapi juga membuka kesempatan kepada siapa saja untuk menjadi affiliate-nya. Itulah sebabnya, antara lain, Amazon.com disebut sebagai penerap konsep Long Tail. (Sedangkan mereka yang menjadi affiliate-nya bukan long tail).
Para affiliate marketer juga bukan penerap long tail. Mereka menggunakan jasa berkonsep long tail yang disediakan oleh para pionir spt Amazon. Banyak affiliate marketer yang akhirnya membuat website sendiri untuk meningkatkan income dari afiliasi. Tapi kebanyakan itu website musiman. Kalau nggak laku ditutup.
klo di dunia saya (SEO/SEM) juga dikenal sesuatu yg namanya keyword longtail.
intinya sih sama aja — pilihan tak terbatas. jadi daripada buang-buang waktu dan uang maen keyword-keyword yang pendek dan generik (saingan berat boss!), mendingan ragamkan anchor text dari inbound link dan kembangin konten lagi supaya bisa masuk SERP di keyword-keyword panjang yang lebih random dan spesifik.
#22
Gak jauh beda ama bisnis pada umumnya, jatuh bangun itu biasa, yg pasti kita tdk membuat situs affiliasi “sampah”.
Membuat situs affiliation dengan “niche” tertentu sudah tidak laku lagi, kecuali yg berhasil mengoptimasi top 10 di SE.
Yang popular sekarang adalah PPC dengan mengandalkan “landing page”, yg pasti dengan cara ini research keywords itu diperlukan.
Seperti Rizky #23, keyword berperan penting bagi SEO/SEM, mereka mengikuti terus arah trend keyword tertentu.
Yup.
Tidak ada yang aneh dengan jatuh bangunnya sebuah bisnis atau domain. Tapi itu bukan point dari diskusi ini.
Kalau kita kembalikan ke jalur diskusi mengenai long tail, para pencetus dan pembuat affiliate dan adsense itulah yang menerapkan model bisnis long tail. Mereka mati-matian membangun brand. Pihak lain, yang menggunakan fasilitas adsense dan affiliate untuk mendapatkan income (tanpa batas?) hanyalah disebut pengguna. Ide masa Adrianto Gani membuat Virtual Vending saya golongkan sebagai penerap model bisnis long tail.
Untuk mempermudah gambaran, saksikan hal hampir sama di dunia riil, yakni para pemilik franchise. Sang franchisor ini mati-matian membangun merek, sementara sang franchise cukup membeli merek untuk lokasi tertentu. Bedanya, di dunia riil seperti franchise membutuhkan dana yang cukup besar untuk menjadi franchisee (silahkan lihat daftarnya di waralaba.com), harus membuka toko sendiri secara fisik, harus menjaga agar laku, dst. Jadi, tidak semua orang bisa membukanya sehingga efek long tailnya terbatas.
Sebenarnya saya belum mau sumbang tulis nih, kebetulan bukunya baru seperempat yang saya baca dan memang fenoma long tail sungguh menarik. Contoh-contoh paling mencuat aplikasinya yang berhubungan dengan dunia online. Posting #25 Mas Nukman cukup menggelitik juga.
Sambil membaca Long Tail saya mencoba mereka-reka di sekitar saya seperti apa sih fenoma long tail diterapkan. Dan salah satu memang ketemu sama seperti yang Mas Nukman contohkan. Saya mencoba mengamati perkembangan “Virtual Vending” dengan melihat pertumbuhan partner v-vending saat ini yang terus meningkat, tak diragukan lagi akumulasi visitor pun meningkat. Dan pasti ini akan layak diperhitungkan keberadaannya. (Sukses buat Mas Adrianto Gani).
Mas Nukman, makasih info bukunya. Long Tail menjadi motivator para niche. Mas Catur, juga terimakasih ulasannya.
[...] Saya terkaget-kaget. Hadiah apa lagi? Tempo hari beliau sudah memberikan hadiah ini untuk kami. Sebuah rekomendasi bagi para pembaca blog beliau untuk berbelanja di kutukutubuku.com. Itu saja pun kami sudah sangat berterimakasih. [...]
Om, kalo saya analogikan “mungutin receh” sebagai salah satu penerapan Long Tail ini, tepat gak yah?? Tentu recehnya banyak namun bertebaran dimana-mana.
Kalo tepat, corporate (yg gede dan masih make media konvensional buat jualannya) harus menggunakan media dan menemukan metode yang bisa mengefesienkan aquisition cost untuk per satu customernya.
Internet + Web 2.0 mungkin salah satu jawabannya.
Gitu gak sih Om??
Long Tail belum benar2 terjadi diindonesia toko-toko online indonesiapun masih jatuh bangun kesalahannya bukan hanya pada toko itu sendiri tetapi lebih kepada infrastrukturnya yang belum memadai wog download buku berformat pdf 20 lebar aja lamanya bukan main hehe ditambah lagi hotspot & pengguna internet yang sedikit.
Fenomena ini perlahan namun pasti akan mempengaruhi cara kita “berjualan” dimasa depan buku yang sangat bagus yang menunjukan bahwa banyak kesempatan yang ditawarkan internet sekarang ini kita tidak perlu lagi memohon-mohon distributor buat mendistribusikan produk kita kirim aja langsung!!!
LongTail menunjukan bahwa isi OTAK andalah yang jadi competitive advantage dijaman internet ini dan dimasa depan bukan lagi kekuatan uang atau power, so mulailah melatih OTAK anda dan melek komputer sekarang juga!!!!!
untuk meningkatkan pendapatan google adsense bisa buka http://list.web.id program ini adalah program meningkatkan pendapatan google adsense anda…
dan tidak melanggar tos dari google..
dan untuk keterangan lengkap buka http://high.web.id/smf
bukan program affiliate.. semakin abnyak yang mendaftar semakin besar page impresion dan pendapatan google adsense anda… bahkan klik anda semakin bertambah… di jamin 90% berhasil asal anda niat… thanks
[...] Tautan:The Long Tail, Ekor yang Terus Memanjang dan Tak Pernah PutusDiskusi Buku “The Long Tail” @ MarkPlusInc [...]
masalah long tail, dapat dipahami (mungkin). masalah aplikasinya di indonesia, sukar untuk dilakukan (katanya).
sama seperti ada fikiran kritis sekaligus inovatif sekalipun tidak berdasar kuat : kenapa browser selalu berbentuk tidak bulat?
[...] Akan tetapi, pukul 20.45 saya sampai di depan Gramedia, beruntungnya (nanti teman-teman tahu kenapa saya katakan beruntung) Gramedianya sudah tutup. Sebelumnya saya kira Gramedia tutup sekitar pukul 21.00 seperti biasa sebelum bulan Ramadhan. Karena siangnya saya baru baca artikel tentang buku The Long Tail ini di blog Pak Nukman yang merekomendasikan untuk membelinya di toko buku online kutukutubuku.com, saya pun kepikiran untuk iseng-iseng mencoba membelinya lewat internet. Hitung-hitung coba-coba, karena sebelumnya saya belum pernah sekalipun memberi barang lewat situs e-commerce. Selain itu, semester ini juga saya sedang mengambil mata kuliah e-commerce. Pas banget kan? [...]
so…bagaimana dgn komentar #19, apakah long tail benar-2 tidak bisa diterapkan di dunia non-dotcom. mengingat memang lambat-laun dot.com akan “mewabah” dalam segala aspek, tidak hanya bisnis usaha, tetapi pendidikan dan hiburan pun telah mengarah kesana. Koran dotcom, dst. tapi saat ini (walaupun para marketer sdh harus ancang-2 seperti komentar rekan diatas), bisnis konvensional masih diminati di Indonesia (liat aja mall masih terus berdiri).
[...] tutup sekitar pukul 21.00 seperti biasa sebelum bulan Ramadhan. Karena siangnya saya baru baca artikel tentang buku The Long Tail ini di blog Pak Nukman yang merekomendasikan untuk membelinya di toko buku online kutukutubuku.com, [...]