Selasa 4 Agustus 2009 yang lalu, hampir seluruh elemen masyarakat Indonesia tersentak dengan berita meninggalnya Mbah Surip yang sangat mendadak. Semua orang shock, dan tidak percaya, karena Mbah Surip yang unik dan eksentrik sedang dalam puncak ketenaran.
Hanya dalam hitungan detik semenjak berita meninggalnya Mbah Surip, maka status update di Facebook, dan Twitter mengucapkan bela sungkawa untuk Mbah Surip. Lalu apa dampak berikutnya, hanya dalam waktu 3 jam maka topik Mbah Surip menjadi trending topic nomor satu di Twitter di seluruh dunia. Mungkin banyak yang bertanya, berapa banyak tweet sehingga, sebuah topik menjadi trending, berdasarkan sebuah riset, minimal 1200 tweets oleh 500 pengguna, di saat jam sepi (jam sepi dihitung berdasarkan waktu Eropa dan Amerika, sebagai wilayah yang dominan menggunakan Twitter).
Trending Topic Twitter yang biasanya diisi oleh isu internasional, seperti Michael Jackson, Iran Election, bisa kalah oleh berita seorang simbah eksentrik dari Mojokerto. Setelah membuat kehebohan di Twitter, maka media-media mainstream mulai mengendusnya, dan menjadikannya sebuah topik penting.
Kompas.com akhirnya pun menurunkan liputan khusus mengenai Mbah Surip lengkap dengan perbincangan di Twitter mengenai Mbah Surip. Tak terhitung juga media lainnya seperti radio, koran, tabloid, hingga portal yang meliput mengenai hal ini.
Sebelumnya #indonesiaunite, yang berawal dari Twitter juga berhasil membetot perhatian publik, hingga merambah berbagai media, dan menjadi sebuah gerakan massal. Karena para praktisi media konvensional, memonitor perbincangan di Twitter, dan mencium bahwa isu ini akan menjadi besar, maka mereka membuatnya menjadi liputan, wawancara, konser musik dll.
Lalu apa yang perlu dicermati oleh para praktisi Public Relations, dengan eksistensi Twitter ini? Saya melihat akan terjadi pergeseran pencipta isu utama berita. Bila dahulu kala, yang menentukan berita mana yang layak tampil ke publik, dan akan menjadi perbincangan hangat adalah para redaktur, dalam sebuah meja redaksi.
Tapi sekarang berbalik, media akan mengikuti selera pasar. Perbincangan apa yang sedang hangat di Twitter, akan menjadi headline berita media tradisional dan juga media online. Mereka akan melakukan investigasi yang lebih mendalam mengenai isu tersebut. Karena bagaimanapun Twitter hanya sebuah update informasi instan 140 karakter. Sementara publik membutuhkan informasi lengkap, plus analisa dari orang yang dianggap punya otoritas.
Ini akan menjadi sebuah perubahan yang sangat dahsyat yang harus disadari seorang PR. Mengapa? Bayangkan bila isu mengenai perusahaan atau merek Anda dibicarakan di Twitter. Lalu kemudian menyebar dengan cepat di ranah Twitter, dan para media-media besar yang selalu memonitor pergerakan Twitter melihat ini, maka ini akan menjadi sebuah berita besar.
Karena media yang melihat adanya permintaan yang besar akan berita ini, akan segera menurunkan liputan yang lebih lengkap dan investigatif. Serta menjangkau audiens yang lebih luas. Tetapi ini hisa menjadi pisau bermata dua, apabila yang dibicarakan adalah hal-hal yang baik, maka tentunya ini menjadi sebuah publikasi gratis untuk perusahaan. Apabila yang menjadi perbincangan adalah topik yang buruk? Wah bisa gawat, itu namanya bunuh diri, karena isu akan lebih cepat menyebar, dan lebih sulit dipadamkan.
Lalu mengapa baru di era Twitter? Bukankah sebelumnya sudah ada Friendster, Facebook, atau Mailing List? Tetapi biasa-biasa saja, tidak menimbulkan kehebohan seprti ini, sehingga akan menggeser ke era news on demand? Jawabannya, karena Twitter merupakan penjelmaan sebuah karakter baru. Di mana konsumen membicarakan hal-hal yang memberikan manfaat dan informatif untuk orang lain. Dan walaupun penggunanya tak sebanyak Facebook, mereka itu para opinion leader, yang punya pengaruh sangat besar dalam menetukan persepsi.
Twitter juga memudahkan penyebaran dan viral sebuah informasi, dengan aplikasi ReTweet (RT), sama halnya seperti saat kita sedang forward e-mail. Postingan yang menyentuh, menginspirasi atau yang dianggap penting yang maksimal hanya 140 karakter itu akan di-retweet (disebarluaskan) oleh banyak orang meski mereka tidak mengikuti (men-follow) pemilik posting aslinya. Hanya dengan mendapatkan RT dari temannya, pengguna Twitter mungkin saja me-RT lagi sehingga terbaca oleh teman-temannya, dan seterusnya.
Di sisi lain, informasi yang beredar di Facebook itu dianggap kurang kredibilitas, karena secara alamiah Facebook adalah tempat ngerumpi hal-hal yang nggak penting, dalam lingkaran teman. Sementara di Twitter, kredibilitas menjadi sangat penting, karena bisa langsung di track siapa yang melempar isu.
Perpaduan antara medium gaya baru, berkumpulnya para influencer, dan kolaborasi media konsvensional yang bergabung di Twitter, membuat arah sebuah isu yang dianggap layak atau tidak layak menjadi headline saat ini juga dapat ditentukan oleh publik lewat Twitter. Tidak berlebihan jika para host MetroTV juga aktif di Twitter dan kadangkala menggali usulan topik hot dari para pengguna Twitter Indonesia
Follow Tuhu Nugraha di Twitter
saya malah ampe skrg masih bingung dlm ngegunain twitter and ap sih fungsi utamanya… hanya buat update status kh??
ato ad fungsi yg jauh lebih orisinil dr macam2 social network lain yg d tawarkan publisher twitter???