Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Mari Mem-branding Diri di Twitter

March 2, 2010
Oleh Ismujiarso

Twitter telah menjadi situs jejaring sosial di internet terpopuler ke-3 setelah Facebook dan MySpace. Data hingga akhir tahun lalu menyebutkan, lebih dari satu juta orang memiliki akun di Twitter dan 200 ribu di antaranya secara aktif mengirim lebih dari 3 juta posting per hari.

Memasuki tahun 2010, analis Twitter Kevin Weil memperkirakan, jumlah twit per hari tak kurang dari 50 juta, lompatan yang luar biasa dari angka pada 2007 (5000 twit per hari) dan 2008 ( 300 ribu twit per hari). Twitter diluncurkan pertama kali pada Agustus 2006.

Angka-angka tersebut mengindikasikan adanya lalu lintas informasi yang fantastis. Twitter menjadi sebuah pasar besar informasi bebas yang memaksa kaum pemasar dan kalangan bisnis secara umum untuk melirik dan memperhitungkannya sebagai media baru untuk kepentingan-kepentingan komersial.

Di Indonesia kita melihat, dari hari ke hari mulai banyak produk-produk, brand, organisasi yang masuk ke Twitter. Ini belum termasuk kampanye-kampanye marketing dan branding jangka pendek yang juga memanfaatkan Twitter sebagai alat untuk menjangkau audiens. Termasuk, individu-individu artis, seniman, politikus, kandidat pimpinan daerah yang mencoba bereksperimen dengan mikroblogging untuk personal branding.

Sebenarnya, disadari atau tidak, sebagian besar aktivitas di Twitter pada dasarnya mengarahkan individu untuk melakukan personal branding. Ungkapan yang sering kita dengar adalah, “you are what you tweet”. Sekarang, ungkapan tersebut banyak dimodifikasi, salah satunya yang sering dikatakan adalah, “twit-mu harimau-mu”. Maknanya kira-kira bahwa persepsi orang lain atas diri kita terbentuk lewat rangkaian twit kita.

Bagi orang-orang “biasa” yang memang tak terlalu memiliki kepentingan terhadap politik pencitraan publik layaknya seorang politikus atau artis, personal branding mungkin bukan isu utama ketika “bermain” di Twitter. Namun, bayangkan seorang Luna Maya. Sekali dia mem-posting pernyataan yang isinya memaki pekerja infotainment, orang dengan mudah menyimpulkan bahwa itulah –setidaknya salah satu– karakter “asli” sang artis: pemarah. Dan, hal itu tentu saja bisa merugikan citra yang sebelumnya dia bangun sebagai seorang selebritas.

Menkominfo Tifatul Sembiring adalah contoh lain yang lebih gamblang tentang bagaimana personal branding bekerja pada seorang tokoh di Twitter. Tak lama setelah terpilih sebagai menteri, Tifatul langsung muncul di Twitter dengan nama @tifsembiring dan mencuri perhatian orang dengan twit-twit pantunnya, yang kemudian populer dengan istilah twitun. Terlepas dari kontroversi yang terus-menerus merundung dirinya berkaitan dengan kebijakan-kebijakannya sebagai menkominfo, Pak Tif dengan “konsisten” mem-branding dirinya sebagai sosok menteri yang akrab, santai, apa adanya. Dia rajin nge-twit, menjawab setiap pertanyaan atau komentar yang ditujukan kepadanya. Semua kritik, serangan, cacimaki dia tanggapi dengan tekun.

Orang boleh tidak setuju dengan Pandji Pragiwaksono (@pandji), yang belakangan dianggap “mengkomersilkan” gerakan nasionalisme IndonesiaUnite. Tapi, konsistensi Pandji dalam memposisikan diri sebagai “juru bicara” nasionalisme kepada remaja merupakan contoh personal branding yang bagus. Ketika penggagas dan penggerak IndonesiaUnite satu per satu “mundur” dari kancah per-twitteran, Pandji terus saja bicara tentang keindonesiaan, cinta Tanah Air dan jargon-jargon heroik lainnya, yang betapa pun banalnya, kenyataannya memang masih banyak remaja yang mem-follow dia masih awam mengenai isu-isu itu.

Beberapa waktu lalu, Detikcom menurunkan berita menarik mengenai keberadaan Iwan Fals di Twitter. Dengan nada mempertanyakan, media online tersebut menjawab keraguan sementara kalangan yang sebelumnya kurang yakin bahwa @iwanfals yang ada di Twitter itu bukan Iwan Fals “asli”. Pasalnya, twit-twit Iwan terasa sangat “ngocol”, misalnya pada suatu saat dia bertanya, “LOL itu apa sih?” Dalam bahasa online, LOL adalah singkatan dari ungkapan yang menyatakan tertawa terbahak-bahak. Dengan twit-twit yang “ringan” dan spontan seperti itulah Iwan mem-branding dirinya. Dia tampil wajar, apa adanya, menjawab setiap twit yang ditujukan kepadanya, dan kalau pun sesekali mengomentari isu-isu politik dan sosial aktual, itu tetap dilakukannya dengan spontanitas yang kocak, tidak berusaha terlihat “pintar”.

Kebalikan dari contoh-contoh adalah praktisi self healing Reza Gunawan yang pernah meramaikan Twitter dengan twit serial ber-hashtag #MUINextHaram yang dimaksudkan sebagai kritik atas kecenderungan MUI yang mengharamkan hal-hal yang kurang fundamental. Ketika muncul serangan balik terhadap Reza yang dinilai mulai berlebihan dan SARA, Reza pun kemudian meminta maaf dan menyatakan bahwa semua omongannya hanya dimaksudkan sebagai joke belaka.

Saya tidak mengatakan bahwa langkah Reza meminta maaf itu salah. Dalam hal ini tidak ada benar dan salah. Melainkan, apa yang dilakukan Reza bukan contoh personal branding yang baik. Personal branding memerlukan konsistensi, yang sebisa mungkin “tanpa kompromi”. Reza yang sebelumnya “sinis”, tiba-tiba begitu “positif” dengan permintaan maafnya.

Hal yang lebih parah baru-baru ini dilakukan oleh motivator kondang Mario Teguh (MT) yang punya acara Golden Way (GW) di Metro TV. Pada Sabtu (20/2/2010) lalu, lewat akunnya di Twitter yang bernama @MarioTeguhMTGW dia mem-posting twit-serial dengan tajuk #MTOF (Mario Teguh Open Forum). Salah satu twitnya mengatakan, “Wanita yang pas untuk teman pesta, clubbing, begadang sampai malam, chitchat yang snob, merokok dan kadang mabuk tidak mungkin direncanakan sebagai istri.”

Dalam waktu singkat, twit itu menyebar dan menuai protes. Dengan tegar dan elegan, @MTGW pun membalas semua keberatan yang muncul dengan pernyataan: Orang-orang yang yang protes dan gelisah ketika mendengar nasihat yang baik adalah orang baik yang sedang berada di tempat yang salah.

Anehnya, ketegaran itu tidak dipertahankan sampai “titik darah penghabisan”. Pada hari yang sama, malamnya @MarioTeguhMTGW menghapus twit-twit serial #MTOF-nya sekaligus mem-block orang-orang yang mengkritiknya. Tindakan itu memicu komentar yang semakin “liar” dan tak terbendung, dan menjelang tengah malam @MariTeguhMTGW muncul kembali dengan pernyataan yang membenarkan bahwa pihaknya telah menghapus twit-twit yang memicu protes, sekaligus minta maaf. Tidak hanya itu, @MarioTeguhMTGW juga mengungkapkan bahwa twit-twitnya selama ini dikerjakan oleh sebuah tim moderator. Keesokan harinya, @MarioTeguhMTGW memutuskan untuk menghapus akunnya.

@MarioTeguhMTGW telah melakukan bunuh diri personal branding dengan meninggalkan arena justru ketika sedang terjadi krisis. Dia melewatkan kesempatan untuk memberikan penjelasan dan mempertanggungjawabkan pernyataannya secara meyakinkan, dengan “melarikan diri” dan membiarkan lalu lintas informasi dikuasai sepenuhnya oleh para pemrotesnya.

Kita sudah terlalu sering mendengar bahwa konversasi adalah kata kunci dalam ber-social media. Mungkin karena terlalu seringnya mendengar itu, kita jadi luput menangkap maknanya. Dalam keadaan krisis, konversasi menemukan titik urgensinya secara nyata, untuk mengklarifikasi segala ketidakpastian. Minta maaf memang penting, termasuk dalam kasus Mario Teguh. Tapi, sekali lagi, dalam ber-social media, isunya bukan itu. Pertama dan utama, pastikan bahwa Anda sendiri yang meng-handle akun Twitter Anda, salah satunya ditunjukkan dengan penggunaan nama asli Anda sendiri. Jangan rancukan antara brand personal Anda dengan perusahaan atau partai Anda. Pengalaman menunjukkan, bahwa hanya manusialah yang bisa nge-twit, seperti halnya hanya oranglah yang bisa nge-blog. Institusi, organisasi, tidak bisa melakukannya.

Kedua, putuskan sebagai apa Anda ingin dikenal. Jadilah ahli dan “narasumber” di bidang yang memang Anda kuasai dan tekuni. Script Editor pada rumah produksi MVP Pictures Ve Handojo, misalnya, bisa bicara apa saja di Twitter, tapi ada spesialisasi yang dia bangun dengan serius, yakni sebagai pereview dan perekomendasi film. Dialah orang yang berada di balik sukses word of mouth film “3 Idiots” di Twitter, yang berdampak sangat besar pada sales film tersebut. MVP adalah pihak yang mendatangkan film itu ke Indonesia, dan ketika Ve menciptakan kehebohan mengenai film itu di Twitter, dia tentu punya kepentingan. Tapi, siapa yang tahu kalau dia orang MVP? Sebab, dia melakukannya seorang diri, sebagai dirinya sendiri, @VeHandojo dan bukan sebagai misalnya @VeHandojoMVP.

Di Twitter orang lebih percaya brand personal ketimbang brand corporate.

27 Responses to “Mari Mem-branding Diri di Twitter”

  1. agushery says:

    “terpopuler ke-3 setelah Facebook dan Mayspace”?, MYSPACE maksudnya ya?
    Twitter memang makin berjaya, bagi pengguna di bdg, twitter jadi rujukan terpercaya (menurut pengamatan saya) untuk cek trafik, info kuliner dan juga diskon yang sedang ditawarkan.

  2. Cesar says:

    terima kasih atas pencerahannya mas Mumu.. hehehe..

  3. Social comments and analytics for this post…

    This post was mentioned on Twitter by mumualoha: rahasia kegagalan mario teguh di twitter, dan bagaimana 3 Idiots sukses menciptakan kehebohan http://bit.ly/c7FvfE...

  4. titiw says:

    Mas.. MVP apa MPV yang bener..? mungkin lebih oke kalo dikasih kepanjangannya karena gak semua orang udah tau apa itu MPV/MVP. Makasih.. :D

  5. didut says:

    jarimu harimaumu :)

  6. Iphin Cow says:

    aku belum bisa memanfaatkan twitter dengan baik… huft..

  7. nonadita says:

    Mesti hati2 juga ketika ngetwit,… karena salah twit setitik, rusak image sebelumnya :D

    Setuju banget bahwa you are what you tweet. Saat ini masih ada aja orang yg menganggap status Twitter dan status facebook adalah wadah utk curhat & memaki orang2 yg disebelin

  8. Okto Silaban says:

    Ada beberapa typo kayaknya di tulisan ini. Mungkin perlu di edit dikit.

  9. Rahim Rajab says:

    thanks, info yg bagus

  10. [Di Twitter orang lebih percaya brand personal ketimbang brand corporate.]

    Pantas saja, twitter virtual levelnya dibawah dari pak nukman.

    Lalu, bagaimana kalau ingin membangun personal branding untuk kawasan / komunitas anak muda?

  11. p49it says:

    Terima kasih untuk pengetahuannya.

  12. Iyan says:

    dan sudah mendapat pelanggan via twitter :)

  13. Mardianto says:

    Bagus!

    Media baru memang harus diimbangi dengan edukasi. Peristiwa-peristiwa baik ataupun buruk yang terjadi berkaitan dengan media baru juga bisa disebut edukasi masyarakat :)

  14. J.L.Nawan says:

    di antara sekian banyak nama (domestik) yang saya perhatikan sangat “memukau” dalam hal personal branding ini adalah @AdrieSubono bersama @JavaMusikindo nya, mulai dari site survey ttg musisi yg akan didatangkan (pertanyaan ditujukan kpd calon penontonnya), sampai ke pemasaran dan penjualan, bahkan juga dilengkapi dgn dokumentasi pagelarannya; @AdrieSubono saya anggap orang yg berhasil memabgun personal branding komunitas anak muda/remaja

  15. anjwing says:

    Ah twitter bukan segalanya, di sana isinya cuma orang2 liar ga jelas yg memaksakan kehendaknya dgn bebas mengata-ngatai orang seenaknya

  16. maydina says:

    THx atas infonya.. n penjabarannya di atas.. jadi banyak belajar ;)

  17. Tulisan yang sangat bagus.

    Setiap perusahaan yang hendak menjalankan strategi social media WAJIB mengundang Anda sebagai konsultan…..:)

  18. “artikel yang nice & memberikan limpahan info ttg twitter”

  19. Pitra says:

    kalau mas @mumualoha membrandingkan dirnya sebagai seorang apa di twitter? :) ) Anyway, tulisannya bagus banget. Lebih keren lagi kalau plus nambahin membahas @wimar :D
    *membayangkan Mumu membaca tweet satu-satu*

  20. Mas Ben says:

    Weh, terimakasih banget Pak Nuk. Penjelasannya gamblang banget tentang twitter, membuka mata saya betapa besar manfaat twitter. Wah saya mudah-mudahan belum terlambat merehabilitasi nama twitter [@wbenediktagung] saya, soalnya saya sangat jarang tuit tuit hehhee :) .

    Salam hangat
    Mas Ben

  21. [...] meberikan inspirasi dan ilmu-ilmu baru dalam bidang Social Media. Gak percaya? Baca aja di sini http://virtual.co.id/blog/cyberpr/mari-mem-branding-diri-di-twitter/ . Tulisannya yang berjudul Mari Mem-Branding Diri Di Twitter ini menuntun saya untuk terus belajar [...]

  22. terimakasih banyak. ..
    sebagai public figure memang mesti waspada dari hal – hal seperti itu

  23. alfaroby says:

    saya adalah penguna twitter yang sudah lama, sudah sekitar 2 tahun yang lalu saya memakai twitter, tapi sekitar 6 bulan yang lalu saya menghapus account twitter saya,,, dan saat ini kurang lebih 1 minggu saya mencoba untuk mengaktifkan kembali twitter saya lagi, karena saya merasa bahwa di dalam twitter ada berjuta juta informasi dan pengetahuan, dan saya pasti bisa memanfaatkannya

  24. Social comments and analytics for this post…

    This post was mentioned on Twitter by kangzaen: RT @idvirtual Mari Mem-branding Diri di Twitter http://bit.ly/bdlgHn...

  25. Amri MF says:

    kalo twitter mungkin lebih cocok bwt yg udah terkenal, kalo orang yg blm bgt dikenal spt saya mungkin lebih baik pake blog

  26. Fadli says:

    memang ulasan yang sangat cermat dari ahlinya..
    terima kasih Pak.. salam kenal dari saya..

    Fadli

Leave a Reply



nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
meisia @mei168
Information Architecture Specialist
tweet it
foto andi @primaretha
Social Media Head
tweet it
foto jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Andi Primaretha: - Terima kasih mas Bayoe. Betul untuk Conversation Analysis dan Network...

  • bayoewebid: - Analisis yang menarik mas. mungkin perlu ditambahkan dengan tools yang dipakai....

  • Andi Primaretha: - Bagi teman-teman yang ingin sukses mempromosikan bisnisnya melalui online...

  • aguswibowo: - Mas Andi, bagaimana menurut anda posisi online http://hotelgrasia.b logspot.com tks

  • hadiph: - Tahapan analisis yang menarik bos, selanjutnya posting tools nya donk. tks

  • Hary: - Info yang sangat berguna & bermanfaat, Mas Andi. Many thanks for your sharing....

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting