Itulah materi yang saya sampaikan di workshop “Kiat Menjalin Hubungan Efektif dengan Media” yang diselenggarakan majalah MiX, Selasa, 26 Agustus 2008, di Jakarta. Materi ini sangat penting bagi dunia kehumasan karena hampir semua praktisi Public Relations (PR) saat ini masih berkutat dengan cara-cara tradisional, baik melalui upaya Media Relations maupun Government Relations. Padahal dunia sudah berubah sangat nyata.
Sebelum ada Internet, tugas PR adalah membangun citra (image) perusahaan di hadapan publik secara tidak langsung melalui media (media apa saja yang tersedia, termasuk radio, cetak, dan teve).
Seorang PR Manager misalnya, harus berusaha agar berita-berita positif perusahaannya masuk ke media-media besar. Melalui berita-berita positif yang terencana dan terus menerus itulah diharapkan terbangun citra positif perusahaan tersebut di publik. Itu sebabnya, jantung seorang PR Manager akan berdegup keras kalau ada berita negatif mengenai perusahaannya atau bosnya. Ia akan segera melakukan tindakan untuk memperbaiki citra, baik dengan memberikan hak jawab ke media maupun upaya lainnya. Tensi PR Manager juga akan meninggi jika ada konsumen yang mengeluhkankan produk atau layanannya di surat pembaca — apalagi sampai dimuat di surat pembaca Kompas!.
Dengan pendekatan semacam itu, seorang PR Manager harus memahami media (dan jurnalis tentunya).
Namun dunia kini berubah. Konsumen bisa menulis apa saja di Internet, terutama di situs-situs social media dan blog. Coba perhatikan Friendster.com, Facebook.com, atau consumer generated media lainnya, termasuk blog. Begitu banyak produk yang dibahas mereka secara bebas, baik dari sisi plus maupun minusnya. Mereka yang kecewa terhadap sebuah produk atau perusahaan akan melemparkannya ke forum-forum seperti ini. Kekecewaan mereka yang tak tertampung di surat pembaca berbagai media cetak akhirnya mengalir ke Internet. Inilah dunia prosumen dimana kedudukan konsumen sudah setara dengan produsen.
Bagaimana membangun citra positif di lingkungan yang serba bebas dan sulit (bahkan nyaris tidak bisa) dikendalikan semacam ini?
Saya mengatakan kepada para peserta yang kebanyakan PR Manager, percuma kita membangun citra perusahaan secara serius melalui media, jika kita abai terhadap apa yang terjadi di dunia maya, karena di situlah sesungguhnya suara konsumen dan publik. Bisa saja citra di media bagus (ditulis bagus terus menerus), tapi kenyataanya banyak konsumen yang kecewa dan kemudian menuliskannya di Internet (dan punya peluang untuk menyebar ke pengguna lainnya).
Oleh karena itu, seorang PR Manager (juga PR person lainnya), harus melengkapi diri dengan ilmu-ilmu CyberPR, memahami online user behavior, memahami blog, serta online social media yang sekarang sedang menjamur di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.
“apalagi sampai dimuat di surat pembaca Kompas!”
untuk media tradisional, sepertinya Kompas masih yang paling berpengaruh
Betul sekali Pak, saat ini sangat mudah untuk mengangkat citra buruk suatu perusahaan. Seseorang tinggal membuat posting saja melalui blognya.
—–
dalam beberapa kasus hal tersebut terjadi pada blogger, termasuk yang Master sekalipun ketika memasuki bisnis online secara lebih serius, misalnya menawarkan produknya…
—–
padahal, social media sangat membantu sekali memudahkan seorang PR atau pemasar dalam membangun citra, termasuk terhadap citra negatif.
Dia selayaknya dapat menjadikan citra negatif yang muncul dari konsumen menjadi suatu kekuatan baru, yaitu ‘kecepatan pelayanan purna jual’, atau kecepatan tanggapan terhadap keluhan konsumen… Mirip seperti call center tahun 2006an…
—–
Terima kasih informasinya Pak
menarik sekali mengetahu cara2 taktis mengontrol sesuatu yang terlihat tidak terkontrol.
itu artinya:
Brand seharusnya punya PR ambassador yg mewakili dirinya di ranah maya. Ya ngeblog lah, ya microblogging lah, ya bersocial network lah. Jangan sampai malah kejadian spt yg terjadi pada Exxon (http://media-ide.bajingloncat.com/2008/08/04/kalau-identitas-brand-dipalsukan-di-dunia-online)
Brand kudu tahu cara berperilaku online. Kalo PR mungkin dia harus memberi feedback cepat, memantau terus2an percakapan yg terjadi, dst. Ini sbtlnya udah jadi kerjaan 1 perusahaan sendiri. Hihi, ada yg tertarik masuk rimba ini? Memantau terus2an jagad maya, dan menjadikannya service bagi brand?
@pitra
di China udah ada servis sejenis, cuma lupa gw namanya hehehe.
Dia ada bbrp team yg kerjanya tiap hari nyusurin blog, web, forum, milis gt. Cari2 komplain pelanggan.
Customernya kalo ga salah include coca cola, citibank
Psh kami sudah menggunakan jasa monitoring blogs tapi masih terbatas yg dalam bhs Inggris – dan hasilnya menjadi bagian dr daily monitoring media2 ‘dunia nyata’. PR team bahkan sudah mempunyai daftar blogger yg cukup besar ‘stature’nya – kami tidak membedakan antara wartawan maupun blogger, karena tujuan kami bukanlah sekedar artikel bagus dimanapun, tapi ‘influence’ – dan blogger2 tertentu mempunyai ‘power to influence’ yg setara dgn artikel di media mapan – mungkin belum terasa di Indonesia, tapi itu hanya soal waktu. Untuk yg masih meremehkan peran blogger, perlihatkan artikel ini http://www.prweekus.com/AP-to-meet-with-bloggers-today/article/111503/
Bener, ini kejadian banget pada diri saya sebagai calon konsumen. Ketika saya ketik nama produk tsb di search engine google, keluar deh berbagai link yang memuat nama produk tsb. Google memang pencatat amal baik dan buruk, betul banget. Ketika produk yang ingin saya beli tsb dibicarakan banyak cacatnya, sampai sekarang saya belum menindaklanjuti untuk membeli produk tsb. Padahal di satu sisi saya juga berpikir, ah mungkin itu kebetulan aja produk yang dia pakai tidak mengikuti petunjuk pemakaian yang benar, ini karena saya sebelumnya sudah memiliki kesetiaan terhadap brand tsb dan belum pernah punya pengalaman dikecewakan oleh brand tsb. Namun memang tidak bisa dipungkiri, informasi negatif turut mempengaruhi keputusan membeli ya.
kalau boleh usul, footer “DIPOSTING OLEH Nukman Luthfie” sebaiknya tak perlu dicantumkan. toh semua orang tahu ini blog sampean. kecuali ini blog multi user.
wah posting yang sangat bagus pak…
memang media online sekarang sudah tidak bisa diabaikan lagi.
setiap peluang untuk meningkatkan citra perusahaan harus dimaksimalkan, termasuk di dunia virtual.
coba aja tengok barack obama yang sukses berkampanye dan mengumpulkan dana kampanye via online. cara yang jitu bukan?
sebuah terobosan yang berbeda dari calon-calon lainnya:)
Thanks God, there’s google alert
Memang agak susah juga jadi PR Manager saat ini, selain harus menguasai media traditional juga yang online. Tapi susahnya yang di media on-line kita tidak bisa membendung informasi yang kurang baik tentang perusahaan kita, meskipun sejatinya perusahaan kita sudah memberikan layanan yang baik, tetapi kompetitor kita bisa memanfaatkan media online untuk black campaign.
Wass
Setyo Budianto
http://www.setyobudianto.com
trus, apa donk yang seharusnya dilakukan seorang PR untuk mengatasi bebasnya dunia prosumen maya ini?? APakah memang semuanya ini benar2 gak bisa dibendung?
@Kamal – Ya preventif donk. Jangan bertindak buruk atau merugikan konsumen. Para pemimpin perusahaan ga boleh selingkuh
Khan ga kena gossip nanti
Ya kalo sudah kejadian, ya terpaksa jalanin Image Recovery Campaign, buat menutupi noise2 tadi. Entah itu sales naik, atau sumbang dana besar2an, produk baru yang super menawan, dll.
@ndoro kakung << senior
footer “DIPOSTING OLEH Nukman Luthfie†sebaiknya harus dicantumkan. tidak semua orang tahu ini blog pak nukman, emang di domain ada nama pak nukman nya ? enggak kan
peace …
jawabannya?
produsen harus memperhatikan kualitas produknya kepada konsumen.
Percuma saja pr mengerti blogging, atau facebook kalo produknya buruk. Ada ribuan blogger di muka bumi Indonesia, mana mungkin direspons satu-satu.
Intinya, para produsen kini haru tahu bahwa konsumen punya power yang lebih besar untuk kualitas produk.
Be creative people! Give the best!
Saya pernah menulis sebuah post yang agak miring mengenai Citibank berjudul Kegagalan Succesion Planning dan Robohnya Citibank. Kemudian saya kirimkan tulisan itu ke bagian Humas Citibank Indonesia….namun no response at all.
Kasus donat tahan lama menarik juga untuk diamati.
http://jengjeng.matriphe.com/index.php/2008/09/03/cara-membuat-donat-awet.html
@ Pak Nukman & #1
“apalagi sampai dimuat di surat pembaca Kompas!â€Â
untuk media tradisional, sepertinya Kompas masih yang paling berpengaruh
Mungkin itu berlaku di Jakarta dan sekitar, kalau khususnya di Jawa Timur kayaknya menurut saya itu tidak berlaku. Karena pernah saya pasang iklan baris di Jawa Pos, malah saya ditawari oleh agen iklan Kompas untuk pasang iklan di Kompas 3 hari, plus bonus di Surya (group Kompas) 3 hari dan di Surabaya Post (group Kompas juga) 5 hari dengan harga 70 % lebih murah.
maaf koreksi #18
dengan harga 30% lebih murah.
Sekedar menambahi, selain hal-hal di atas, “bahasa” dan stuktur “bahasa” penulisan di internet juga sering tidak memiliki kekuatan stuktur EYD dan stuktur bahasa yang jelas, sehingga terkadang komplain, kritik, saran diinternet memiliki nilai tafsir yang berbeda-beda bagi pembaca, ini juga perlu diwaspadi. Interpretasi merupakan sebuah ancaman dan kontraproduksi dengan Positioning Pemasaran.
Salam Buat Bang Lutfie
Sukses selalu:
http://www.ipan.web.id
Memang seorang PR di zaman sekarang ini di tuntut untuk akrab dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan internet or cyber or dunia maya, apapun namanya seorang PR mau tidak mau akan bertemu dan berhubungan dengan hal semacam itu.. seorang PR tidak hanya harus mahir dalam teknik berkomunikasi secara lisan saja namun seorang PR haruslah mahir dan akrab dengan alat dan media sekelas cyber dan sejenisnya apalagi di era seperti sekarang ini, malah mungkin saja pada akhirnya nanti di zaman berikutnya PR akan sepenuhnya berkutat dengan dunia cyber, segala sesuatu yabg berhubungan dengan pihak internal dan eksternal perusahaan tentunya sudah bisa di ‘handle’ hanya lewat dan melalui dunia maya saja, hal itu sudah mulai bisa kita rasakan di saat sekarang ini, contohnya: surat, opini, testimoni dan lainnya bisa kita kirimkan lewat pesan singkat seperti sms, email, fax, facebook, friendster, twitter, dan masih banyak lagi. Tentu saja kesemuanya itu dapat mempermudah kinerja PR agar menjadi lebih cepat namun tidak menjamin dapat menjadi lebih baik karena kita tidak tahu kekeliruan yang akan terjadi dengan konektivitas atau kerusakan lainnya pada jaringan itu sendiri. Kembali lagi pada diri sang PR masing-masing. (^_^)
PR,,PR,,,PR,,PR,,PR is the important now without PR, organization maybe is dead!!!
izin copy artikel y…hehehehe
sapa tau berguna bagi kawan2 saya..
artikel yang menarikk..^^
merici08.blogspot.com