Jam 08:00 WIB pagi hari ini, Jum’at 17 Juli 2009, Twitter saya sudah dipenuhi update berita dari berbagai sumber tentang adanya ledakan di dua hotel terkemuka di kawasan Mega Kuningan yaitu Ritz-Carlton dan JW Marriot. Detik itu juga, saya yang sedang berada di kawasan Rasuna Said langsung membatalkan meeting saya yang rencananya diadakan di Mega Kuningan jam 09:00 pagi.
Dalam beberapa menit kemudian, saya sudah mendapat berita sumber ledakan, berapa jumlah korban terluka maupun meninggal, foto lokasi pengeboman, hingga kabar bahwa Manchaster United akan membatalkan kedatangan ke Jakarta, kunjungan dadakan SBY ke Mega Kuningan juga sumpah serapah para penonton TV yang mengecam gambar-gambar kameramen TV yang secara ekstrim menayangkan gambar korban yang terluka.
Tak hanya di kejadian ledakan Mega Kuningan pagi ini. Ketika Michael Jackson meninggal pun, saya mendapatkan ledakan beritanya via Twitter sekian jam lebih cepat dari media online dan TV, dan satu hari lebih cepat dari koran.
Ledakan berita di Twitter menyebar begitu cepatnya, mengalahkan berita di koran, TV dan media online terkemuka seperti Kompas.com, Okezone.com, bahkan Detik.com!
Trend pertumbuhan pengguna Twitter yang meningkat secara drastis belakangan ini, yang diperkirakan pertumbuhannya pararel dengan pertumbuhan BlackBerry di Indonesia adalah hal yang wajib dicermati para pemilik brand. Tak hanya kemampuannya dalam menyebarkan berita/viral lebih cepat, tapi juga dalam mengamati percakapan konsumen kita setiap harinya, menangkap insight dan mengamati behavior mereka.
Pengguna Facebook di Indonesia memang menggila, tapi melihat kecenderung konsumen Indonesia yang senang meniru, ledakan pengguna Twitter hanyalah soal waktu. Dari pengamatan selintas, pengguna Twitter yang aktif, secara perlahan berkurang tingkat keaktifannya dalam bersosialisasi di Facebook.
Dunia digital, sungguh tantangan luar biasa bagi para marketer. Mengikuti kecepatan perkembangannya saja perlu stamina, apalagi memikirkan bagaimana memanfaatkannya untuk kepentingan brand dan bisnis.
Sampai hari ini, Facebook masih menjadi lahan paling menantang para marketer, namun masih banyak yang tergagap gagap dengan perkembangan social media satu ini. Dan Twitter, menciptakan kegagapan berikutnya.
Selamat datang di dunia digital.
follow Iim Fahima di Twitter
Sejak pertama ikut twitter memang bakal yakin nih media bakal “ngegoncang” dunia maya karena emang twitter cocok banget buat orang yang addict sama “status posting”.
saya punya cerita menarik tentang temen yang baru pertama ikut twitter setelah sebelumnya dia punya account di FB dan FS, dia bilang gak enak di twitter karena jarang ada yang nge-respon
) beda dengan FS dan FB yang bisa langsung di respon..saya sih cuma bilang..update aja tuh status banyak2 dan ikut jadi follower orang banyak2 ..di tambah lagi dengan istilah2 yang belum dia biasa seperti RT, @nama, D dll
). Akhirnya gak berapa lama teman saya memutuskan untk terus di FB dan jarang update status di twitternya.
Itulah kenapa saya segera membuat akun twitter untuk kain ikat, hanya sehari setelah saya membuat akun facebook-nya.
Gagap? Sebenarnya, as long as we go with the flow, it’s not that difficult to follow.
Happy tweet, Mbak Iim.
Tetap aja validasinya pakai media standar. Klo cepat tapi hoax bgimane? Bukan sekedar cepat, tapi cepat dan tepat (idem pak beye ajah..).
saya kira selain media, pola dan perilaku pengguna juga perlu dicermati.
tidak semua informasi di plurk/facebok/twitter bisa dianggap sebagai “citizen journalism”, namun bukan berarti media tersebut tidak punya fungsi utk itu.
media-media tersebut menjadi efektif karena ada semangat berbagi dari si pengguna. apa yg mereka lihat, apa yg mereka rasakan, menjadi titik penting dari keefektifan media tersebut sebagai sumber informasi.
tentunya informasi “saya sedang ngapain” bukan informasi yg kita butuhkan, bukan?
tantangannya sekaang adalah bagaimana marketing bisa melihat celah ini dan memanfaatkannya dengan baik, yaitu mengelus ego “semangat berbagi” dari para pengguna media-media ini.
Dilatarbelakangi sejarah pengekangan kebebasan atas informasi, dorongan/motif yang sangat besar membuat manusia Indonesia untuk mendapatkan dan sekaligus menyebarluaskan informasi tiba-tiba menggelora. Semua orang haus akan informasi, semua orang terobsesi menjadi sumber informasi. Tak heran kalau jejaring media sosial di Indonesia sungguh mengagumkan perkembangannya, tapi kita masih akan berkerut kening kalau mengamati perilakunya.
Ini kemudian menyebabkan fenomena “lebih cepat, lebih baik”. Ada semacam perasaan puas menjadi orang pertama yang menyebarkan informasi, tapi sayangnya ini tidak dilengkapi dengan literasi permediaan yang cukup. Maka tidak jarang terjadi, informasi yang bernilai sampah sekalipun menyebar kemana-mana dengan mudah. Kasus-kasus pun bermunculan, dan seringkali terjadi karena ‘kekurang-melekan’ mereka terhadap situasi permediaan yang melingkupinya.
Semoga memang tidak ada yang menikmati ‘kebutaan’ sebagian orang yang main-main di media baru ini.
Dilatarbelakangi sejarah pengekangan kebebasan atas informasi, dorongan/motif yang sangat besar membuat manusia Indonesia untuk mendapatkan dan sekaligus menyebarluaskan informasi tiba-tiba menggelora. Semua orang haus akan informasi, semua orang terobsesi menjadi sumber informasi. Tak heran kalau jejaring media sosial di Indonesia sungguh mengagumkan perkembangannya, tapi kita masih akan berkerut kening kalau mengamati perilakunya.
Ini kemudian menyebabkan fenomena “lebih cepat, lebih baik”. Ada semacam perasaan puas menjadi orang pertama yang menyebarkan informasi, tapi sayangnya ini tidak dilengkapi dengan literasi permediaan yang cukup. Maka tidak jarang terjadi, informasi yang bernilai sampah sekalipun menyebar kemana-mana dengan mudah. Kasus-kasus pun bermunculan, dan seringkali terjadi karena ‘kekurang-melekan’ mereka terhadap situasi permediaan yang melingkupinya.
smoga perkembangan twitter membawa banyak manfaat positif
gagap di facebook sudah mulai ter-atasi lalau bagaimana gagap twitter ?… beberapa formula sudah ada, hanya saja maukah advetiser / korporate bergerak kesana. mengingat grass root maish terlalu banyak
Mungkin karena twitter termasuk microblogging yang menawarkan kecepatan tampil
Gunakan twitter sewajarnya aja
sebenarnya yang paling diperlukan apakah kecepatan atau ke-valid-an?
Kalau saya pribadi lebih seneng pakai FB dibandingkan Twitter, karena lebih leluasa untuk berekspresi.
Saat ini masih facebook.. dan tdk menutup kemungkinan twitter akan di lirik krn kecepatannya..
twitter, blog, facebook.. dunia semakin datar.
entah knapa saya lebih suka plurk daripada twitter… benar gak sih di Indonesia itu lebih banyak pengguna plurk daripada twitter?
Saya punya komunitas yang senang sharing di media offline. ketika jum up ke media online banyak yang enggan dengan alasan buang waktu dan topik sangat generic. Saya jelaskan kalo mo jujur di media online lebih uenak karena jujur, transparan dan siap dibantu. Meskipun agak lamban tapi sudah ketemu passionnya, dan mereka sekarang muali kerasukan dan sangat haus informasi. ck..ck…ckk