Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Siaran Pers Tradisional Tak Laku di Internet

June 12, 2006
Oleh Nukman Luthfie

media.jpg

Para praktisi periklanan sudah paham betul bahwa media yang beda membutuhkan cara komunikasi yang beda pula. Pesan di teve sudah pasti beda dengan di radio, di billboard atau di Internet. Sayang, teman seprofesi para praktisi periklanan, yakni praktisi PR (public relations), belum banyak yang memahami hal ini. Mereka memang sudah menyadari perbedaan pesan di media cetak, teve dan radio. Namun, mereka masih memperlakukan berbegai jenis media dengan cara yang sama saja. Yakni: mengirim siaran pers yang sama persis. Celakanya, hal yang sama juga dilakukan kepada jurnalis Internet.

Sebenarnya para praktisi PR paham bahwa menembus surat kabar tidak mudah. Bagaimana sebuah siaran pers bisa dimuat di sebuah surat kabar atau media bergengsi adalah pekerjaan yang menantang. Mengirim siaran pers ke wartawan saja tidak cukup. Praktisi PR harus menindaklanjuti, menelpon, membujuk, berargumentasi bahwa siaran persnya layak muat dan bermanfaat bagi pembaca media yang bersangkutan.

Jelas bahwa kualitas siaran pers sangat menentukan untuk dimuat atau tidaknya di sebuah media. Siaran pers yang panjang bertele-tele sangat mungkin akan segera dibuang di tempat sampah oleh wartawan yang menerimanya. Membacanya saja sudah capek, apalagi menulisnya. Sudah bukan rahasia lagi, siaran pers kebanyakan perusahaan Indonesia panjang-panjang. Paling tidak 2-3 halaman dengan paragraf 2 spasi. Kadangkala bisa sampai 5 halaman karena ditambahi tulisan mengenai latar belakang perusahaan.

Pola penulisan siaran pers semacam itu tidak laku di Internet. Mengapa? Siaran pers dalam bentuk cetak masih bisa enak dibaca meski sepanjang tiga halaman. Namun, jika tulisan itu dibaca via web atau email, pembacanya harus scroll-down. Banyak wartawan benci dengan pekerjaan seperti ini. Bayangkan jika seorang wartawan menerima 10 siaran pers sehari dalam format email atau link ke website dan harus melakukan srcoll down setiap saat?

Menyadari ketidaknyamanan seperti itu, para praktisi PR di luar sudah melakukan adaptasi. Kalau diperhatikan, ratusan siaran pers yang ditampung di Business Wire atau PR News Wire, kini pendek-pendek. Siaran pers itu hanya terdiri dari 350 kata dan bisa dibaca dalam satu screen komputer. Sedangkan lead paragraph-nya hanya 150-an kata. Dengan demikian, wartawan tidak perlu scroll down ketika membacanya.

Internet adalah media untuk komunikasi instan dengan kecepatan tinggi. Karakternya sangat beda dengan media cetak, radio atau teve. Memberikan format siaran pers yang sama ke jenis media yang berbeda adalah pekerjaan sia-sia.

Memang tidak mudah menulis siaran pers sependek itu dengan baik dan memenuhi standar 5W + 1 H. Tapi itulah yang harus dilakukan oleh para praktisis PR agar siaran persnya dibaca oleh wartawan dan kemudian ditulis di medianya. Masih ingat kata-kata Mark Twain? “Jika saja saya punya banyak waktu, saya akan menulis lebih ringkas,” kata penulis buku laris Petuangan Tom Sawyer serta novel Petualangan Huckleberry Finn.”

10 Responses to “Siaran Pers Tradisional Tak Laku di Internet”

  1. Widi says:

    Setuju!!… Saya juga suka heran ngeliat situs berita yang artikelnya panjang2… Kalo kepanjangan mending dibikin jadi 2 berita aja… 5W+1H plus K.I.S.S. yaa Pak!..

  2. Nukman says:

    Waduh, apaan tuh KISS?

  3. Widi says:

    KISS = Keep It Simple Stupid, Pak!…. hahaha…..

  4. Nukman says:

    Hahahaha…..

  5. pak samuel says:

    sebenarnya selain kirim siaran pers juga perlu untuk mengerti karakter media yang akan dituju.

    dan juga penting untuk mempunyai kontak dengan jurnalis yang memegang kolom tersebut. artinya kita akan lebih fokus dalam membahas topik yang akan disiarkan dalam project yang kita buat.

    pengalaman saya dalam merancang siaran pers selalu berbeda media satu dengan media yang lain. artinya sudut pandangnya kita sesuaikan dengan kebutuhan jurnalis tersebut. kalaupun membutuhkan foto, juga harus berbeda sudut pandangnya. agar masing-masing media mempunyai sesuatu yang spesial.

    bagi para jurnalis yang super sibuk lebih baik diberi informasi jauh-jauh hari. bila mereka interes dengan acara yang kita bikin kita akan mengadakan pertemuan yang lebih intensif.

    kita juga perlu meluangkan waktu untuk mengerti pola kerja dan pikiran para jurnalis tersebut. hal tersebut biasanya akan menjadi hal yang menghangatkan antar kedua belah pihak.

    jangan lupa untuk tak memberikan uang apapun bila bertemu dengan jurnalis yang ‘baik” karena akan menyinggung kredibilitas mereka.

    biarlah mereka yang akan menentukan inisiatif atas pekerjaan yang kita buat.

    pengalaman saya di bidang seni rupa yang berhubungan erat dengan media untuk mewartakan project seni saya memberikan pelajaran banyak mengenai bagaimana berteman dengan media. artinya kita tak memanfaatkan para jurnalis tersebut. kita hanya menciptakan empati atas kerja kita selama ini.

    sejak tahun 1997 hingga sekarang saya sering dibantu teman-teman jurnalis untuk mediasi semua proyek seni saya.

    hari kemarin tanggal 11 Agustus harian kompas Jogja memuat foto full color 1/4 halaman untuk proyek tersebut.

    yang lebih mengharukan lagii adalah ketika tahun 2002 [ bersamaan dengan peristiwa bom bali] kompas minggu memuat satu halaman penuh full color.

    mungkin perlu pula menciptakan hal yang selalu ditunggu oleh teman media apa yang hendak kita kerjakan. lebih baik lagi bila para jurnalis yang nagih untuk dkirim siaran persnya he..he..

    pengalaman lain dalam mebuat siaran pers diwaktu terjadi gempa di Jogja. kebetulan saya membantu salah satu posko yang membutuhkan pekerjaanya selalu di muat di media.

    strategi yang saya gunakan adalah mengirimkan faximili berisi data yang dikemas dengan komik. saya pilih media faximili karena para jurnalis tak sempat buka internet dan lagipula banyak komputer rusak dan jangan lupa bahwa jurnalis tersebut trauma bekerja dengan komputer dalam kantor mereka.

    strategi tersebut ternyata berhasil karena dari sekian banyak faximili yang masuk berupa teks ada yang nyelip berupa gambar he..he…mereka terhibur dan mereka juga jadi lebih ingat atas apa yang kita kirimkan.

    strategi yang lain yang nggak kalah penting adalah mengirimkan faximili yang berisi sapaan untuk tetap semangat dalam bekerja.

    ternyata mereka juga tambah seneng dan kadang mereka minta untuk dikoleksi he..he….mana ada siaran pers dikoleksi,tho ?

    waaaah panjang amat saya nulis komentar,nih….sungkan ah sama bungg Nukman.

    salam

    pak samuel

  6. Nukman says:

    Betul yang diuraikan pak Sam. Itulah yang oleh para praktisi PR disebut sebagai Media Relations di dunia nyata (off line). Di dunia online, agak berbeda. Banyak wartawan (asing atau lokal), juga calon konsumen, yang nyasar ke tempat kita gara-gara mbah Google atau eyang Yahoo!. Pas nyasar, usahakan mereka terpikat oleh siaran pers kita. Mereka tak akan terpikat kalau siaran pers kita panjang, karena memang behavior membaca via PC/laptop beda dengan baca buku/koran

  7. Guntarto says:

    Saya ingin share sedikit tentang bagaimana kami menyebarluaskan informasi mengenai Gerakan HARI TANPA TV, bertepatan dengan Hari Anak Nasional 23 Juli 2006.

    Sejak awal kami sadar bahwa kami tidak punya cukup dana untuk membuat flyer yang cukup banyak karena gerakan ini diharapkan diikuti oleh segenap warga negara, sebagai ungkapan keprihatinan mereka terhadap isi tayangan TV kita yang tidak aman dan tidak bermanfaat untuk anak dan remaja. Namun kami yakin bahwa banyak orangtua yang memiliki keprihatinan seperti ini.

    Kami tidak mengirim press release ke berbagai media, namun mengundang mereka dalam sebuah press conference kecil di Hotel Sofyan Cikini. Seperti biasa, ketika dikonfirmasi beberapa media menyatakan akan hadir. Pada hari h, kami khawatir bahwa yang datang dari teman-teman media paling banyak 10 orang padahal seat tersedia untuk 30 orang. Alhamdullilah, ternyata yang datang cukup banyak bahkan harus nambah kursi..

    Namun itu tidak berarti semuanya jalan lancar. Pemuatan di media cetak baru dilakukan setelah ada aksi damai di Bundaran HI, 2 hari sebelum Hari Tanpa TV. Kalau tidak ada aksi damai ini, entah media akan memuat atau tidak…

    Melalui kurang lebih 5 milis, kami menyebarluaskan semacam press release berisi ajakan untuk mengikuti Gerakan HARI TANPA TV. Selain itu, website yang khusus disiapkan untuk gerakan ini, yakni http://www.kidia.org ternyata mendapat kunjuungan yang cukup menggembirakan. Melalui website inilah informasi mengenai Hari Tanpa TV dibaca dan kemudian diambil untuk disebarluaskan dalam berbagai blog.

    Dalam perkiraan saya, ada sekitar 85 blog yang mengambil materi – termasuk image – untuk dipasang dalam blognya masing-masing. Kemudian ada sekitar 25 blog yang pengunjungnya memberi komentar. Blognya mas Priyadi misalnya, memiliki lebih dari 110 komentar untuk isyu Hari Tanpa TV.

    Jadi, saya melihat bahwa penyebarluasan informasi melalui internet ini memang cepat sekali dan meluas. Media cetak seperti Kompas yang dalam edisi cetaknya hanya memuat berita foto, namun dalam edisi online bisa lebih dari 2 berita.

    Saya merasa sangat terbantu dengan adanya blog di internet, karena dari situ juga bisa saya dapatkan respon baik yang mendukung maupun yang menolak.

    Terima kasih sudah memberi kesempatan.
    Salam,
    Guntarto

  8. danu says:

    betul banget, sekarang udah ga musim panjang – panjang, tapi sungguh ironis saat saya membaca artikel bapak, saya juga harus menggunakan scroll saya. gimana dong ???!!

  9. Nukman says:

    Itu artinya saya sendiri juga belum pintar menulis pendek dan ringkas :) .

  10. Dian says:

    Hehe…Pak Nukman lucu juga. Masukan dong Pak, buat saya- dan mungkin yang lain. Gimana sih, trik membuka komunikasi dengan wartawan? Entry yang pas itu bagaimana?

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih atas apresiasinya, semoga kampanyenya sukses!

  • Andi Primaretha: - Betul Mas Wahyu, saya juga selalu menganggap internet sebagai Universitas...

  • hdtv mount: - sangat menarik. saya sangat terinspirasi oleh tulisan anda. Tampaknya kampanye...

  • wahyu awaludin: - menarik, mas.. memang kita harus memilah-milah data supaya gak pusing sendiri....

  • Tonton: - setuju bangeeet, memang harus segala macam teknik marketing, harus juara. terimakasih,...

  • andina: - thanks infonya mas Andi

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting