Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Strategi Social Media Marketing Perlu Riset dan Insight

April 5, 2010
Oleh Nukman Luthfie

Mantra Social Media Marketing & Public Relations yang selama ini banyak didengung-dengungkan hanya dua. Yakni conversations dan engagement. Seperti disebut oleh The Cluetrain Manifesto: Markets are conversations. Di era social media, konsumen bukan lagi individu-individu pembeli, namun berjejering, yang saling bercakap-cakap satu sama lain. Jejaring konsumen yang saling bertukar info inilah yang membuat pasar menjadi kian cerdas dan kritis. Apa boleh buat, iklan tradisional via media (radio, cetak, teve, dan bahkan web) dan berbagai taktik marketing lain yang berjaya di era sebelum social media, kini tidak cukup lagi untuk merebut hati konsumen.

Perusahaan/merek harus melengkapi strategi pemasaran tradisional mereka dengan pemasaran media sosial yang karakternya adalah percakapan (conversations). Tentu saja, percakapan itu pada suatu titik harus bisa meningkat ke tahap engagement supaya bukan hanya meningkatkan brand awareness, tetapi juga dapat menciptakan penjualan dan loyalitas merek.

Dua mantra inilah yang selama ini banyak dipraktekkan perusahaan/merek Indonesia di berbagai medium sosial terutama Facebook dan Twitter. Mereka biasanya membuat akun di Facebook dan Twitter, melengkapinya dengan Fanpage dan lain-lain. Kemudian, mereka sibuk membangun percakapan dengan pengguna media sosial melalui akun-akun tersebut, dengan berbagai taktik.

Ada yang berhasil. Banyak yang gagal.

Mengapa? Karena dua mantra conversations dan engagement itu baru benar separo.

Benar separo? Ya!.

Saya perhatikan, kebanyakan perusahaan/merek melakukan percakapan yang sesungguhnya tidak bermakna untuk konsumen sehingga lama-kelamaan eksistensi mereka di media sosial diabaikan oleh pengguna media sosial. Perhatikan, banyak akun merek di media sosial yang jumlah fans/follower/friends – nya terbatas. Kalau pun banyak, setelah diteliti lebih dalam, tidak melakukan percakapan. Para fans/follower/friends yang banyak itu menjadi fans/follower/friends “mati”.

Dengan kondisi seperti itu, peningkatan status dari “conversations” ke “engagement” adalah kemustahilan.

Kecuali manajemen media sosialnya yang kurang tepat, perusahaan/merek yang gagal di media sosial kemungkinan besar karena melangkah terburu-buru tanpa dilandasi dua matra lain: riset dan insight!

Ini terbukti dari banyak kasus, budget perusahaan/merek untuk dua hal tadi nol besar di Social Media Marketing & PR.

Padahal kita tahu, riset “mengapa konsumen bersedia menjadi fans/follower/friends sebuah merek” misalnya, sangat menentukan content yang dibawa ketika membangun “conversation“. Padahal kita tahu, kepingan informasi kecil pun bisa menjadi insight yang bagus membangun “conversations” yang mengarah ke “engagement”

Maka, dari sudut pandang saya,  Social Media Marketing bukan hanya conversations dan engagement semata. Namun conversations dan engagement yang dilandasi oleh riset dan insight terus menerus.

Tautan: Sharpening Your Social Media Marketing and PR, Learning from Indonesian Cases with Nukman Luthfie, April 29th, 2010

18 Responses to “Strategi Social Media Marketing Perlu Riset dan Insight”

  1. [...] This post was mentioned on Twitter by Nukman Luthfie, ruang tamu glenn, tediscript, Sudut Pandang, Virtual Consulting and others. Virtual Consulting said: Strategi Social Media Marketing Perlu Riset dan Insight http://bit.ly/bf7f5s [...]

  2. Social comments and analytics for this post…

    This post was mentioned on Twitter by idvirtual: Strategi Social Media Marketing Perlu Riset dan Insight http://bit.ly/bf7f5s...

  3. Untuk jumlah fans/followers perlu dibedakan antara Potential Reach dan Actual Reach. Banyak Brand yang berbangga hati dengan banyaknya fans/follower yang telah dikumpulkan namun tidak memberikan impact apa2 karena engagement tidak terbangun. Jadi seharusnya potential reach dari total jumlah fans/followers harus diajak ngobrol oleh Brand agar menjadi Actual Reach yang dapat diukur tingkat Engagementnya.

    Kemudian, mengapa Conversation terasa hambar, ini dikarenakan Brand tidak menonjolkan personality yang ia punya kepada para fans/follower di social media. Brand di social media adalah seorang manusia yang memiliki personality layaknya manusia. Nah, personality dari brand tersebut harus mencerminkan dari target marketnya karena salah satu alasan mengapa hubungan interpersonal dapat terjalin baik adalah karena ada kesamaan personality diantar keduanya.

  4. Joko Susilo says:

    Tertarik menanggapi komentar di atas soal personality/karkater. Karakter brand itu memnag perlu diperkuat dalam jalur-jalur social media marketing yang sudah dilakukan. Tanpa itu, para follower/fans sulit untuk bisa memahami secara utuh tentang sebuah brand.

  5. Aris Tianto says:

    Menurut saya, agar karakter suatu brand kuat menancap dalam benak konsumen, harus ada repetisi. Misalnya iklan TV, di mana suatu iklan yang sama diputar berulang2. Di social media juga begitu, suatu brand harus dibicarakan berulang2 agar meresap ke benak konsumen, dan pada akhirnya diharapkan akan berdampak positif bagi brand.

    Agar konsumen mau dengan suka rela membicarakan brand, tentu harus ada faktor pendorongnya. Cari “hot buttons” mereka. Atau buat sesuatu yang menarik, yang bersifat viral, yang berhubungan dengan brand. Misalnya Ponari Sweat = promosi gratis bagi Pocari Sweat.

    Saya masih kurang paham apa yang Pak Nukman maksud dengan “riset” dan “insight”. Apakah Bapak bisa tolong menjelaskan dengan contoh kasus yang nyata?

    Terima kasih sebelumnya.

  6. Nuniek Tirta says:

    “Untuk menjawab pertanyaan Aris Tianto di atas, silahkan ikut seminar saya tanggal 29 April nanti”, begitu jawab Pak Nukman. Hihihi ^.^

  7. Untuk yang berhasil…..kira-kira brand apa saja pak….bisa dishare, mengapa mereka berhasil. Thanks.

  8. @Nuniek

    Ini ya maksudnya?
    http://virtual.co.id/sharpening-your-social-media-marketing-pr-strategy/

    Post ini benar2 teaser yang bagus untuk seminarnya. Jadi penasaran, tapi harganya 2 juta. Harus kumpulin duit dulu nih ^^

  9. @Aris:
    Riset adalah melakukan kegiatan meriset, bisa dengan netnografi, mengenai perilaku user di social media. Misalnya, yang saya contohkan di atas adalah meriset tentang “mengapa konsumen mau menjadi teman sebuah merek di media sosial?”

    Sedangkan insight adalah membaca kepingan-kepingan informasi yang berserakan di media sosial, apa yang banyak dibicarakan konsumen, apa pendapat konsumen tentang sebuah produk, tanpa melakukan kegiatan riset konvensional.

  10. @Nuniek: hahaha untuk yang itu tidak perlu ke seminar saya. Pertanyaan @Aris sudah saya jawab ya :D

    @Yodhia: nah kalau pertanyaan mas Yodhia ini perlu ikut ke seminar saya dulu. Contoh yang berhasil antara lain Evalube dengan GilaMotor-nya, SoyJoy, dan Centro yang menjadi pembicara tamu pada seminar: http://virtual.co.id/sharpening-your-social-media-marketing-pr-strategy/

  11. fauziah says:

    bapak nukman, kebetulan saya sedang mengambil skripsi yang temanya bagaimana efektifitas situs jejaring sosial sebagai elmen promosi dalam hal ini saya menganalisa twitter. mohon bantuannya ya pak..

  12. @JokoSusilo: Setuju Pak, Social Media memungkinkan dan memberikan kesempatan bagi para Brand untuk benar2 menunjukan jati dirinya. Dan satu poin penting lagi yang kurang disadari oleh para Brand di Social Media adalah bahwa di Social Media berlaku budaya komunikasi Two-Way Symmetrical Communication, dimana brand dan konsumen sama2 saling beradaptasi, untuk itu dibutuhkan Strategi Social Media Marketing yg mumpuni agar Brand bisa Engage dengan konusmen di Social Media.

  13. [...] Strategi Social Media Marketing Perlu Riset dan Insight [...]

  14. Yollis M.N says:

    Benar. Engagement dan Conversations adalah kata kunci di era social media sekarang ini. Terutama jika ingin “bermain” dg social media.

    Di sisi lain, Ad format Cost per Engagement (CPE), menjadi semakin populer di Indonesia, karena brand membayar apa yg didapat, bukan hanya sekadar membayar impression atau durasi :)

  15. Pitra says:

    Hal yang sebenarnya ingin saya konfirmasi, sampai sejauh mana si brand membangun percakapan secara pesonal dgn audiensnya? Di social media, brand memang harus punya karakter, karena toh yg menulis status updatenya pun manusia pula (hanya saja ia mewakili brang). Apakah murni ngobrol sosial saja (seperti yg mayoritas dilakukan @acerID), alias ngobrol basa basi yang banyak hal tidak berhubungan dengan pesan brand? Lalu adakah brand Indonesia yang benar2 membangun customer service-nya melalui social media? (Saya sih cuma aware dengan @blitzmegaplex saja).

  16. ahmad hanafi says:

    terima kasih tulisan dan referensi manifesto cluetrain.
    strategi online memang sudah wajib hukumnya untuk di selaraskan dengan konvensional marketing.
    contohnya: memberikan bonus dan diskon kepada pengguna/follower/fans sehingga akan menjadikan kesetiaan lebih konsumen virtual.

    err, ada potongan harga ga pak untuk seminarnya. :p

  17. Imam says:

    @Nukman Luthfie: Contoh yang berhasil antara lain Evalube dengan GilaMotor-nya, SoyJoy, dan Centro…

    Bisa dishare dong pak sekilas indikator keberhasilannya seperti apa!! ada pertanyaan dalam hati ini, soalnya ketiga contoh tersebut adalah client perusahaan Bapak..

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih atas apresiasinya, semoga kampanyenya sukses!

  • Andi Primaretha: - Betul Mas Wahyu, saya juga selalu menganggap internet sebagai Universitas...

  • hdtv mount: - sangat menarik. saya sangat terinspirasi oleh tulisan anda. Tampaknya kampanye...

  • wahyu awaludin: - menarik, mas.. memang kita harus memilah-milah data supaya gak pusing sendiri....

  • Tonton: - setuju bangeeet, memang harus segala macam teknik marketing, harus juara. terimakasih,...

  • andina: - thanks infonya mas Andi

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting