Online Strategist, Creative Designers, Web Technologist MarComm Practitioners, E-Commerce and Education __________________________ under one roof.

Corporate Culture Hambat Corporate Blogging: Wordcamp Indonesia

January 19, 2009
Oleh Nukman Luthfie

Hanya segelintir perusahaan Indonesia yang mengadopsi corporate blog di situs korporatnya hingga saat ini. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari, termasuk blog yang sedang Anda baca ini. Padahal sudah terbukti bahwa corporate blog amat dibutuhkan sebuah situs korporat untuk menjalin komunikasi dua arah dengan pasar dan pelanggan menggunakan bahasa yang informal. Itulah tema yang saya sampaikan di acara Wordcamp Indonesia, Minggu 18 Januari 2009 di Erasmus Huis, Jakarta. Founder WordPress, Matt Mullenweg, hadir di Jakarta untuk menyemarakkan Wordcamp pertama di Indonesia yang diikuti oleh para developer dan pengguna WordPress, piranti lunak paling populer untuk ngeblog, mengingat acara di Indonesia ini adalah adalah salah satu rangkaian dari acara Wordcamp yang digelar di berbagai belahan dunia.

Corporate blog adalah konsep blog yang diterapkan di sebuah situs korporat. Berbeda dengan situs web yang bahasanya amat formal, memuat informasi perusahaan, produk dan solusi perusahaan, blog korporat justru ditulis secara santai, bahasanya membumi, dan mengajak bicara audiencenya di dunia maya. Jika situs korporat berisi informasi satu arah dari perusahaan ke konsumen dan pasar, sebaliknya blog korporat berbicara dua arah dengan konsumen dan pasar. Melalui blog korporatlah perusahaan melakukan “conversation“.

Di era digital yang sudah Web 2.0 seperti saat ini, pasar adalah percakapan dua arah, tiga arah, multiarah. Market are conversations. Posisi konsumen dan calon konsumen di dunia maya saat ini sudah setara dengan produsen atau korporasi. Mereka bebas berbicara di dunia maya, baik melalui forum-forum online, menulis di blog mereka sendiri, atau saling berbagi di berbagai situs jejaring sosial seperti Facebook dan Friendster. Mereka juga bebas bicara dengan perusahaan melalui blog korporat yang dibangun perusahaan.

Namun, situasi bebas bicara ini sangat bertentangan dengan corporate cultur Indonesia yang amat mementingkan kosmetik citra perusahaan. Semua eksekutif dan manajemen puncak perusahaan pasti tidak rela jika produk atau perusahaan dicela. Itu sebabnya hampir semua perusahaan besar sangat serius menjaga citra perusahaan melalui berbagai aktivitas public relations. Hanya informasi perusahaan yang positif dan berpotensi meningkatkan citra perusahaanlah yang digelontorkkan ke publik. Sebaliknya, jika ada sedikit saja keluhan pelanggan yang masuk ke ruang publik, terutama dimuat di surat pembaca media cetak besar, mereka kebakaran jenggot dan segera melakukan antisipasi.

Dengan kultur tertutup dan tidak terbuka terhadap celaan konsumen inilah perusahaan enggan masuk ke corporate blog. “Bagaimana nanti jika ada yang memberikan komentar negatif dan menjelek-jelekkan perusahaan?” itulah pertanyaan utama ketika perusahaan akan membuat blog korporat. Karena berbenturan dengan corporate cultur yang sok jaim, akhirnya mereka memilih tidak membangun blog korporat. Itu artinya mereka tidak mau berkomunikasi dengan pasar dan konsumennya di dunia maya.

Di Indonesia, corporate culturlah penghambat utama corporate blogging. Namun tidak usah berkecil hati. Di negara sehebat Amerika Serikat pun, masalahnya hampir sama. Memang, perusahaan di AS banyak yang mengadopsi blog korporat. Namun hasil riset Forester Reseach terhadap blog korporat 90 perusahaan yang masuk ke Fortune 500 menunjukkan bahwa “most corporate blogs are dull, drab, and don’t stimulate discussion.” Artinya, kebanyakan blog korporat perusahaan-perusahaan terbesar di AS itu bermutu rendah, isinya membosankan, dan tidak memicu diskusi alias tidak menghasilkan perbincangan dengan audiennya.

Apakah itu berarti tidak perlu corporate blog?

Jika menilik keberhasilan perusahaan seperti Dell, Lenovo, Adobe, 37Signal, BBC dan lainnya dalam mengelola blog, saya yakin banyak perusahaan ingin mencicipi keberhasilan serupa.

Tautan:

WorldCamp Pengguna WordPress Berlangsung 2 Hari

Corporate Blogging Bakal Mengganggu Kredibilitas Perusahaan?

32 Responses to “Corporate Culture Hambat Corporate Blogging: Wordcamp Indonesia”

  1. Nice sharing Pak Nukman.

    Untuk beberapa company yang memang bergerak di bidang internet, teknologi, dan sebagainya mungkin akan lebih mudah memahami bahwa blog adalah sebuah platform yang bisa diolah untuk mendapatkan manfaat yang positif seperti PR 2.0, CSR, dsb. Jadi mungkin memang perlu adanya edukasi yang baik agar mereka bisa memanfaatkan blog untuk corporate.

    Kalau menurut saya pribadi, corporate blogging is nothing to lose, kalau tidak ada it’s ok, kalau ada akan lebih baik lagi.

  2. Rupanya memang ada hubungannya dengna budaya takut dikritik ya? Bagaimana bisa menjadi benar jika tidak pernah tahu apa yang salah? :D

  3. Dua hari kemarin sungguh istimewa bagi saya. Karena, saya dapat belajar banyak hal.

    Dan, saya tak perlu stress sendiri karena ternyata Pak Nukman dan Pak Ong juga mengalami hal yang sama: sulit menjelaskan betapa pentingnya keterlibatan di dunia maya bagi perusahaan.

  4. orangufan says:

    Jadi corporate culture ini juga yah yang membuat mengapa Pelanggan justru tidak percaya pada corporate Blog? seperti yang di bilang sama Web Strategist Jeremiah:
    http://www.web-strategist.com/blog/2008/12/09/consumers-say-your-corporate-blog-is-not-trusted/

  5. [...] saya mengikuti sesi Nukman Luthfie. Topik yang beliau bawakan sebetulnya sangat menarik, yaitu corporate blogging. Sayangnya, yang terjadi adalah great topic to the wrong audience. Kelihatan beliau mencoba dengan [...]

  6. perlu waktu lama untuk merubah culture 32 taun pak… after all, indikatornya pemilu 2009 bisa dijadikan sample , apa branding awareness dari media online dan sifat conversation dapat dimanfaatkan oleh para calon penghuni kursi panas atau hanya sekedar ikut ikutan mas barack Obama…

  7. Saya lihat di blog-blog perusahaan besar seperti Dell, lenovo, dll hanyalah untuk mengakomodasi para karyawan atau eksekutif untuk menulis artikel2 pribadi mereka. Istilahnya “daripada ngeblog diluar mending disini saja tak sediain tempatnya”.

    Jadi kalo dibilang blog korporat merekalah yang mengkoordinir komunikasi dua arah ke konsumen, menurut saya agak kurang tepat. Jika mereka berani open, kita bisa melihat kalo yang komentar di blog korporat mereka sebagian adalah temen kerja mereka sendiri.

    Kebanyakan konsumen akan menuju ke official forum, atau forum-forum yang berhubungan dengan produk mereka. Karena selain bisa mendapatkan info yang lebih lengkap mereka juga bisa memperoleh opini dari sesama pemakai produk.

    Di Indonesia sendiri mungkin saat para pemilik perusahaan sebenernya sudah sadar akan pentingnya blog korporat, akan tetapi pertanyaan yang sering dilontarkan adalah “Ntar siapa yang mengelolanya?”.

  8. galihsatria says:

    Sangat setuju Pak Nukman. Setiap kali datang ke stakeholder sebagai konsultan teknis, saya selalu menawarkan opsi untuk komunikasi dua arah, meski cuma forum komentar saja. Tetapi pertanyaan “Bagaimana jika komentar negatif” itu selalu dihadapkan dan mereka bertahan mati-matian soal ini. Sepertinya korporasi kita memang belum siap dengan pembentukan citra model begini.

  9. BudiTyas says:

    Rasanya bukan culture deh. Bisnis tentu ada itung2annya. Menimbang plus minus, butuh-nggak butuhnya. Secara alami klo memang benar2 butuh dan menguntungkan tentunya akan dilakukan. Namanya juga bisnis, tentu pertimbangannya untung-rugi.

  10. Salah satu bukti pasar internet Indonesia yang masih belum matang. Mau pakai blog, mau iklan online, bahkan mau bikin situs masih ragu, apakah benar ada yang menengok nantinya.

    Mungkin kita harus buat ‘Internet Awareness’ bagi para eksekutif :)

    Masalah opini negatif memang jadi masalah besar, bukan karena perusahaan saja yang takut di kritik. Melainkan pembaca sendiri belum dewasa untuk menilai kritikan tadi benar atau salah. Jadi balik lagi ke perusahaan, bagaimana kalo kritiknya negatif melulu atau hasil kerjaan pesaingnya?

  11. iqranegara says:

    Website saya juga punya ‘corporate blog’. Dan saya usahakan selalu terbuka. Misal, waktu web gak sengaja ke-delete databasenya, kita tulis juga di blog.
    Tapi respon dari visitor kurang. Kira2 apa yg kurang ya? Apakah gaya penulisan ikut mempengaruhi?

  12. Herdi says:

    se 7 dengan adanya korporate blog, sebagai variasi untuk website korporate yang sifatnya formal dan cenderung membosankan.
    :)

  13. Setuju dengan Mas Ivan @ NavinoT. Internet awareness sepertinya perlu tu.

    Kadang kita yang memang sehari-hari ngubek di internet menjelaskan hal yang terlalu dalam kepada mereka yang belum terlalu ngeh akan apa-apa yang bisa dilakukan dan terjadi di sana.

    Jadi, mungkin, mereka pada akhirnya bukan makin mengerti, tapi justru jadi semakin memandang segala kehebatan internet itu sebagai suatu yang aneh dan bahkan di luar jangkauan.

  14. tri wibowo says:

    Salut nih bisa ngadain dan ngundang pemilik wordpress, mudah2 an kedepan bisa ngundang COE google, Yahoo, Youtube , biar kita2 lebih well informed.

    Salam super sukses
    Triwibowo

  15. kamal says:

    ada gak perusahaan yang sudah bikin blog (ada sistem komennya) tapi pake bahasa yang berat plus satu arah gitu? sukses gak tuh blognya?

  16. Andri says:

    hmm..corporate blog itu media efektif buat pengguna online, so bisa juga dijadikan model cermin buat mengoreksi diri.

    btul yg dikatakan om nutman bahwa budaya corp kita msh blum brani (tak smua) tuk menerima kritikan…padahal ini kesempatan corp utk membuktikan eksistensinya buat bertindak siap menerika pujiaan dan kritikan.

    mengenai prodk tak 100%sempurna itu hal wajar (mana ada makanan yg gak pernah basi,menggunakan pengawet itu bukti bisa basi, termasuk produk yg digunakan pasti ada batasnya-rusaklah delel,mangkanya butuh PR buat ngasih + thingking, argumentasi dan dsb), namun tindakan Misi itulah upaya target penyempurnaan pencapaian Visi corp tersebut.

    mengenai comment celaan tanpa bukti menandakan yg mengcomment tak punya etika (bisa berbalik-senjata makan tuan), jika sebaliknya yah dievaluasikan saja dgn team corp tersebut. buat apa bikin produk kalo cuma buat nyusahin org aza… sudah adatnya, kalo bagus ya bagus dan sebaliknya…

    ok, smoga dgn mulai brani ber corpblog bisa menciptakan teruus inovasi,ide,dan strategi market yg lebih baik lg karena pengalaman adl guru terbaik…buat apa ngegaji karyawan kalo cuma siap menerima kabar yg baik2 aza, padahal persaingan sudah SENGIT!

    Thank om Nukman :D

  17. Hilman Dale says:

    Dengan kultur yang masih tertutup dan kontrol yang kuat dari atas, apakah tidak akan jadi rancu, bahwa penerbitan blog perusahaan pada akhirnya hanya menjadi corong lain dari perusahaan.

    Berbeda dengan yang terjadi pada blog pelanggan apple, yang dimulai oleh salah satu penggemar produk2 apple yg sering mereview produk2 apple yang baru diluncurkan…, blog ini benar2 menawarkan komunikasi yg terbuka atas segala hal positif dan negatif dari produk apple, sehingga lambat laun blog ini diakui sebagai salah satu acuan bagi penggemar apple. Efek positifnya bagi perusahaan adalah, awareness masyarakat atas produk2 apple meningkat, dan blog ini akhirnya dijadikan salah satu blog resmi apple inc.

    Apakah kultur kita saat ini memungkinkan untuk terjadinya kondisi tadi?

  18. BudiTyas says:

    Setelah saya coba itung2, nampaknya ekspektasi thd blog corporate terlalu tinggi. Porsi keuntungan bagi perusahaan hampir nggak ada, jd wajar perusahaan ga mau bikin blog.

  19. Ben says:

    jadi, persh. indonesia mana saja yg sdh punya blog?

  20. bagus says:

    setuju nih..harusnya corporate blog bisa jadi sarana untuk mendapatkan feedback untuk produk dari perusahaan..perusahaan di Indonesia kayanya masih belum siap untuk menerima kritik dari pelanggannya..

  21. Andri says:

    Sepertinya belum byknya yg berblogcorp di negri ini sebagian besar dikarenakan hal strategi pimpinan perusaan yg notabane penghasil produk yg jelas2 memiliki nilai standar yg jelas, beda halnya dgn jasa…tau sendirikan aksi YLKI kayak apa kalo produk yg digunakan gak sesuai harapan konsumen…bukan cuma barang yg ditarik, corp tsb malah bisa ambruk, kecuali jika PR corp tsb jago berkomunikasi dgn strateginya (sbgmn Adamair dan Ancol dgn monsternya)

    Ato mungkin emang msh byk corp yg belum tau ttg media online jadi wajar klo bgt mah…..ini kesempatan buat ngasih tau mereka…lumayan peluang buat nawarin proposal produk+knowledge :) siapa lg kalo bukan kita2! tul gak om? hehe :D

  22. Joule says:

    sulit untuk membuat blog corporate karena nanti siapa yang akan memaintain nya.

    jangan hal ini menjadi shockin event ajah, setelah itu ilang gema nya.

  23. Corporate blog akan sangat menarik jika bisa ditulis oleh berbagai orang di perusahaan sehingga mewakili berbagai perspektif yang berbeda-beda.

    Bahasa blog yang lebih informal memang menjadi daya tarik tersendiri bagi orang untuk membaca dan mempercayai isinya ketimbang website yang formal.

  24. ridwan says:

    Pak Nukman, menurut bapak kalo corporate blog perushaan di indonesia yang dinilai sudah bagus sehingga bisa dijadikan bechmark, kl boleh bisa disebutkan perusahaan mana ?

    terima kasih,

  25. kartika says:

    Pak Nukman..saya numpang nyebarin angket skripsi boleh ya..di sini saya ingin meminta bantuan rekan-rekan untuk bersedia menjadi responden skripsi saya. Silahkan kunjungi http://www.pusatdata.web.id/digitalkuesioner/kartika.php
    Atas kesediaan rekan-rekan sekalian saya ucapkan terima kasih
    nb: Pak Nukman kalo bisa ikut ngisi juga ya

  26. bodrox says:

    Pak saya kira itu karena kultur kita yang “terlalu kritis”. Image product tentu saja sangat penting, Begitu citra rusak tentu bayarannya sangat mahal. Brand harus dijaga sebaik mungki.

    Orang indonesia kan kritiknya kadang-kadang hanya “mencari kesalahan”, bukan kritik untuk pengembangan product, seperti peningkatan mutu, dll.

  27. Ada benarnya juga sih, jika budaya perusahaan berpengaruh pada baik/ buruknya utilisasi atau sosialisasi corporate blog dalam urusannya komunikasi bisnis mereka dengan konsumen.

    Barangkali saya bisa menambahkan bahwa, efektifitas dan level konfidens perushaan terhdap Corporate blog ini tergantung pada jenis industri dan besarnya dampak sosial bisnis ybs.

    IMHO… industri retail seperti produk elektronik, ataupun jasa logistik yang mana memiliki sejarah konflik rendah thd lingkungan sosial dan alam, akan memiliki keberhasilan implementasi Corporate BLOG yang lebih baik dari yang lain.

    Ekstrimnya jika perusahaan memiliki bisnis di bidang perkebunan misalnya, maka fraud dan isu-isu pencemaran brand perusahaan itu sendiri dirasakan jadi ancaman, karena praktek bisnis perkebunan di Indonesia memiliki banyak konflik terkait pertanahan, hak milik, pencemaran alam, dan lain2nya… Sehingga penyediaan corporate blog dianggap semacam tindakan bunuh diri bagi mereka.

  28. great sharing pak! :D
    Jadi semangat kembali menghidupi perusahaan dengan corporat blog.

  29. edi says:

    Mungkin bisa dibentuk team khusus utk mengelola blog nya :)

  30. Ismunadji says:

    Memang betul saya melihat banyak perusahaan multi nasional yang beroperasi di Indoneia belum memanfaat blog untuk perusahaannya, mungkin ya itu takut dikritik dan merugikan perusahaannya jadi masih jaga image, saya kira perlu pemahaman bagi managementnya untuk memanfaatkan blog sebagai sarana komunikasi dua arah antara produsen dan konsumennya, saya kira tinggal waktu saja yang menentukan, nantinya pasti akan kesana, menurut hemar saya.

    Salam,
    Ismunadji

  31. brokencode says:

    Betul pak. Dell saja mengclaim lewat Twitternya mereka berhasil meraup angka penjualan 1juta dollar. Belum dari jejaring sosial lainnya. Facebook yang lagi boom? Coba tebak berapa?

  32. AL says:

    Yah semuanya tergantung orientasinya.. Jika Murni untuk promosi tak ada yang salah dgn Culture Corporate. Hanya saja Corporate Blog tentunya harus lebih terbuka untuk menindak lanjuti kekritisan audience / konsumen untuk perbaikan product yg continue… itu yg menjadi harapan kami sebagai konsumen.. thanks ,.. GOod Article

Leave a Reply




nukman @nukman
Online Strategist
tweet it
iimfahima @iimfahima
Online Marketing Communication Strategist
tweet it
adhitiasofyan @adhitiasofyan
Creative Director
tweet it
Gita Pramestyani @pramestyani
Sr Commerce Strategist
tweet it
adhitiasofyan @purnayuda
Sr Campaign Strategist
tweet it
Jayadi @jayadi72
Web Content Specialist
tweet it
Anggie Harygustia @mister_anggie
Web Content Specialist
tweet it

Komentar Terakhir.

  • Meja Belajar: - terimakasih untuk informasinya

  • intisar primula: - nice artikel Pak thanks

  • Zy: - Setuju nih sama Mas Akbar. Apakah lebih efektif menggunakan TVC atau social media juga...

  • wawasan online: - Infonya menarik, tetapi jaman sekarang sepertinya sudah banyak yang berubah.

  • Alief: - Nice inpoh gan :D

  • Pengembangan Diri: - Pikiran terbuka terhadap peluang bisnis online yang besar.. Terima kasih Bu...

Kategori


Email Subscription

Enter your email address:

Fan Box Virtual Consulting