Seorang brand manager dengan nada masgul bertanya, “Kepada apa atau siapa sih sebenarnya para blogger itu berpihak?”
Pertanyaan semacam itu menyiratkan sebuah makna yang menggambarkan blogger sebagai sosok yang menakutkan. Faktanya, sebelumnya mengajukan pertanyaan tersebut, sang manajer telah membuat pengakuan yang cukup mengejutkan: dulu, perusahaan paling takut sama LSM, tapi sekarang yang mereka takuti adalah blogger.
Para blogger boleh bangga mendengar hal itu, tapi bagi saya, ada yang lebih penting untuk segera direnungkan bersama: apa yang sebenarnya sedang terjadi dalam dunia media relation?
Barangkali sudah klise kalau dikatakan bahwa kehadiran blogger di tengah sistem komunikasi massa yang sebelumnya dikuasi oleh jurnalis telah meminta perhatian khusus dari para praktisi public relations (PR). Blogger, yang belakangan diperluas lagi cakupannya lewat istilah “onliners”, telah menjadi kekuatan baru yang minta diperhitungkan dalam setiap program kampanye produk Anda.
Bayangkan, dulu Anda hanya perlu mengecek halaman surat pembaca Kompas dan koran-koran besar untuk mengetahui, apa keluhan konsumen hari ini terhadap produk dan layanan Anda. Tapi sekarang Anda bisa dibuat jantungan setiap saat karena keluhan atas produk Anda bisa muncul di mana saja, dalam bentuk apa saja, tanpa terkontrol. Anda bisa tersedak ketika menyeruput kopi di pagi hari karena menjumpai pernyataan 140 karakter di Twitter yang menyebut-nyebut dalam nada negatif brand yang belum genap seminggu Anda luncurkan. Selera makan siang Anda tiba-tiba hilang karena sejam sebelumnya Anda menjumpai postingan di sebuah blog yang isinya caci-maki kasar terhadap produk Anda. Anda kesal, bingung dan bertanya-tanya dalam hati dengan marah, “Siapa sih mereka, apa kompetensi dan wewenang mereka untuk membicarakan produk saya sebegitu rupa? Apakah mereka memiliki kredibilitas yang bisa dipertanggungjawabkan?”
Tapi, sesaat Anda sadar, menyandarkan punggung di kursi dan bergumam, “Oke, kalian para blogger memang tak bisa dicegah. Lalu, apa yang harus kami lakukan? Bagaimana cara menghubungi kalian, agar kami bisa bicara? Apa kami juga perlu melakukan program khusus untuk, katakanlah, mengambil hati kalian?”
Blogger vs Jurnalis
Segala keluhan, pertanyaan, kebingungan ketidakpahaman atau bahkan mungkin kesalahpamanan terhadap sosok blogger, disadari atau tidak, secara teoritis maupun praktis, muncul dalam konteks perbandingan dengan sosok jurnalis. Maklum, sebelumnya masyarakat hanya mengenal saluran-saluran komunikasi massa “resmi” seperti koran, majalah, radio dan televisi, tempat di mana para jurnalis itu memainkan peran di belakangnya. Kemunculan para blogger membingungkan terutama karena dalam perbandingannya dengan para jurnalis itu, kita bisa mempertanyakan, “Bekerja untuk siapakah mereka? Apa kepentingan mereka?” Dalam buku The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel mengatakan, kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran. Apakah hal yang sama bisa kita tuntut dari para blogger itu?
Menurut saya, salah satu hal terpenting pertama yang harus diperhatikan adalah perbedaan yang paling mendasar dari keduanya, bahwa jurnalisme itu profesi, sedangkan blogging itu hobi. Meskipun ada sebagian sangat kecil blogger yang dibayar, namun secara umum aktivitas blogging adalah hobi. Perbedaan ini membawa sejumlah konsekuensi bagi keduanya, bahwa para jurnalis mencapai posisinya yang sekarang setelah melewati serangkain tahap dan syarat tertentu, bekerja berdasar aturan tertentu dan mempublikasikan tulisannya dengan tanggung jawab tertentu pula. Sedangkan blogger, mereka bisa siapa saja dalam kesehariannya, menulis “semau gue” dan tidak mewakili institusi tertentu. Sampai di sini saja kiranya kita sudah cukup mendapatkan gambaran, betapa para blogger memang lebih susah “dipegang ekornya” ketimbang para jurnalis. Dan, untuk itulah para praktisi PR, brand manajer maupun orang-orang marketing perlu melakukan pendekatan dan menerapkan perlakuan yang berbeda dalam menghadapi para blogger tersebut.
Rekomendasi
Sebagai orang yang pernah berdiri di dua wilayah tersebut, yakni sebagai jurnalis dan blogger, saya merekomendasikan sejumlah hal sebagai berikut:
1. Lupakan pertanyaan-pertanyaan dan tuntutan-tuntutan mengenai “kredibilitas” dan “kebenaran”
Dan, istilah-istilah “berat” lainnya yang mungkin kini berkecamuk di benak Anda ketika mendengar kata “blogger”, atau ketika sedang berhadapan dengan mereka. Secara diplomatis, keraguan Anda bisa dipatahkan dengan pertanyaan, “Apakah Anda akan mencari kebenaran dari orang yang melakukan sesuatu karena dibayar, atau dari orang yang melakukan hal yang sama karena memang dia suka melakukannya?” Di samping itu, bicara soal kredibilitas maka akan berlaku sama di mana saja, bahwa hal itu lebih tergantung pada kualitas individu ketimbang “label” yang melekat pada individu tersebut. Faktanya, ada wartawan yang menulis buruk dan asal-asalan, dan tidak sedikit blogger yang tulisan-tulisannya mendalam, kaya data pendukung, memperhatikan akurasi –pendek kata tulisannya bagus. Perlu diingat juga bahwa ada blogger yang sekaligus jurnalis, dan semakin banyak orang yang menekuni hobi nge-blog dengan serius dan profesional. Tapi, memang kalau kita bicara secara umum, sebagian (sangat) besar blogger menulis tanpa memperhatikan kaidah-kaidah yang diperlukan untuk sebuah tulisan. Jangankan memenuhi rumus 5 W + 1 H, secara struktur saja sering acak-adut.
2. Bangun kepercayaan
Setelah Anda tahu, ada blogger yang memang bagus dan ada yang benar-benar menulis “semau gue”, maka hal berikutnya yang perlu Anda ketahui adalah, mereka semua punya potensi untuk membicarakan produk Anda, baik secara positif maupun negatif. Untuk itu, bangunlah kepercayaan pada mereka. Tidak perlu takut secara berlebihan dan tanpa alasan, namun juga jangan memandang remeh mereka. Anda bisa menggunakan jasa konsultan untuk mengetahui “peta kekuatan” pata blogger itu: mana blogger yang berpengaruh, mana yang perlu diundang jika Anda akan meluncurkan produk baru, dan sebagainya.
3. Perlakukan secara berbeda
Berbeda bukan berarti, atau tidak selalu berarti, mengistimewakan. Meskipun, ada saat tertentu ketika Anda memang perlu mengistimewakan mereka. Namun, secara umum, berbeda yang saya maksud di sini lebih merujuk pada pemahaman yang “benar” terhadap eksistensi para blogger. Misalnya, pahami bahwa mereka tidak bekerja di bawah tuntutan deadline, sehingga ada baiknya kalau Anda tidak memperlakukan mereka seperti Anda memperlakukan wartawan: mengejar-ngejar mereka, menelepon tiga kali sehari menanyakan kapan berita tentang produk Anda akan dimuat. Oke., Anda memang telah mengundang mereka secara khusus, memberi mereka suvenir, dan menjamu mereka dengan tulus dan, well, istimewa. Namun, tetap saja, setelah itu mereka akan kembali ke dunia masing-masing, dan akan lebih mengutamakan kesibukan profesional mereka sehari-hari. Beri mereka sedikit kelonggaran kapan mereka harus menulis dan mem-posting tulisannya. Dan, sekali lagi, jangan terlalu berharap pada apa yang secara umum disebut sebagai “tulisan yang bagus” –mereka menulis sesuai kemampuan masing-masing, dan mempublikasikan sendiri tanpa melalui proses penyuntingan. Jika Anda menadapati tulisan yang begitu bagus dan benar tentang produk Anda, anggaplah itu bonus tak terduga yang menggembirakan, kejutan kecil yang menyenangkan.
Kesimpulan
Blogging adalah aktivitas yang bersifat individual, sedangkan jurnalisme terkait dengan institusi. Oleh karenanya “output” keduanya pun berbeda: tulisan-tulisan di blog lebih bersifat personal dan kental opini pribadi, dibandingkan dengan tulisan di media massa yang dituntut untuk objektif, seimbang dan faktual. Namun, di atas perbedaan-perbedaan itu, yang tentu saja masih bisa diperpanjang lagi daftarnya (Anda boleh menambahkannya di kolom komentar), baik blogger dan jurnalis memiliki persamaan di mata praktisi PR, yakni sama-sama perlu relationship yang benar. Hanya saja, cara mendekati keduanya berbeda. Prinsip-prinsip dalam media relation yang selama ini telah ditepakan, tidak bisa begitu saja dipraktikkan juga untuk blogger relationship. Dalam hal yang paling sederhana saja, misalnya bagaimana mengundang blogger, tidak bisa disamakan dengan mengundang wartawan. Ini kedengarannya sepele, tapi praktiknya sungguh susah. Intinya, jangan samakan blogger dengan jurnalis, baik dalam cara memandang maupun memperlakukannya. Yang jelas, apa pun yang terjadi, wajib hukumnya bagi para praktisi PR untuk mulai sekarang melakukan blogger relation dengan baik dan benar. Jika tidak, brand Anda taruhannya.
wow….menarik.
blogger emang bebas “memaki”. namun hanya ketika memang sudah menghadapi produk atau perlakuan yang buruknya sangat keterlaluan.
tulisan yang mantap mu…
Hihi, satu posting serupa tentang blogger itu bukan jurnalis. Semoga para konsultan PR yg kurang melek Web 2.0 bisa membaca ini, dan tidak melakukan hal serupa.
Posting serupa saya terkait dgn hal ini:
http://media-ide.bajingloncat.com/2009/08/05/mengajak-blogger-berpartisipasi-dalam-acara-brand/ –> minggu lalu
dan
http://media-ide.bajingloncat.com/2008/11/18/merangkul-blogger-untuk-promosi-brand/ –> tahun lalu dan ternyata masih relevan
Aha! Secara stereotipikal (yang belum tentu benar), blogger memang merdeka sehingga gak bisa dipegang buntutnya. Sehari bia posting empat kali, lantas tiga bulan hiatus, dan nyaman-nyaman saja. Bikin judul pun tidak ramah SEO dan tidak mengikuti gayab berita, sehingga bikin kesal.
Pendekatan terhadap blogger memang sebaiknya beda. Kadang orang agencies memang menyamaratakan, undang semua ke acara, dikiranya semua blogger tertarik membahas krim pemutih kulit dan aktris-penyanyi yang di-endorse-nya.
Setiap blogger punya minat (dankadang juga kompetensi) sendiri-sendiri, plus kecenderungan masing-masing (misalnya antirokok, prolingkungan, antimiliterisme). Tinggal bagaimana praktisi komunikasi pemasaran memetakannya. Tanpa itu, anggota staff mereka cuma bolak-balik menagih, “Kapan kita diposting nih, Mas?”
Buset, nomer 3 perlakukan secara berbeda ? waheheheh, bisa bisa jurnalis pada jelos. Mungkin bukan perlakuan kali ya, tapi bahasa *ngelirik ke postingan blog nya si pitra*
Good treatment is always nice, tapi lebih penting jangan ampe ada distorsi informasi dari anda ke penyebar informasi ini, mau jurnalis mau blogger mau orang biasa, semua harus punya informasi yang sama (standard lah)
Hidup Blogger……..!!!!
huehehehehe (*emang sebelumnya pada mati* pake hidup2 segala…)
ih, apa sih Shandy……..?????((^&#$@#$@##)_&
Hidup Blogger…………..
Hidup Multiply………………………..!!!!!!!!!!!!!!!!
Yeahhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!
baik blogger maupun jurnalis harus memperhatikan etika penulisan terhadap suatu berita. Kalau perusahaan brand manager tsb memang mengeluarkan produk yang bagus ya tidak usah takut menghadapi blogger. Hehe..
Jadi ingat bung Roy. Hi Roy! Tetap dapat banyak suara untuk dewan, tetap aja laris manis jadi ‘pakar’. So blogger, seberapa besar pengaruhmu?
*berhitung…*
bagaimana kalau ada jurnalis yang jadi blogger? agensi, pr, dan pemasar mengundang dia sebagai apa?
Blogger memiliki komunitas, ketika mereka sudah tergabung karena kepedulian sesama blogger maka kekuatan sebesar apapun akan dilawan, salah satu contoh ketika Ibu Prita melawan RS OMNI, ribuan blogger memberikan simpati, menulis posting yang menjatuhkan RS OMNI, hasilnya bisa ditebak, Kalo Om Roy dia sendiri khan juga Blogger mana bisa Blogger mengalahkan Blogger.
Orang yang takut akan kritik orang lain berarti orang itu mempunyai “masalah” yang sengaja disembunyikan.
Klo memang produk yang di-launchingnya tidak bermasalah atau memang ada kekurangan, semestinya dia malah senang mendapat kritik tersebut karena konsumen adalah QC yang sebenarnya.
Dia/perusahaan bisa mendapatkan input-input yang sebenarnya mengenai produk yang mereka launch, jadi ada kesempatan untuk memperbaiki.
Sikapi saja kritik atau tanggapan yang muncul dengan bijak.
Ya tapi jujur, ngeri juga kalo dikit2 nulis kritik, langsung dituntunt ‘pencemaran nama baik’. Jadi ini yang kedua kali saya baca blogger mulai ‘ditakuti’ karena kekuatan penulisannya bisa bikin panas satu instansi/perusahaan.
Bravo blogger!
[..kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran. Apakah hal yang sama bisa kita tuntut dari para blogger itu? ..]
satu perbedaan Jur. dengan Blogger adalah, Jur bekerja by assignment dan Blogger by passion, yang artinya mereka berkerja hampir tanpa intervensi. Berbeda dengan Jur. Hal inilah yang membuat Blogger mempunyai Umat dan mampu lebih dipercaya dibanding media massa … sekalipun ituh, media digital ..
Mereka takut karena karena “blogger” memperjuangkan keadilan buat wong cilik.. jangan mencoba menindas blogger deh ..
lihat positifnya jangan selalu negatif… piss
@ndoro kakung:
kalau ada jurnalis yang jadi blogger, sebaiknya diundang untuk memoderatori acara-acara yang mengundang blogger hehehe.
ya tentu disesuaikan dengan tujuan dan kebutuhan. kalau memang acaranya untuk para wartawan, ya undang dia sebagai wartawan. dan kalau acaranya untuk blogger, undang saja sebagai blogger. dgn asumsi, para PR mulai sekarang sudah harus memisahkan acara utk para wartawan “resmi” dan para blogger. jangan digabung.
ndoro sendiri sebagai jurnalis yg juga blogger, selama ini lebih sering diundang sebagai apa?
salam,
artikel menarik dan gw sangat setuju.. krn sdh terbukti sdh beberapa perusahaan menerima kehadiran blogger dan mau kerjasama untuk mengangkat brand. Btw, mohon ijin copas artikel, sumber artikel akan disebutkan (link URL).
rgds,
stephen langitan
terima kasih tulisannya..
@mumu: ku lebih sering diundang sebagai dua-duanya. yang ngundang kan gag mau rugi. akhirnya aku harus selektif.
Bung Stephen,
silakan, diizinkan. terimakasih
Nice article … !!! Mestinya para PR menyadari akan hal ini,… dalam prakteknya ada yang mencoba mendekat… ada yang malah menanam ‘agent-agent’ yang memberi komentar… ataupun malah menyerang balik bahkan memfitnah para bloggerz … !!!
Andai aza, para PR mengetahui akan hal ini…
bermanfaat sekali artikelnya, saya referensikan tulisan ini ke temen2 yang blogger dan jurnalis juga y Om
Untuk kasus di Indonesia, saya kok melihat pengaruh blogger masih sangat terbatas. Maksud saya, audiens blog sendiri juga relatif terbatas.
Ambil misal : blog http://maseko.com yang legendaris itu. Dia pernah bilang sehari vistornya sekitar 5000-an. Oke banyak, namun masih jauh dibawah media konvensional.
Saya kira, kita baru bisa bicara kekuatan blog di tanah air, kalau ada SATU BLOG lokal yang mampu attract 20,000 visitor per day.
Kapan itu terjadi?
Saya ingin mengomentari pendapat mas yodhia….
di Indonesia untuk mendapatkan Satu Blog Lokal yang attract 20.000 visitor perhari masih memerlukan proses, karena menurut saya pengguna internet di indonesia masih belum banyak yang merambah ke dunia blogging, masih banyak yang menggunakan internet hanya “maaf” membuka layanan jejaring sosial, download file-file, email, chating, dll.
Hal itu dipengaruhi oleh tingkat pemahaman masyarakat indonesia tentang blogging belum merata, mayoritas blogger berada di pulau jawa dan bali, sedangkan di luar itu blog baru merambah. Saya bisa berkata seperti itu karena saya berasal dari kalimantan, dan sekarang saya pindah ke jawa, yogyakarta khususnya, selama saya tinggal di kalimantan dulu jujur saya tidak mengenal apa itu blog. hingga sekarang saya belajar mengenai blog.
jadi menurut saya, walaupun belum ada blog lokal yg visitornya mencapai 20.000 perhari, selama pengguna blog merata di Indonesia itu juga salah satu kekuatan blog di tanah air.
Terima kasih.
“maaf kalo penulisan saya kacau”
Klo blog maseko dikunjungi 5000 visitor sehari yg sebagian besarnya juga blogger bagaimana? sekali maseko memajang banner u ibu prita, pasti ada pengaruh pada rantai bloggernya…
mantabs, tulisannya keren
[...] http://www.virtual.co.id/blog/cyberpr/kebenaran-kebenaran-tentang-blogger-apa-yang-harus-diketahui-d... [...]
hehe
Menurut saya Etika Nge-blog ini perlu, dan ditujukan terutama bagi para blogger pemula, sehingga tidak rancu atau timbul kesalahpahaman dalam membuat posting asal comot (copy-paste) yang akhir-akhir ini sering dikeluhkan oleh beberapa blogger.
sosial memang spt itu ya…menarik.
Para bloggers memang kekuatan dunia baru, tapi bukannya mereka lepas dari tanggung jawab sosial dari misi mereka untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik dan transparan.
[...] Kebenaran-kebenaran tentang Blogger: Apa yang Harus Diketahui dan yang Bisa Diharapkan oleh Orang PR Ismujiarso – Online Media Consultant 19 Aug 2009 [...]
Blogger dan jurnalis sama ciptaan Tuhan yang mempunyai tanggung jawab masing-masing. Tulisan baik dan buruk akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Dan lagi Blogger tidak mendapat gaji, berbeda dengan jurnalis yang mendapat gaji dari institusinya.
Kunjungi ; http://www.pasarxdami.co.cc..MEDIA ONLINE SURABAYA
indahnya dunia ini kalau keduanya (blogger dan jurnalis) benar-benar professional, maka tidak akan ada yg “ter-rugi-kan”.. tulisan yang inspiratif.. terima kasih mas Mumu..