Selasa 4 Agustus 2009 yang lalu, hampir seluruh elemen masyarakat Indonesia tersentak dengan berita meninggalnya Mbah Surip yang sangat mendadak. Semua orang shock, dan tidak percaya, karena Mbah Surip yang unik dan eksentrik sedang dalam puncak ketenaran.
Hanya dalam hitungan detik semenjak berita meninggalnya Mbah Surip, maka status update di Facebook, dan Twitter mengucapkan bela sungkawa untuk Mbah Surip. Lalu apa dampak berikutnya, hanya dalam waktu 3 jam maka topik Mbah Surip menjadi trending topic nomor satu di Twitter di seluruh dunia. Mungkin banyak yang bertanya, berapa banyak tweet sehingga, sebuah topik menjadi trending, berdasarkan sebuah riset, minimal 1200 tweets oleh 500 pengguna, di saat jam sepi (jam sepi dihitung berdasarkan waktu Eropa dan Amerika, sebagai wilayah yang dominan menggunakan Twitter).
Trending Topic Twitter yang biasanya diisi oleh isu internasional, seperti Michael Jackson, Iran Election, bisa kalah oleh berita seorang simbah eksentrik dari Mojokerto. Setelah membuat kehebohan di Twitter, maka media-media mainstream mulai mengendusnya, dan menjadikannya sebuah topik penting.
Kompas.com akhirnya pun menurunkan liputan khusus mengenai Mbah Surip lengkap dengan perbincangan di Twitter mengenai Mbah Surip. Tak terhitung juga media lainnya seperti radio, koran, tabloid, hingga portal yang meliput mengenai hal ini.
Sebelumnya #indonesiaunite, yang berawal dari Twitter juga berhasil membetot perhatian publik, hingga merambah berbagai media, dan menjadi sebuah gerakan massal. Karena para praktisi media konvensional, memonitor perbincangan di Twitter, dan mencium bahwa isu ini akan menjadi besar, maka mereka membuatnya menjadi liputan, wawancara, konser musik dll.
Lalu apa yang perlu dicermati oleh para praktisi Public Relations, dengan eksistensi Twitter ini? Saya melihat akan terjadi pergeseran pencipta isu utama berita. Bila dahulu kala, yang menentukan berita mana yang layak tampil ke publik, dan akan menjadi perbincangan hangat adalah para redaktur, dalam sebuah meja redaksi.
Tapi sekarang berbalik, media akan mengikuti selera pasar. Perbincangan apa yang sedang hangat di Twitter, akan menjadi headline berita media tradisional dan juga media online. Mereka akan melakukan investigasi yang lebih mendalam mengenai isu tersebut. Karena bagaimanapun Twitter hanya sebuah update informasi instan 140 karakter. Sementara publik membutuhkan informasi lengkap, plus analisa dari orang yang dianggap punya otoritas.
Ini akan menjadi sebuah perubahan yang sangat dahsyat yang harus disadari seorang PR. Mengapa? Bayangkan bila isu mengenai perusahaan atau merek Anda dibicarakan di Twitter. Lalu kemudian menyebar dengan cepat di ranah Twitter, dan para media-media besar yang selalu memonitor pergerakan Twitter melihat ini, maka ini akan menjadi sebuah berita besar.
Karena media yang melihat adanya permintaan yang besar akan berita ini, akan segera menurunkan liputan yang lebih lengkap dan investigatif. Serta menjangkau audiens yang lebih luas. Tetapi ini hisa menjadi pisau bermata dua, apabila yang dibicarakan adalah hal-hal yang baik, maka tentunya ini menjadi sebuah publikasi gratis untuk perusahaan. Apabila yang menjadi perbincangan adalah topik yang buruk? Wah bisa gawat, itu namanya bunuh diri, karena isu akan lebih cepat menyebar, dan lebih sulit dipadamkan.
Lalu mengapa baru di era Twitter? Bukankah sebelumnya sudah ada Friendster, Facebook, atau Mailing List? Tetapi biasa-biasa saja, tidak menimbulkan kehebohan seprti ini, sehingga akan menggeser ke era news on demand? Jawabannya, karena Twitter merupakan penjelmaan sebuah karakter baru. Di mana konsumen membicarakan hal-hal yang memberikan manfaat dan informatif untuk orang lain. Dan walaupun penggunanya tak sebanyak Facebook, mereka itu para opinion leader, yang punya pengaruh sangat besar dalam menetukan persepsi.
Twitter juga memudahkan penyebaran dan viral sebuah informasi, dengan aplikasi ReTweet (RT), sama halnya seperti saat kita sedang forward e-mail. Postingan yang menyentuh, menginspirasi atau yang dianggap penting yang maksimal hanya 140 karakter itu akan di-retweet (disebarluaskan) oleh banyak orang meski mereka tidak mengikuti (men-follow) pemilik posting aslinya. Hanya dengan mendapatkan RT dari temannya, pengguna Twitter mungkin saja me-RT lagi sehingga terbaca oleh teman-temannya, dan seterusnya.
Di sisi lain, informasi yang beredar di Facebook itu dianggap kurang kredibilitas, karena secara alamiah Facebook adalah tempat ngerumpi hal-hal yang nggak penting, dalam lingkaran teman. Sementara di Twitter, kredibilitas menjadi sangat penting, karena bisa langsung di track siapa yang melempar isu.
Perpaduan antara medium gaya baru, berkumpulnya para influencer, dan kolaborasi media konsvensional yang bergabung di Twitter, membuat arah sebuah isu yang dianggap layak atau tidak layak menjadi headline saat ini juga dapat ditentukan oleh publik lewat Twitter. Tidak berlebihan jika para host MetroTV juga aktif di Twitter dan kadangkala menggali usulan topik hot dari para pengguna Twitter Indonesia
Follow Tuhu Nugraha di Twitter
Akhir2 ini saya juga mulai aktif di twitter, alasannya sih pengen mem-follow twitter resmi beberapa public figure luar negeri:D
Twitter justru lack credibility, Facebook menurut saya lebih kredibel karena punya profil, foto, dan lain-lain.
Twitter lebih mempercepat persebaran isu karena networknya lebih global dari facebook (tidak perlu berteman di dunia nyata, cukup berbagi common interest), dan untuk sharing hanya berharga dua klik.
Bentuk stream twitter yang tidak punya fasilitas penempelan media apapun kecuali URL membuat proses konsumsinya menjadi jauh lebih cepat dari pada stream facebook. Bisa jadi ini salah satu faktor kenapa suatu wacana bisa bergerak lebih cepat di twitter.
Tapi lagi-lagi masih harus dikembalikan ke kemasan isu/pesan dan lingkaran teman di masing-masing medium. Jika kita melempar isu di lingkaran yang salah tentu saja persebarannya tidak akan cepat. Atau bahkan sama sekali tidak menyebar.
My two cents
Twitter memang ok untuk penyebaran berita, Tuhu. Boleh dunk sekali2 dibahas bagaimana efek Twitter bagi online business. Apakah ada efeknya atau tidak. Thanks
twitter memang menjadi fenomena dalam penyebaran isu. walaupun begitu, media konvensional seperti tv masih ambil bagian dalam penyebaran isu. Coba perhatikan, saat tim Densus 88 mengepung teroris, banyak orang melakukan Tweet berdasarkan info dari berita TV. Mungkin belum ada para twitters yg berdedikasi sepenuhnya melaporkan kejadian langsung di tempat perkara
terimakasih sharingnya… lagi belajar twit – twitan…
Agree with Tony about credibility of audience between Twitter and Facebook.
From me actually no matter what the medium is since social media you can CREATE your own network, you can’t say Twitter more credible or FB more credible because each network for each person is different. Maybe you think your FB network is more for “hahahihi” because you choose them, and your twitter network is more serious because you follow some serious people too.
So the point is, explore the medium first and analyze what you can do there for personal branding, marketing your brand or just for fun.
masuk akal…
@Akhmad Fathonih, kalu diijinkan membela diri, saya akan mengajukan argumen. Dalam sudut pandang Anda Facebook lebih kredibel, karena jelas orangnya, ada fotonya, dan kita kenal itu betul sekali. Tapi pandangan yang sangat sempit. Kita memang kenal secara personal, tapi apakah dia punya kredibilitas untuk berbicara tentang sebuah isu? Di Twitter, perilaku konsumen itu akan follow, orang-orang yang memang punya kredibilitas di offline, dan memang sudah dikenal luas. Misalnya, untuk berita terkini saya follow @cnnbreak, dll. Kenapa ini terjadi? Teknologinya juga mendorong kesana, Facebook itu tertutup untuk teman kita, karena harus ada approval. Sedangkan Twitter itu adalah pasar terbuka, Anda bisa follow, dan unfollow sesuka hati (kecuali di proteksi). Akibatnya apa? Hanya Twitter yang memberikan informasi yang berguna yang akan mempunyai banyak follower, sementara yang lain hanya duduk manis follow,untuk update isu terbaru. Itu sebabnya di Twitter, konsumen diarahkan tanpa sadar untuk lebih “serius”. Di sisi lain, Twitter juga menampilkan realtime isu apa yang menjadi perbincangan paling banyak di Twitter. Ini juga berpengaruh lho, pada bagaimana konsumen berperilaku, dan para praktisi media bisa mengamati berita apa nih yang lagi hot, dan bisa “dijual”.
@Mbak Nadiah,ummm menarik juga untuk membahas topik ini.
@Meidi, jelas saja gak akan ada yang berdedikasi akan tweet, karena mereka kan tidak sedang bekerja. Yang menjadi penting dan pokok bahasan disini adalah, Twitter itu akan menjadi medium yang menjadi tolok ukur berita mana yang akan menjadi besar. Jelas media konvensional gak akan digantikan, karena memang sifat alamiah Twitter hanyalah penyulut api, setelah itu konsumen tetap butuh berita lengkap, dan investigatif yang tidak dimiliki oleh Twitter. Tapi berita investigasi apa yang akan diturunkan oleh media, sekarang akan dipengaruhi perbincangan opinion leader di Twitter.
@Andi, maaf ya bahasa Inggris saya amburadul, menerjemahkan komennya ajah udah terengah-engah apa nih maksudnya hahahaha. Jadi saya jawab bahasa Indonesia ajah,karena sayah juga cintah Indonesah hehehe.
Jadi begini, saya setuju bahwa setiap medium itu berbeda. Makanya cara berkomunikasinya juga beda. Saya berbeda di Twitter dan facebook, bukan hanya masalah pilihan saya. Tapi memang dari sananya, keduanya diciptakan berbeda, sehingga akan mendorong perilaku yang berbeda pula.
Twitter dan Facebook, sengaja mengambil positioning yang beda. Twitter makin kesini, memang makin serius. Bisa dilihat dari lay out terbarunya, dimana trending topic bisa dilihat bahkan saat Anda belum login. Kalau tidak mengambil positioning berbeda, maka Twitter akan segera mati.
nice article..cukup memberikan pencerahan mengenai fenomena twitter yang terjadi akhir2 ini
Saya pikir antara Twitter dan Facebook memiliki kelebihan yang berbeda. Tidak ada kaitannya dengan kredibilitas! Banyak juga kok tulisan2 pada group atau Notes di FB yang berkualitas sekaligus kredibel. You can tweet me: http://twitter.com/izmild
@M. Ismail, tapi itu kan bukan mayoritas, dan memang Facebook tidak diciptakan untuk itu, tapi untuk ngerumpi berjamaah> Apakah itu kastanya lebih rendah??? Jelas tidak. Setiap orang kan butuh ruang ekspresi yang berbeda. Dan ingat sistem approval di Facebook, membuatnya sebagai ruang privat, yang sangat terbatas.
[..Sementara publik membutuhkan informasi lengkap, plus analisa dari orang yang dianggap punya otoritas...]
kalau ini saya merasa, publik yang termempunyai pendidikan akan memilih blog favorite dengan analisis mendalam, dan menomor duakan analisa sang otoritas di TV. sebagai pertimbangan pada media blog, tidak ada intervensi yang besar dibanding TV, radio dan media conventional
Lalu kenapa Twitter dan bukan Facebook. Simple saja, pada media tweeter , tidak dibatasi jaringan kantor. media ini juga mempunyai trending watch dibandingkan dengan FB.
Hal lainnya adalah, pada FB kita sulit mengenal siapa yang dianggap non- ngerumpi hal-hal yang nggak penting. Walau banyak sekali notes yang serius
mas…jujur nich…klo di twitter saya kok belum bisa menjadikan saya populer ya…karena disana ngga ada grup,tautan dan lain2 ya…..
Jujur saja, saya belum bisa memaksimalkan penggunaan account twitter saya untuk keperluan promo. Dengan tulisan Mas Tuhu diatas, saya kok malah jadi pengen memaksimalkan twitter saya, secara saya pun sudah menggunakan salah satu add-ons (shareaholic) untuk langsung mentautkan ke twitter guna memaksimalkan promo…
@Arham, Blogger kan juga punya keterbatasan. Misalnya untuk hal-hal mendetil yang turun ke lapangan seperti misalnya investigasi teroris, apakah ada Blogger yang akan melakukan live report dari Temanggung? Sisanya sih setuju banget dengan pendapatnya,sekaligus membantu menjelaskan kepada yang lain, kenapa Twitter punya karakter yang berbeda dengan Facebook.
@Agung, bila ingin menjadi populer, ya mesti ngetweet sesuatu yang informatif, dan berguna buat orang lain biar yang lain mau jadi followernya. Lalu ReTweet, ini akan menjadi promosi, karena banyak yang kemudian akan pengin jadi follower juga.
Saya justru berfikir, twitter memperjelas gap antara netholic dan orang2 pada umumnya. Isu yang dilempar dan dibahaspun tidak selalu relevan dengan realitas akar rumput. Bisa dikata, apa yang booming di twitter sudah beda kapal dgn yg booming di masyarakat. Jika dikaitkan dgn pemasaran, malah bisa bias mana yg benar2 penting dan mana yang relatif penting dari sisi tweeter user. Di tweeter booming, media ikut membahas, ..tapi mentah di masyarakat.
@BudiTyas, ketika media ikut membahas, bukankah itu akan menjadi isu besar di masyarakat? Karena logikanya informasi itu kan jadi semakin luas, yang gak ikutan twitter jadi tahu. Yang baca koran, yang hanya nonton tv, atau dengerin radio juga akhirnya tahu? Mungkin bisa kasih saya sedikit pencerahan mengenai argumen Anda. Ini akan menjadi diskusi yang menarik.
Dalam opini saya, profil pengguna tweeter tdk bisa menggambarkan minat masyarakat secara keseluruhan, apalagi masyarakat indonesia. Sebuah kasus yg bisa jadi sangat menarik dalam perspektif pengguna tweeter belum tentu menyedot perhatian masyarakat secara luas meski infonya terpublish juga lewat koran, tv, dll. Dalam arti, demand profilenya kurang mewakili tipikal masyarakat umum. Tentang kematian mbah surip, ada atau tdk tweeter tetap ia akan jadi berita. Demikian juga dengan terorisme atau yang lainnya. Apa yg bakal hits bisa dibaca via rating atau peningkatan oplah dlm jenis2 berita tertentu dan dari situ media memilih berita2 yg layak jual dgn dasar “demand” yg lebih obyektif.
Contoh lain, untuk berita – berita semacam kasus bu prita, justru blog punya andil besar sebagai trigger. Blog bisa mengangkat suatu kasus yang terpinggirkan untuk tampil ke permukaan. Tweeter tdk bisa karena keterbatasan karakter. Sedang untuk kasus2 besar yang memang layak masuk TV seperti pesawat jatuh atau bom, tweeter ada atau tidak ya tetap sama saja. Media tetap akan mengangkatnya tanpa perlu melirik trend tweeter. Karena untuk berita2 semacam itu, “demand is already there”. Sudah jamak bagi media untuk mengangkatnya.
@BudiTyas, pendapat Anda tentang ada tidaknya Twitter maka liputan pesawat jatuh, pengeboman, atau meninggalnya Mbah Surip akan tetap menjadi berita memang benar. Tapi apakah akan seheboh itu? Sebuah berita akan digalilebih dalm, dan diinvestigasi lebih jauh bila dilihat ada permintaan yang besar, untuk menaikkan oplah, traffic dll.
Oke kalau kasus itu masih kabur, bagaimana dengan Indonesia Unite, yang berawal dari Twitter? Mengapa kemudian media berbondong membuat wawancara dengan orang yang terlibat, konser dll. Indonesia Unite itu memang terkait dengan kasus bom. Tapi ini adalah sebuah gerakan sosial yang terpisah, sebelum ada Twitter, kok ya ndak ada yah gerakan Indonesia Unite?
Untuk kasus Prita, disebut blog yang lebih dominan mendorong media meliput besar-besaran. Mungkin perlu dilihat lagi, siapa dibalik Twitter dan Blog? Orangnya ya itu-itu juga lho. Mereka itu adalah para early adopter dan opinion leader, yang akan mempengaruhi massa yang hanya duduk diam, dan ngikut saja.
Mungkin pertanyaan berikutnya, mengapa pas kasus Prita gak jadi trending topic? Karena ketika itu perkembangan Twitter belum seheboh saat ini. Twitter memang sudah menjadi tren di Eropa dan Amerika sejak lama. Tapi di Indonesia berdasarkan Google Trend, Twitter menunjukkan lonjakan pengguna baru April 2009. Beberapa data juga menyebut pertumbuhan penggunanya, melebihi pertumbuhan pengguna Facebook.
Pertanyaan lainnya yang mungkin ditanyakan, mengapa news on demand nggak dimulai sejak adanya blog? Blog itu punya karakter yang berbeda. Tulisannya biasanya panjang, jadi nggak semua orang punya blog. Blog yang begitu menghebohkan perkiraan penggunanya paling 500.000, sementara berdasar Google Adplanner unique visitor (estimate cookies), per hari ini 900.000 account. Dan ini hanya terjadi dalam beberapa bulan. Tidak sampai sebulan lalu, jumlah account berdasarkan Google Adplanner baru 700.000.
Di sisi lain, trending topic yang real time di Twitter memudahkan para pekerja media bisa mengendus berita apa yang sedang hangat saat itu, yang ini jelas tidak dimiliki oleh Blog.
Alasan lain lagi, menulis blog itu tidak akan saat itu juga. Isu-isu itu akan dipendam sampai mereka berhadapan dengan lap top atau komputer dan koneksi internet. Sementara Twitter bisa di update via HP, dengan real time, bahkan mereka bisa life tweeting. Ini adalah sebuah revolusi yang sangat besar.
Heboh tidak hebohnya berita tergantung respon balik masyarakat. Dan sebuah gambling besar jika TV menggunakan tweeter trend sebagai acuan. Itu terlalu spesifik. Seperti saya sebut di atas, lebih obyektif jika pakai rating atau pakai data statistik perusahaan partner macam AC nielsen. Profile audiennya lebih mewakili realitas yang ada.
Tentang indonesiaunite, apakah memang sebegitu besar efeknya di masyarakat? Coba kita tanya tetangga, pak RT, pak RW, siapa yang aware dgn hal itu. Kalau dari orang2 sekitar saya sdr sih pada nggak aware. Misal tema itu muncul di TV pun mungkin mereka pilih pindah channel liat termehek – mehek atau acara yg lain. Sekedar TV blunder krn sampling tema yang tidak mewakili ketertarikan mayoritas, sehingga jadi publikasi mentah.
Tweeter atau blog tetap belum bisa mewakili demand yang ada karena profil usernya yang spesifik. Tweeter bisa jadi acuan hanya jika penjual cabe, tukang becak, buruh pabrik, pada bisa ngetweet. Dan jika itu terjadi, trend yang dibahas di tweeter bisa jadi sangat – sangat berbeda dari topik bahasan yang ada sekarang. Indonesiaunite bisa saja kalah sama berita selingkuhnya seorang pesinden…,who knows?
[..Dan sebuah gambling besar jika TV menggunakan tweeter trend sebagai acuan. Itu terlalu spesifik. Seperti saya sebut di atas, lebih obyektif jika pakai rating atau pakai data statistik perusahaan partner macam AC nielsen...]
tanpa bermaksud meragukan nielsen, sebenarnya pasar tweeter / penggunanya memang, lebh bnyk pada techie yang spesifik, yang juga bnyk diisi techie early adopters kemudian menyebar ke jenjang berikutnya. Dengan kata lain, akan menjadi kebutuhan publik dan ngak jarang grass root pun ikut terbawa.
Dari alur tersebut, sebenarnya sudah cukup jelas kalau tweet mampu mewakili pandangan umum. Kecuali daerah2 terpencl tentunya.
[...Tentang indonesiaunite, apakah memang sebegitu besar efeknya di masyarakat? Coba kita tanya tetangga, pak RT, pak RW, siapa yang aware dgn hal itu...]
sepertinya cukup terjadi perimbangan yah, ditempat saya ( JAKSEL ) malah banyak yg punya baju KTT…. padahal pak RT dan RW ngak punya, lucu masyarakat lebih aware dibanding sang RT & RW
nah kalau yang ini saya setuju banget
[…Tweeter atau blog tetap belum bisa mewakili demand yang ada karena profil usernya yang spesifik. Tweeter bisa jadi acuan hanya jika penjual cabe, tukang becak, buruh pabrik, pada bisa ngetweet…}
sekedar tambahin ajah, kalau yang biasa ngetweet ituh, suka berbagi ngak laen dan ngak bukan Word of Mouth marketing yang berjalan. Berita tersebar dan ter-buzzing dari tweeter kepada non-tweeters …
bgitu benang merahnya, smoga bisa membantu
Secara umum di republik ini, media konvensional yang kita sebut koran (karena kedalamamnya) dan TV-lah (karena kecepatannya) membangun agenda setting. Sedangkan FB dan Twitter membangun variasi dan narasi konten dari media-media konvensional tersebut. Sebut saja peristiwa terakhir yang menjadi isu penting, TV dan Koran tetap menjadi acuan untuk membangun agenda media. Bahkan tak jarang pagi hari televisi2 membahas headline koran.
Kebiasaan yang sama juga muncul pada media lain. Mereka melanjutkan cerita yang sdh dibangun media lain dan berpotensi/telah menjadi agenda publik.
Jadi, kalau soal pembangunan agenda media, sepertinya media konvensionallah yang menentukan. Soal variasi dan narasi, FB dan Twitter bisa diandalkan.
Salam
Rahmat
Perbincangannya menjadi sangat menarik. Banyak sekali wacana-wacana yang bagus dengan argumen masing-masing. Ini memang sebuah ruang yang terbuka, jadi sangat terbuka untuk perbedaan pendapat.
Sebuah tulisan yang sungguh impresif.
Jawaban-jawaban dan argumentasi Anda juga sangat impresif.
Great post and great argument.
Sebenarnya DIGG lebih dulu muncul….dan ini juga salah satu demokratisasi media.
Disini ada http://lintasberita.com yang pertumbuhan readersnya sangat pesat.
@Mas Yod, Startegi manajemen
Sayang Lintas berita, pemasukanna masih sulit, ngak lain karna culture advertiser yang blm aware dan cenderung skeptos dengan Online
@Budityas:
Tidak semua isu yang lagi ngetrend di Twitter akan dimakan media. Tetap saja tergantung pada segmentasi medianya. Kalau cocok dengan target pembacanya, dan dirasa bisa meningkatkan oplah, trending topics di Twitter bisa diangkat media. Kalau tidak, ya tidak ada gunanya.
Sebagai contoh, adalah isu yang berkembang di Twitter awal pekan ini, Selasa 11 Agustus 2009, mengenai video Marshanda. Meski belum menjadi trending topics, gerakan pertumbuhan kata kunci Marshanda sangat cepat, sehingga terbaca oleh beberapa media gosip. Mereka pun menulisnya, seperti Kapanlagi (Marshanda ‘Buka-Bukaan’ di YouTube!) Okezone (‘Marshanda’ Caci Maki Teman SD Lewat Video) dan Detikhot (Heboh di Youtube, Video Marshanda Dihapus). Bahkan kalau tidak salah, sempat masuk ke Insert di TV.
Kompas, yang kurang doyan gosip, tentu saja tidak akan menyuguhkan tren yang dipicu Twitter ini ke pembacanya.
Video Marshanda itu hanyalah sebuah contoh bagaimana positioning sebuah media menentukan trending topics apa di Twitter yang layak dijadikan berita dan berpotensi menjadi media setting.
@Nukman
Itulah maksud saya. Tweeter, bagaimanapun masih tetap seperti yang lain, ada dalam tataran sumber, belum bisa dianggap sebagai redaktur yang mampu memilah kelayakan tampilnya berita untuk menjadi acuan media lain, apalagi rujukan headline. Dgn alasan yang sama, berharap tweeter mampu menjadi dashboard PR untuk membaca respon publik juga jadi kurang relevan. Salah2, bad issue mengenai brand yang sebenarnya tidak menyentuh mayoritas konsumen jadi diangkat karena “nampak” penting di tweeter. Hal yang sebenarnya bisa “sembuh sendiri” dengan diabaikan, justru menjadi fokus, tersebar luas, dan membutuhkan kampanye berdana besar unuk memulihkan nama.
Mungkin yang perlu dijadikan catatan adalah integrasi berbagai media dengan satu kepemilikan. Misalnya koran Kompas dan kompas.com atau RCTI, Sindo dan Okezone. Karena semua media ini berorientasi profit, maka efisiensi mengelola media akan mengedepan. Integrasi memang ditujukan untuk memperluas jangkauan dan meminimalkan ongkos produksi. Dan yang tak kalah pentingnya adalah membangun agenda setting.Paduan efisiensi, daya jangkau dan pengaruh(agenda setting) inilah yang membuat media2 konvensional dominan(mungkin untuk koran menurun dibeberapa negara, belum untuk indonesia).Jadi, jika ada medium, belum mencapai skala ekonomi dengan sendirinya akan tersingkir atau punah. Atau menjadi medium baru dengan kebutuhan khusus, mungkin inilah tempatnya social media. Kalau dia khusus atau spesial, konsekuensinya tidak bisa dominan.
Kecuali kalau memang ada agenda setting untuk membuatnya jadi dominan.
Salam,
Rahmat
@Budityas:
Tweeter menjadi dashboard PR lebih ke fungsi untuk memantau customer insight dari percakapan konsumen di microblogging tersebut, sehingga bisa menjadi semacam alarm untuk masuk ke fase berikutnya: mau diapakan insight (baik yang negatif maupun positif) ini?
@Rahmat:
Perbincangan mengenai media setting selalu menarik, dan barangkali tak akan ada habisnya. Lebih menariknya lagi, di era social media ini, media setting bisa cepat mendominasi apabila ditunjang oleh percakapan di social media, termasuk microblogging semacam Plurk dan Twitter.
ada yang menarik dari perbincangan di atas, pendapat mas tuhu yang mengatakan bahwa, facebook dan tweeter dari sananya sudah diciptakan begitu. Bahwa facebook diciptakan dari sananya untuk ngerumpi berjamaah dan tweeter diciptakan lebih untuk hal-hal yang serius. Tapi buat saya itu tergantung kepada pergerakan usernya berarti kasus ini dalam statsitik tergantung kepada waktu (jadi hal ini mungkin hanya berlaku untuk sekarang).
Kita lihat saja dulu pergerakan user facebook yang awalnya mature (untuk jaringan saya)hal-hal yang dibahas adalah banyakan serius, postingan status tidak sedahsyat sekarang,
soalnya di jaringan saya adalah orang-orang yang juga ingin menciptakan image intelek dan sesuai dengan umurnya tersebut. Kemudian facebook mulai di serbu oleh usernya friendster, ya akhirnya mulailah hal2 yang sesuai dengan usernya yang berkembang. Mungkin nantinya tweeter juga akan mengalami pergeseran seperti itu.
Kalau masalah kredibilitas informasi saya tidak sepenuhnya sepakat dengan itu walaupun yang nge tweet adalah officialnya media, contoh kasus adalah trending topic iran election, terbukti bahwa banyak berita2 yang tidak sesuai dengan kejadian yang sebenarnya di lapangan, narasumber yang diambil oleh media mainstream contohnya CNN banyak yang tidak bisa dipercaya juga. Ini kejadian dan pernah diunggkap bahwa ada sebuah upaya propaganda kepentingan yang terlibat di sana, bahkan info dari user tweeter sekalipun.
oya ada riset menarik neh tentang postingan di twitter
http://mason360.com/20090813498/News/Technology/40-of-twitter-tweets-are-pointless-babble.html
@ Mas Nukman:
Saya hanya mencoba membantah asumsi penulis, bahwa social media akan mampu membangun agenda media.Menurut saya, media konvensional (bukan tradisional) masih menjadi acuan bagi pembangunan agenda media yang akan diturunkan menjadi agenda publik dan menjadi agenda kebijakan.Jika bicara news demand, bicara kemampuan mempengaruhi isu, maka kita bicara agenda setting media.
Intinya: jika suatu medium mampu membangun pengaruh, maka media tersebut akan memiliki posisi dominan. Bukan jenisnya: new atau traditional media.
Saya setuju dengan Mas Nukman bahwa social media “menunjang” atau saya sebut sebelumnya “variasi” dan “narasi (storytelling)”.Artinya, medium tsb tidak dalam posisi dominan dalam membangun isu. Media tersebut hanya melanjutkan isu yang sudah terbangun.
Tks
Rahmat
@Mas Nukman:
Saya melihat kekuatan social media adalah kemampuannya untuk mendesakkan agenda yang sudah terbangun secara maksimal kepada target audiens(spiral of silence).
Tks,
Rahmat
Saya adalah salah seorang broadcaster yang sering menggunakan topik yang sedang ngetrend di twitter. Sengaja ini dilakukan, karena saya lebih sering mendapatkan berita terbaru dan terhangat yang nilainya jadi lebih menarik. Ini tak lepas dari tema yang diangkat di program “bandungers bloggers” yang memantau perkembangan terbaru yang sedang hangat diperbincangkan.
Dulu saya sering mencarinya melalui blog, lalu juga di facebook, tapi jelas ada perbedaan yang berbeda diantara mereka. Dan untuk keperluan mendapatkan berita real-time, twitter masih jadi yang terbaik.
Pendapat-pendapat yang masuk sepertinya makin rame disini, banyak wacana bermunculan, sengaja saya berdiam sejenak untuk melihat dan meresapi respon yang masuk. Karena bagaimanapun perbedaan pandangan itu akan memperkaya satu sama lain. Plus satu hal, dalam pemikiran posmodernisme, sebuah teks yang telah dilempar ke publik, bukan lagi menjadi pemilik penulisnya tapi menjadi hak bagi para pembacanya untuk melakukan interpretasi.
Namun bagi kalayak pembaca mungkin masih bertanya-tanya apa maksud di balik semua ini. Nanti akan saya berusaha respon di komentar berikutnya, soalnya dua kali coba posting komen jadi satu, tanpa sengaja terhapus sebelum sempat terposting.
@BudiTyas, Twitter memang tidak akan menjadi seperti redaksi yang bisa memilah dan memilih, ini hanya sebuah kerumunan orang, yang sedang berbicara tentang sebuah isu, dan sifatnya masif. Namun isu inilah yang kemudian akan diendus oleh media konvensional untuk melakukan investigasi. Karena begini, bagaimanapun redaksi akan menurunkan berita itu apa yang kemudian akan “laku” di pasar kan? Dan Twitter bisa menjadi tempat untuk melakukan monitoring itu, berita mana yang akan “menjual” bagi kalayak pembacanya.
@Rahmat, jujur saya tidak terlalu menngerti dan mendalami teori agenda setting karena yang membahas kemarin adalah Mas Mumu. Namun dalam hemat saya begini, Twitter memang bukan sebuah misi suci menciptakan agenda setting. Namun permasalahannya, dengan adanya Twitter maka sebuah isu akan bergerak lebih cepat dari sebelumnya, karena media massa konvensional akan mudah untuk mengendus topik yang hangat, dan akan membuatnya menjadi sebuah isu besar.
@Febri, argumen yang bagus dan keren. Memang benar, tergantung sapa yang ada disitu akan menciptakan apa yang akan terjadi. Tapi ingat lho, si owner Twitter dan Facebook kan juga punya agendanya sendiri. Produknya ini akan di positioning kan sebagai apa? Lalu kemudian ini berpengaruh pada aplikasi dan fitur, serta desain yang mereka bangun untuk menguatkan persepsi, dan tanpa sadar menuntut penggunanya berperilaku seperti apa yang diinginkan.
Twitter ketika pertama kali muncul, memang tempat curhat status yang nggak penting. Hari ini lagi makan dimana? Mau ngapain? Lagi jalan kemana? Ini ketika social media lain, belum melakukannya. Namun dengan ganasnya pergerakan Facebook, maka secara perlahan dia juga melakukan repositioning agar bisa bertahan, kalau tidak akan mau tergerus.
Saya sih yakin, Twitter tidak akan dipenuhi oleh ABG, kalaupun mereka eksis itu hanya untuk follow idolanya seperti @radityadika, tapi nggak akan update status, seheboh di Facebook. Karena secara desain yang lebih kaku itu tentunya nggak akan menarik buat mereka.
@Agushery, sebenarnya ide tulisan ini, sesederhana perubahan perilaku para praktisi media seperti yang dinyatakan oleh Anda. Terima kasih untuk sharingnya.
thanks ya artikelnya…
Mas Tuhu,
Terima kasih tulisannya.Saya tunggu tulisan selanjutnya. Senang berdiskusi dgn teman2 semua.
Salam,
Rahmat
@Abifikiri, sama-sama semoga artikel ini berguna.
@Rahmat, terima kasih juga untuk dukungannya, semoga akan segera nulis lagi. Menulis itu ternyata memang butuh tenaga dan napas panjang hahahah. Saya juga sangat senang, terjadi sebuah diskusi yang bermutu. Ini yang membedakannya dengan sebuah artikel di media cetak.
@pak nukman
Kaitannya dgn PR, kalau digunakan sebagai alarm, saya pikir ini yang paling masuk akal mengingat kecepatannya. Sementara sebagai dashboard, kombinasi feed berita ternama, distributor issue, CS, juga info lapangan dari beragam sumber bisa jadi dashboard komprehensif sebagai landasan kuat untuk melangkah.
@mas tuhu
Sama dgn pendapat di atas, saya sekedar menganggap tweeter sbg warning, info awal, dimana pergerakan di media2 ternama yg perlu terus dimonitor. Kesannya memang sedikit lambat, tapi lebih komprehensif, lebih valid dan solid ntuk jadi pijakan kaitannya dgn PR. Irama tweeter menurut saya adalah pola kerja tergesa – gesa. Dan biasanya, yang tergesa – gesa sering berujung masalah. Kalau sekedar untuk bahan berita sih tdk masalah, jika trend tweeter ternyata tdk cocok dgn selera mayoritas publik, paling2 berita tdk ditonton/dibaca, tapi kalo kaitannya dgn PR, brand, wah…
btw, nice article…, ditunggu tulisan selanjutnya.
twitt twittan ..buat bisnis aja kale ..lebih Ok
[...] saya sudah pernah membahas dampak Twitter pada perubahan perilaku awak media, sekarang saya akan memprediksi respon para brand manager [...]
Klo mas Tuhu membahas “Twitter” sedangkan mas BudiTyas bicara tentang “Tweeter” sebenarnya ga nyambung diskusinya
Tapi yg jelas seru abis diskusinya. Makasih makasih … Jadi ada lampu di kepala
apa kegunaan setiap yang dibawah ni dalam twitter.saya kurang paham
• Berita (News)
• Spam
• Promosi diri (Self-promotion)
• Raban tanpa faedah (Pointless babble)
• Perbualan (Conversational)
• Hantaran semula (Pass-along value)