Dua hari ini, 14-15 September 2006, saya berada di Banda Aceh, dengan satu tujuan, yakni ke kantor Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias untuk memberikan pelatihan tentang manajemen portal serta strategi online branding. Dua hari? Ya, dua hari dengan jam yang padat, dari jam 10.00 WIB hingga jam 14.00, break sebentar, dilanjut jam 16.00 hingga 18.00. Inilah cermin keseriusan manajemen BRR Aceh memanfaatkan Internet sebagai ujung tombak komunikasi dan interaksi dengan seluruh stakeholdernya, termasuk lembaga donor, LSM yang mengimplentasikan berbagai program bantuan (implementing egency), media, pemerintah dan publik. Keseriusan seperti ini jarang saya temukan di perusahaan yang membangun situsweb atau portal korporat.
Pelatihan diikuti oleh Eddie Darajat, Chief Information Officer (CIO) BRR NAD-Nias yang mantan CEO Indoexchange, Halim A. Iska (Manajer Teknologi Informasi), Endang Saputra (Kepala Pengelola portal e-Aceh-Nias ), Mikael Onny Setiawan (Kepala Pelayanan Informasi/Penerbit Internal) dan seluruh tim komunikasi, termasuk tim World Bank yang diperbantukan di manajemen konten portal e-Aceh-Nias.
Materi pertama yang saya sampaikan adalah Internet sebagai media, yang membahas trend konsumsi media Internet yang main hari makin besar, menggeser tren konsumsi media teve, radio dan cetak, serta bagaimana dampak pergerseran ini terhadap strategi komunikasi perusahaan.
Setelah itu disambung dengan materi kedua mengenai Online Brand Building, yang membahas bagaimana membangun sebuah brand online dari nol menjadi besar dan menghasilkan. Empat komponen yang dibahas adalah:
- Bagaimana menarik target audience menjadi pengunjung online
- Bagaimana membuat pengunjung online bersedia berinteraksi di web
- Bagaimana membuat pengunjung bersedia berkunjung lagi
- Bagaimana mempelajari dan mengolah data-data pengunjung
- Bagaimana menciptakan value baru dari hasil pengolahan data demografis dan behavior pengunjung.
Tiap tahap saya beri contoh praktis yang pernah dilakukan di luar dan pernah dipraktekkan di Indonesia.
Karena diikuti oleh tim yang berpengalaman di bidang Internet dan komunikasi, maka pelatihan pun berkembang menjadi diskusi yang mendalam, bagaimana mengimplementasikannya di BRR NAD-Nias. Sesi ini menjadi seru karena kasuistik.
Sorenya, saya memberikan pelatihan penulisan online. Di sini saya memberikan jurus klasik penulisan 5W + 1H, yakni What, Who, When, Where, Why dan How, dilenhkapi dengan 1 M (magnitude), tetapi diterapkan di media online. Tentu saja, jurus dasar itu ditambahi jurus tambahan, bagaiamana agar tulisan bisa enak dibaca dan perlu (hm…. majalah TEMPO sekali ya
).
Melelahkan memang. Bayangkan saja, enam jam memberikan materi hanya dengan jeda waktu dua jam. Namun semua itu dengan mudah terhapus oleh antusias peserta yang terlibat dalam diskusi. Apalagi, malamnya, saya diajak makan mie kepiting yang teramat lezat di Mie Razali yang terletak di Setui, Banda Aceh. Hm… lidah saya tak hentinya berdecak kenikmatan dan tangan saya tak lelah-lelahnya bertarung dengan tempurung kepiting demi sesisir daging di dalamnya
.
Sesi hari kedua dipimpin oleh Meisia Chandra. Manajer e-Consulting Virtual Consulting ini memberi materi content management system untuk website e-Aceh-Nias. Kebetulan wanita yang fasih bahasa Mandarin inilah yang menjadi kunsultan dan project manager tatkala Virtual Consulting membangun website e-Aceh-Nias dua bulan lalu. Sesi ini tergolong lancar dan mudah karena peserta sudah biasa dengan CMS, biasa menulis blog, dan sehari-harinya mengelola intranet BRR NAD-Nias yang berbasis Lotus Domino.
Nah, esok hari kami akan menuju Sabang. Sayang kalau sudah sampai ke Aceh tidak mampir ke ujung Barat wilayah Nusantara ini. Saya sudah tak sabar untuk bisa snorkeling atau diving di pulau Weh. Apalagi pulau ini disebut sebagai bakal menjadi Bali Kedua di Indonesia.
Well.. pengalaman yang mengesankan. Tiga bulan lagi saya akan ke sini lagi untuk melakukan kajian tiga bulanan terhadap kinerja website e-Aceh-Nias sekaligus memberikan pelatihan menganalisa log website. BRR NAD-Nias memang serius di dunia online!
seru banget ya pak???….:)
Waduh… kirain ngopinya di kafe terbaik di aceh itu kafe dalam tanda petik… Ternyata beneran ya pak? wah, sampe kalap makan kepiting gitu…. 3 bulan lagi saya ikut ya pak hehehehe…
hmm… nice… jadi dapet ide segar deh..
Kita tunggu nih materi lengkap “Online Brand Building”nya. Menarik sekali & selamat buat tampilan blognya yang lebih fresh.
kirain ikutan jadi developer di Aceh…
#No.3.
Yainal, ayo buruan ide segernya diwujudkan. Jangan kelamaan jadi ide. Ingat, sukses itu 1% dan 99% kerja keras mewujudkannya
# No 4.
Terima kasih mas Ferry, nanti dibahas di sini juga.
# No 5.
Bang Ipoel, kami memang dipercaya sebagai konsultan dan developer e-Aceh-Nias.org.
Pak, boleh saya dapat materi pelatihan tersebut, biar tambah wawasan tentang portal.
Ade,
Materi yang sifatnya khusus dibuat untuk klien kami tidak boleh disebarkan ke publik. Insya Allah nanti saya tulis dalam artikel ringan di sini ya..
Kalo Badan Rehabilitasi Rekonstruksi juga berminat “memulihkan” pariwisata Aceh dan Nias, YogYES.COM siap bantu, Pak; siap lahir batin.
Hehehe…, bercanda koq. Kami masih seperti yang dulu, “malu-malu kucing” untuk berurusan dengan yang berbau-bau goverment
)
Ide bagus mas Agus.
Nanti saya sounding ke sana.
Lho kenapa malu kucing untuk berurusan dengan yang berbau-bau goverment? Masuk saja ke sana, yang penting jangan terjebak korupsi
Mas, kita bisa berperan apa ya utk perkembangan Aceh
Untuk saat ini, gimana dg perkembangan ekonomi di sana
Sektor UKM dan industri waralaba/franchise apa sdh mulai menggeliat? Apa udah ada yg gelitikin..
btw, selamat utk “wajah baru” nya nih Mas
Andi
http://www.waralaba.com
Portal Peluang Bisnis Waralaba
Saya memang menyempatkan diri jalan-jalan melihat-lihat perkembangan UKM di sana, sekaligus melihat pameran pengusaha wanita Aceh. Sependek (apa sejauh?) pengamatan saya, belum ada franchise lokal di sana saat itu. Adanya sih Kentucky Fried Chicken yang juga kelihatan laris. Padahal, kalau menjelang malam, banyak anak-anak muda Aceh nongrong di pinggir jalan dan makan burger atau ngopi!
Kata orang Aceh, setiap 10 meter ada kedai kopo!
Mungkin berlebihan, tetapi saya memang mudah mendapat kedai kopi di sana.
Sedikit saran kepada situs BRR, sebaiknya ada custumer servicenya brr yang online, sehingga lebih lancar mendapat masukan dari masyarakat.
pemberdayaan komunitas lokal juga amat penting dari sisi teknologi informasi, kalau mas ke sini boleh kita duduk dengan komunitas lokal teknologi di Aceh
Na……h, gitu dong.., persiapkan terus saudara-saudaraku di Aceh agar bisa menjadikan Aceh benar-benar daerah yang yang mampu mengelola semua sumberdayanya sendiri hingga bisa memberdayakan semua pemuda-pemuda Aceh yang sudah banyak kehilangan pekerjaan n semangat akibat Tsunami, bukankah itu salah satu hal yang juga harus di diperhatikan BRR, Merekonstruksi n merehabilitasi semangat n psikologi dari SDM2 yang akan melanjutkan tugas dari BRR pada saat mereka meninggalkan kami dari aceh, salam dariku yang lg merantau buat saudara2ku di Aceh n BRR, Keep spirit to face tomorrow …
aloe
[...] Ke Serambi Mekah Berbagi Ilmu Manajemen Portal [...]