Memiliki blog korporat, masih menjadi dilema banyak perusahaan. Di satu sisi, ada kebutuhan mendesak untuk mendekati konsumen yang keran komunikasinya makin terbuka saja sejak adanya Consumer Generated Media, alias media yang dikendalikan publik seperti blog, milis dan forum. Artinya, konsumen bebas merdeka untuk menyanjung maupun mencaci produk/layanan di media tersebut dan dibaca oleh banyak orang sehingga mempengaruhi orang lain dalam mengambil sebah keputusan untuk menggunakan produk/layanan itu.
Di sisi lain, korporat juga ngeri membayangkan jika blognya diisi sumpah serapah konsumen yang tidak puas dengan produk/layanan mereka yang berakibat pada turunnya image korporasi di mata konsumen. Ditambah lagi ketakutan blog-nya dikerjain hacker.
Karena ketakutan inilah, akhirnya rata-rata perusahaan yang memiliki blog korporat adalah yang bergerak di bidang konsultasi dengan tujuan berbagi pengetahuan dan berdiskusi, seperti yang dilakukan Virus Communications, Virtual Consulting, serta Maverick. Dua nama terakhir, adalah pelopor corporate blogging di Indonesia.
Namun, apakah itu berarti perusahaan non konsultan tidak mungkin memiliki corporate blog? Jika mungkin, apa yang harus dilakukan agar blog dapat menjadi media komunikasi yang positif antara perusahaan dan konsumen?
1. Jujur dan tidak jaim dalam berkomunikasi. Itulah prinsip pertama yang harus dipegang oleh perusahaan ketika memutuskan berkomunikasi di corporate blog. Ceritakan segala sesuatu secara apa adanya dengan gaya bahasa yang less formal.
2. Berhentilah berpikir bahwa sebuah perusahaan harus selalu terlihat sempurna. Perusahaan dikelola oleh manusia-manusia yang bisa berbuat salah, dan jauh lebih simpatik ketika sebuah perusahaan mau mendengar keluhan konsumen untuk perbaikan layanan/produknya dibanding yang berusaha tampil sempurna dengan meredam komentar pedas konsumen lewat ‘comment moderation’. Mau dimoderasi seperti apa pun, konsumen selalu punya keran lain untuk menyuarakan pemikirannya.
3. Jangan menunda menjawab komplain yang masuk. Segera respond dan selesaikan masalahnya.
4. Jika kita sudah punya niat baik yang dijalankan dengan baik, tapi masih saja ada hujatan, maka percayalah dengan wisdom of crowd yaitu ketika ada yang menghujat, pasti juga ada yang membela.
5. Soal hacker. Dimana-mana, maling lebih pintar dari pada polisi. Tapi itu bukan berarti menghalangi kita punya rumah bagus, kan?
So,why wait? Mulailah membangun blog korporat, dan dapatkan manfaat dari berakrab-akrab dengan konsumen Anda!
Yukkkk mariiii membuat blog korporat….
Mungkin bukan apakah seorang CEO tidak mau membuat blog, tapi bisa jadi dia sendiri lupa bagaimana menuliskan ‘I’m so happy today!’ …
Bagaimana jika yang bikin blog adalah karyawannya? Yang tujuannya untuk menjalin komunikasi dan kedepannya untuk bisa diakses ke masyarakat (seperti yang diceritakan mbak Iim di atas).
Karena pernah terjadi. Dan karyawan2 yang ada di block itu dicap “subversif” karena dianggap membocorkan rahasia perusahaan dan diancam dengan surat peringatan.
# Den Baguse
Corporate blog dibuat oleh korporat/atas nama korporat, jadi keberadaannya diakui sebagai representasi perusahaan.
Di balik corporate blog, ada organisasi yang tugasnya antara lain menyiapkan topik juga menyaring materi sebelum ter-publish. Jadi meski yang mengisi adalah karyawan-karyawannya, tapi harus melalui proses seleksi.
Komentar dari Marketing Club:
Yup saya setuju sekali dengan opini ini.
Salah satu kasus yang saya temui ada di perusahaan saya sendiri. Saya mengusulkan untuk membuat website perusahaan yang interaktif, jadi tidak hanya menampilkan company profile, tetapi juga dapat berinteraksi dengan user melalui forum diskusi yang tersedia di dalam website, serta fitur comment bagi user untuk menilai produk-produk perusahaan. Tetapi tentunya anda bisa menebak apa yang pertama kali muncul di benak pihak top management:
Bagaimana bila ada orang yang menjelek-jelekkan produk kita? Bagaimana bila kompetitor sengaja melakukannya? Kita harus memikirkan cara-cara mengantisipasi hal ini sebelum meluncurkan website ini!
C’mon man! This is 21st century, everybody is free to give his opinion, and people will judge which comment is true and which one is hoax, especially when you are proud and convinced with your own products.
N btw this is the only way consumers will give their honest opinion, because virtual world is basically anonymous. Interview dengan consumer maupun agent sering kali tidak menghasilkan opini yang jujur karena mereka merasakan pressure tertentu. Mereka tidak ingin menjelek-jelekkan produk di depan kita, yeah it’s another trait of eastern culture. I don’t blame on anyone or anything, but I think the only way to get honest answer from eastern people is from virtual world, where people simply don’t know each other.
Blog adalah fitur yang cukup baru di dunia maya, masih cukup sedikit perusahaan yang menggunakan fitur ini. Saat ini google dan yahoo memang sedang gencar-gencarnya mempromosikan blog, buktinya search engine lebih memprioritaskan blog daripada situs web biasa. Tetapi blog tidak sefleksibel website yang dapat dicustomize suka-suka anda, anda bisa memasukkan apapun ke dalam website. tetapi dalam blog, anda lebih banyak menulis artikel dan menunggu komen (am I right?). Combining website and blog will be another advantage for company, search engines are very keen on blog lately so blog will boost your website’s click rate if you just link your company website to the blog (vice versa).
That’s all from me, thanks
#Valentinus Sebastian
“buktinya search engine lebih memprioritaskan blog daripada situs web biasa”
Bukan begitu, tidak ada prioritas di mata SE. Itu semua karena “blog tinggal pake” (WordPress, Blogger, etc) sudah dibuat SE friendly. Jadi content di dalam blog itu sudah dioptimasi shg SE dengan mudah merekamnya…
Soal corporate blogging, Alhamdulillah saya sendiri sudah mulai melakukan. Meski skala corporateny masih sangat kecil sekali (banget)
OOT:
Mas Mbak.. tolong dibahas webnya Bintangin – bintanginku.com, kayaknya kok nanggung ya (opini pribadi lho)
@iqranegara
Thanks buat masukannya.
Kesuksesan blog dalam mempengaruhi brand awareness, brand image, company image ataupun sales performance hingga saat ini belum diketahui dengan pasti.
Tetapi pastinya corporate blog tidak akan merugikan perusahaan. Customized and humanity touch dari blog malah akan membuat konsumen semakin dekat dengan perusahaan.
Righty then, thanks n keep on trying new things
Dari milis Marketing Club
Ikutan kasih komen ah …
Saya pikir, untuk perusahaan yang sudah berpikir untuk membuat blog korporat harus siap terlihat jelek di mata user. Perusahaan harus menerima kritik sebagai hadiah kan?
Lagipula orang2 yang menggunakan internet kan lumaan tinggi pendidikannya apalagi yang senang dan mau berinteraksi dengan user lain di blog.
Sekarang sudah bukan jamannya dimana news value dan objektifitas cuma dimiliki oleh media. News Value dan objektifitas ada ditangan pembaca. Selama ini pemilik merek seperti katak dalam tempurung, karena media konvensional menutup mata mereka dengan kenyataan ini. Padahal, sebebenarnya menurut saya, kritik terhadap merek dan produk sudah terjadi di media tradisonal. Hanya saja tidak mudah dilacak. Seharusnya kita bersyukur, internet memudahkan kita mendapatkan masukan secara langsung dari pengguna internet. Kalau di media tradisional kan sulit sehingga menyebebkan informasi yang sebenarnya kita butuhkan langsung dapat ditanggapi. jadi tidak menjadi boomerang dikemudian hari. Ini suma soal mind set bukan soal jabatan atau stelan dasi dan jas yang dikenakan bos-bos sebuah perusahaan. Kalau mind set masih kaku dan kurang terbuka terhadap perubahan mau diapain lagi ?
Dear Mbak Iim,
Tulisan Anda ini khususnya di point no.5 benar-benar menyinggung hacker, anda menyamakan hacker dengan maling.
kutipan tulisan anda point no.5 : ” 5. Soal hacker. Dimana-mana, maling lebih pintar dari pada polisi. Tapi itu bukan berarti menghalangi kita punya rumah bagus, kan?”
Bila Anda belum tahu, internet ini di bangun oleh para hacker, software microsoft window yang anda gunakan pun yg bikin nya hacker. adalah tindakan yang tidak bijak untuk menyamakan hacker dengan maling.
ada baiknya kalimat tersebut di ganti dengan “para perusak” atau cracker.
terima kasih
zul
Halo mas Zul, terimakasih infonya.
Di satu sisi kita memang harus berterimakasih kepada hacker, tapi di sisi lain juga tidak bisa dihindari ada konotasi negatif terhadap hacker atas reputasinya sebagai ‘tukang ngerjain site orang’. Nah yang hacker yang ‘tidak membawa manfaat’ ini lah yang saya maksud di point 5.
Kalau saya sebutnya dengan ‘cracker’, orang umum ngga mudeng mas, mereka familiarnya dengan kata ‘hacker’
iyaa negh inget kampanye “BNI mendengar dengan hati”, cuman waktu itu hanya menampung keluhan imel, coba waktu itu blog se-booming sekarang, seharusnya lebih bagusan dibuat gaya blog ajahh .. bener2 ada online activity nya …
tapi emang hanya corporate jujur dan yang punya pimpinan pinter yang brani bikin blog, dan yang pasti directornya yang gak gatek juga suka nulis, pemimpi besar tentunya .. huehehhh .. peace ..
Kita sangat perlu “company who stand behind their product”.
Gmanpun konsumen adalah raja.
http://www.skytradeinc.blogspot.com