“Sudahkah Anda minum Ponari Sweat hari ini?” Itulah status beberapa teman di internet messenger dan di social media seperti Facebook di Februari 2009 ini. Ponari Sweat? Ya. Tidak salah. Bukan Pocari Sweat.
Semua itu berawal dari keprihatinan blogger melihat antrian panjang orang berobat di dukun cilik yang bisa menyembuhkan segala penyakit dengan air dicelupi batu yang konon didapat Ponari ketika ia kesambar petir. Daripada repot antri dan memakan korban, ada yang melemparkan usulan lucu, kenapa tidak dibuat saja air minum kemasan hasil celupan batu petir itu dengan merek Ponari Sweat, plesetan dari Pocari Sweat. Usulan itu dilengkapi dengan berbagai gambar Ponari Sweat yang lucu-lucu, baik dalam kemasan kaleng maupun sachet. Bentuknya sama persis dengan Pocari Sweat, hanya huruf C diganti dengan N. Lantaran lucu, pesan ini kemudian menyebar ke mailing list, forum dan social media seperti Facebook, sekaligus memicu blogger untuk menuliskan hal yang sama. Hasilnya, tulisan Ponari Sweat yang dicatat Google satu bulan itu saja, bisa mengalahkan tulisan mengenai Pocari Sweat sepanjang masa.
Pocari Sweat jelas diuntungkan dengan postingan lucu ini lantaran pengguna Internet teringat lagi dengan minuman itu. Namun tidak banyak merek atau produk yang diuntungkan oleh perbincangan konsumen di dunia maya seperti ini. Yang terjadi justri konsumen yang kecewa kini dengan mudah mengungkapkan kekesalannya di dunia maya. Kini mereka tidak perlu capek mengirim dan menunggu dimuat di media masa mainstream seperti koran, majalah, radio maupun teve. Mereka bisa dengan cepat menulis di blog, forum, mailing list dan jejaring sosial. Jika banyak konsumen lain yang merasa senasib, mereka akan saling berkomunikasi dan informasi buruk itu dapat membentuk bola liar sehingga berpeluang mencederai citra produknya.
Inilah yang terjadi di jagad Internet belakangan ini. Konsumen saling bercakap-cakap satu sama lain baik melalui komentar di blog, maupun sapaan di berbagai fitus social media, seperti status, wall, notes, pages, email, group dan berbagai aplikasi game menempel di social media.
Konsumen – Publisher – Influencer.
Dengan membuat blog, membuka akun dan aktif di Facebook, Friendster, MySpace, Youtube, menyimpan dan membagi foto di Flickr, bermicroblogging di Twitter atau Plurk, maka otomatis konsumen sudah naik pangkat menjadi publisher.
Maka tanpa disadari, perusahaan yang biasanya menghadapi ratusan publisher, baik cetak, radio maupun teve, kini harus berkomunikasi dengan jutaan publisher baru yang pada dasarnya adalah konsumen. Jumlah blogger Indonesia saja saat ini sudah mencapai setengah juta jiwa, yang bertebaran di rumah blog seperti BlogDetik, Dagdigdug, WordPress dan Blogspot. Sementara itu member Friendster di Indonesia sekitar enam juta, meski kecenderungannya mulai menurun, dan Facebook mencapai 1,7 juta dengan kecenderungan tumbuh pesat.
Kecuali menjadi publisher, sebagian dari mereka juga naik pangkat menjadi influencer. Kecenderungan mereka untuk membagi informasi yang didapat ke teman-temannya akan mempengaruhi penerima pesan. Survei yang dilakukan DEI Worldwide mengenai dampak social media terhadap perilaku belanja menunjukkan bahwa, 62% mengatakan informasi produk yang didapatkannya melalui percakapannya di social media lebih bernilai ketimbang informasi yang diterima dari iklan. Survei yang dilakukan Forester Reseach tahun 2007 bahkan sudah meletakkan blogger sebagai influencer kedua setelah teman/keluarga dalam hal memutuskan konsumen membeli barang.
Bahkan dalam industri tertentu, komentar teman social media bisa mengubah total keputusan konsumen. Di dunia pariwisata misalnya, menurut Forrester Research, sepertiga pelancong AS membatalkan pemesanan hotelnya karena komentar negatif online dari pelancong lain.
Sebelumnya, era digital disebut-sebut banyak pakar, termasuk futurologist Alfin Toffler, mengaburkan batas antara produsen dan konsumen. Don Tapscott dan Anthony D Williams kemudian menunjukkan bagaimana hebatnya makna prosumtions. Dalam buku “Wikinomics: How Mass Collaborations Change Everythings” mereka berdua menunjukkan betapa pembuatan produk massal melalui keterlibatan massal produsen dan konsumen sangat dimungkinkan di era digital. Lego Mindstorm adalah contoh tepat mengenai pembuatan produk massal yang terkostumisasi ini. Pembeli dapat mengunduh peranti lunak di situs web Lego, dan kemudian memodifikasi sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing dengan mudah.
Dan kini di era Web 2.0. konsumen menjadi bagian penting pemasaran. Kini, boleh dibilang, batas antara produsen dan konsumen semakin kabur dari ujung produksi hingga ujung pemasaran.
Bagi perusahaan yang terbiasa dengan produk terkustomisasi, perubahan ini relatif mudah diantisipasi, bahkan bisa dimanfaatkan sebagai peluang emas. Dell Computer misalnya, meluncurkan situs Dell’s Ideastorm yang mempersilahkan pelanggan untuk menyampaikan apapun produk yang mereka inginkan di masa mendatang. Salah satu hasilnya adalah Linux Box, yang jelas-jelas mencederai hubungan jangka panjang Dell dengan Microsoft yang selama ini menjadi mitra penting di sisi operating system.
Starbucks mencoba menirunya dengan meluncurkan Mystarbucksideas.com, meski hasilnya tidak sefundamental Dell.
Memang tidak mudah mengelola perubahan ini. Namun, kegairahan para marketer memanfaatkan posisi baru konsumen sebagai publisher dan influencer ini semakin menjadi-jadi di saat krisis seperti ini karena strategi ini relatif jauh lebih murah dibanding iklan namun memberi impak besar.
Masalahnya adalah: komunikasi dan pemasaran di media yang 100% kontennya diisi oleh konsumen bukanlah pekerjaan mudah, sebagaimana berkomunikasi dengan media mainstream yang dikelola industry media massa. Sudah begitu, amat sulit mencari sumber daya manusia yang memiliki pemahaman mengenai social media, baik dari sisi komunikasi maupun teknologi. Ditambah lagi, hingga kini penghitungan Return on Investment (ROI) pemasaran di social media belum jelas. Toh dengan segala keterbatasan itu, perusahaan terpaksa masuk ke social media karena takut kalah cepat dibanding pesaingnya.

Meski demikian, ada cara untuk mengurangi risiko gagal komunikasi dan pemasaran di social media. Pertama, lihatlah perubahan konsumen ini secara strategis terlebih dulu sehingga dapat digali potensi-potensinya baik untuk pengembangan produk maupun customer relations.
Kedua, perusahaan mengantisipasi perubahan ini secara strategis, bukan sekadar melaksanakan program marketing dan public relations di social media, tetapi juga membangun organisasi yang siap mengeksekusinya. Sangat layak jika saat ini perusahaan besar memiliki manager baru di bidang social media.
Ketiga: perkuat riset di bidang social media agar betul-betul memahami perilaku social media sehingga mampu membangun strategi yang tepat.
Ponari Sweat adalah contoh lucu-lucuan bagaimana konsumen membangun komunikasi horizontal antar mereka secara otomatis tanpa keterlibatan pemilik brand. Terbayang hebatnya jika yang diperbincangkan dengan antusias oleh konsumen itu sesungguhnya adalah Pocari Sweat atau produk anda yang berakibat pada meningkatnya brand awareness yang berujung pada sales.
Oleh Nukman Luthfie, CEO Virtual Consulting, www.virtual.co.id
tulisan terkait: Ponari Mengalahkan Sarah Azhari
konsumen-publisher-influencer, mengingatkan kembali materinya om nukman di santika waktu itu…
Sempat dapat sebaran info riset yg masih dikerjakan oleh Edelman. Mereka telah menjalankan riset kuantitatif terhadap banyak blogger. Mereka cerita ternyata dari riset kuantitatif itu malah belum banyak yg percaya apa yang dikatakan blogger di postingnya. Masih lebih percaya iklan di TV dan koran daripada pendapat blogger. Agak aneh memang, karena berlawanan dengan riset Forrester.
Saya duga mungkin ini disebabkan karena legitimasi blogger yang masih kurang. Pendapat seorang blogger Priyadi atau Enda pasti dipercaya. Namun kalau pendapat itu muncul dari blogger yang authority-nya rendah, pembaca masih sangsi. Masalahnya, dari setengah juta blogger itu, hanya sedikit saja yang ber-authority tinggi. Mungkin itu sebabnya, pendapat blogger masih kalah dibandingkan iklan TV dan majalah.
Penolakan sebuah pendapat yang disampaikan oleh seseorang
bukan berarti pendapat itu tidak baik.
Oleh karena-nya perlu dibangun sebuah brand pribadi.
so dengan brand yang kuat kebanyak orang akan mendengarkan
pendapat-pendapatnya.
Konsumen sebagai Publisher dan Influencer. Suatu statement simpel, namun tegas dan jelas di era web 2.0 ini. Saya rasa statement ini sudah tidak bisa dibantah lagi di dunia pemasaran baik online maupun offline.
Ketika saya masih di amerika, saya menyadari bahwa fungsi internet sudah sangat sangat kuat untuk disepadankan dengan media traditional seperti tv, koran, bahkan yellowpages. Sebagai contoh, jika kita ingin memberi barang elektronik dari toko A, kita tinggal mencari info dari google ttg toko A. Dari situ lgs keluar semua hal dan komentar-komentar customer yg bersangkutan mengenai toko A seperti jenis barang yg dijual, kecepatan pengirimannya (untuk toko online), kualitas barangnya, service nya, hospitality nya (apakah pelayannya ramah atau judes), bahkan sampai kebersihan toko tersebut. Positif atau negatifnya komentar komentar itu punya peran yang sangat krusial pada pertumbuhan perusahaan tersebut.
Yang menurut saya paling menarik adalah yellowpages. Di Indonesia, peran yellowpages masih sangat kuat, kebanyakan orang, khususnya industri, masih menggunakan media yang satu ini untuk mencari barang-barang kebutuhan. Di Amerika, orang sudah tidak terlalu sering (khususnya generasi muda) menggunakan media yang satu ini. Mereka lebih percaya pada internet.
Media internet merupakan sebuah ladang subur bagi para pencari informasi maupun bagi yang ingin menyebarkan informasi secara cepat.
Begitupun soal pemasaran. Strategi, pemanfaatan issue-issue yg sedang berkembang, pelayanan dan pendekatan kepada konsumenlah yang akan menentukan berhasil atau tidaknya sebuah produk / jasa tersebut akan dipasarkan.
Internet lebih dipercaya karena memiliki banyak perbandingan, toh setiap konsumen cerdas pasti akan membandingkan dan nantinya akan memutuskan dengan mengambil pertimbangan dari berbagai sumber, tentunya tidak lepas juga dari peran social networking juga salah satunya.
Semoga banyak perusahaan yang ‘melek’ setelah membaca iklan ini. Saya lihat memang banyak yang mulai melirik dunia maya dan blogger. Tapi, mereka masih bergerak pelan-pelan dan hati-hati. Saatnya mereka di-trigger.
TFS, Pak Nukman.
puas ataupun kecewanya konsumen pasti akan menyampaikannya. Jika mereka punya media, mereka akan mengekspresikannya.
Dengan media sosial ataupun blog, harusnya memicu perusahaan untuk melayani terbaik, kalau tidak perusahaan itu tetap akan ‘terkenal’ tapi dari sisi negatifnya. Pernah saya mengetik di search engine brand produk layanan internet unlimited mobile, urutan pertama adalah situs resmi produk tersebut, urutan kedua sampai sepuluh adalah ‘kecaman’ atas layanan produk tersebut. Itu membuat saya berpikir lagi untuk membeli produk tersebut. Tetapi akhirnya saya beli juga, hasilnya.. kurang memuaskan.
Media sosial ataupun blog membuat perusahaan meningkatkan pelayanan dan juga mencerdaskan masyarakat
Karena internet, semua konsumen bisa jadi publisher, dan sebagian malah bisa jadi influencer.
Baik dampak positif, atau negatifnya jadi semakin besar. Tapi disisi lain, jeritan2 konsumen juga bakalan tersaturasi, karena semakin banyaknya publisher kecil2.
Produsen sudah tidak bisa lari lagi dari situasi ini. Satu2nya cara adalah menjadi lebih terbuka ke konsumen. Kalau memang ada kejadian negatif, cuman bisa “Shift The Balance” dengan membuat berita2 baru yang lebih merdu.
Artikel yang bagus…harus banyak belajar lagi neh
salam kenal pak..:)
mantabz artikelnya
#Pitra
Memang pendapat seseorang masih kalah dipercaya dibanding dg iklan TV,koran, dll, ini mungkin disebabkan ‘beberapa’ blogger yang kurang efektif memanfaatkan sarana/fasilitas bloggingnya, utk keperluan lain (misal:iklan/afiliate) bukan untuk personal branding. Setiap orang mempunyai opini dan persepsi yang berbeda-beda. Internet, Blogger, Social Networking, etc juga mempunyai dua sisi yang berbeda (terang & gelap).
memang itulah plesetan yang tidak menyesatkan namun membawa pencerahan. Melhat fenomena saat ini nampaknya budaya “DUKUN” masih dapat mengalahkan dunia modern, atau dunia modern (terkait dengan TV dan informasi Milis) dimanfaatkan untuk membuat opini masyarakat luas kembali dihadapkan dengan Rasio/akal sehatnya sendiri.
Perlu dicari sumber pertama gambar itu.
Kalau sekedar orang iseng, harus direkrut jadi pegawai Pocari.
Kalau pegawai Pocari, harus diberi kenaikan jabatan atau kenaikan gaji minimal 2x lipat.
bisa ga pak ini disebut marketing of mouth
Iya kreatif baget itu yang buat plesetan Pnari Sweat:)
lucu ..kreatif
apakah buat Pihak Pocari sendiri bisa di jadikan Brand Recognifations..bg pocari swaet?..sepertinya rumor ini cukup membuat media social..ambil posisi dalam rumuor ini…gimana yaaa?
fenomena ponari sweat karena tingkatan masyarakat yg berbeda-beda (suku, agama/kepercayaan, fublisher, bloger dll), sehingga dari sudut manapun pandangan mereka sah-sah saja, bagi produsen Pocari Sweat ini merupakan suatu tantangan untuk mencari strategi market yg baru untuk tetap menjadi market leader.
sangat menarik saat saya melihat link ke artikel ini, yang menyebutkan konsumen tidak lagi berperan sebagai konsumen saja tetapi menjadi publisher dan influencer.
kalau dilihat pada kenyataannya memang jaring sosial seperti facebook sedang marak-maraknya digandrungi ketimbang dengan pendahulunya yang memiliki ikon smiley.
di facebook siapa saja dapat mengekspresikan dirinya masing-masing.
termasuk saat mereka kecewa terhadap suatu produk atau jasa, dengan mudahnya mereka dapat mempengaruhi orang lain. inilah yang disebut opinion leadership. dahulu mungkin masyarakat lebih mempercayai iklan, tapi sekarang kebanyakan orang lebih mempercayai pengalaman dari orang lain.
Ponari Sweat, Ponari manis, dukun cilik tapi hasilnya besar, beda kan dengan yang menamakan diri Internasional rumah sakit seperti Omni, mestinya bersikap selembut Sutra Alam menghadapi keluhan Mbak Prita Mulyasari, mengeluh kok ditahan, mbak Prita jadinya menderita, Ponari jadinya digemari, Omni jadinya dibenci….