Dengan nada kesal, penyanyi yang belakangan dikenal sebagai penulis novel best seller Dewi ‘Dee’ Lestari memprotes Detikcom yang telah mengutip twit-nya untuk berita berjudul “Ketahuan, Akun Twitter Palsu Venna Melinda Menghilang.”
Dee dikutip sebagai salah satu “narasumber” yang merasa kehilangan atas lenyapnya “akun palsu” Venna Melinda tersebut. Intinya, Dee merasa keberatan dan lewat Twitternya dia mengecam, “dengan rasionalisasi apapun” dia tak bisa membenarkan “media yang suka ngutip twit orang”.
Kita bisa menganggap bahwa Dee sebenarnya hanya terlalu “malas” untuk mengakui bahwa bagaimana pun, Twitter adalah ruang publik. Sedangkan wartawan yang mengutip pernyataan seleb di Twitter barangkali memang malas “beneran”.
Tapi, mari sedikit lebih serius. Ilustrasi di atas menggambarkan adanya pergeseran dalam hubungan antara reporter dan narasumber di era social media sekarang ini.
***
Mengutip pernyataan tokoh yang diungkapkan di Twitter sebagai sumber berita memang sudah jamak dilakukan oleh reporter masa kini. Sebagai jejaring sosial internet yang baru, Twitter langsung menarik perhatian kaum seleb dan tokoh masyarakat (dari politikus hingga motivator), sehingga bagi repoter berita,ini merupakan sumber berita baru yang bisa dikutip dengan mudah, tanpa melakukan wawancara.
Dari sisi narasumber sendiri, sudah mulai banyak yang menyadari bahwa Twitter bisa dimanfaatkan sebagai saluran untuk menyebarkan berita. Vokalis Fall Out Boy, Patrick Stump misalnya, menyatakan mundur dari band lewat Twitter. Di samping itu, apa yang terjadi di Twitter dan social media lainnya seperti Facebook juga bisa menjadi bahan berita. Misalnya, kematian Michael Jackson dan Mbah Surip yang menjadi trending topic, atau group dukungan untuk Sri Mulyani.
***
Media massa konvensional mulai melihat social media (atau dunia online secara umum) sebagai sumber berita terutama sejak kasus Prita mencuat. Disusul kemudian dengan “keberhasilan” gerakan pembelaan Bibit-Chandra dan Koin Keadilan yang terbilang fenomenal. Sebelumnya, gerakan-gerakan massa secara online memang sudah muncul, seperti “Say No to…” tapi belum berhasil menarik perhatian media secara massif.
Kasus Luna Maya yang “memaki” infotainment di Twitter semakin membuka mata para reporter untuk senantiasa mengawasi media-media jejaring sosial di internet sebagai tambang emas berita yang bisa dieksplorasi dengan mudah dan murah. Dan, itu semua belum termasuk kemudahan-kemudahan teknis yang merupakan berkah buat para pekerja media: Bingung cari foto narasumber? Tinggal ambil di Facebook-nya. Mau menghubungi tokoh tertentu tapi tidak tahu nomer HP-nya? DM saja via Twitter-nya.
***
Tapi, setiap perubahan selalu menimbulkan ekses. Terusiknya Dee karena merasa pernyataannya dikutip “tanpa izin” tadi, termasuk ekses tersebut. Ekses lain tentu banyak. Dalam teori berita ada yang namanya faktor keutamaan, juga relevansi. Orang mulai mengeluh, apa sih pentingnya memberitakan debat kusir Wimar Witoelar dengan Aburizal Bakri di Twitter, yang ‘dikompori’ oleh Fadjroel Rahman?
Tentu saja, apa yang “utama” dan “relevan” di mata media untuk disiarkan ke publik bukanlah rumus mati yang tak bisa diotak-atik. Kehadiran social media yang telah membuat informasi menjadi sesuatu yang murah dan melimpah ruah, ikut mendorong pergeseran kriteria mengenai “apa yang penting” dan “apa yang harus” diketahui publik. Namun, memang perlu adanya usaha tambahan dari para reporter untuk membuat beritanya tidak sekedar “menarik keluar” peristiwa di social media ke halaman koran atau website.
Melaporkan mentah-mentah bahwa ada dua orang tokoh “berantem” di Twitter memang akan terasa seperti omong kosong saja bagi masyarakat umum, yang bahkan masih banyak yang belum tahu apa itu Twitter. Reporter perlu lebih rajin sedikit saja: memberi bingkai, konteks, penjelasan tambahan. Dalam bahasa Bill Kovach dan Tom Rosenstiel (lihat: The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect), jika memang wartawan kini tak lagi memutuskan apa yang seharusnya diketahui publik, maka dia membantu audiens mengerti secara runtut apa yang seharusnya mereka ketahui. Jika potongan-potongan “informasi” di Twitter membuat suatu isu menjadi membingungkan dan simpang siur, maka tugas wartawan adalah menambahkan interpretasi atau analisis pada laporannya.
***
Bagi kaum seleb dan para tokoh yang merupakan narasumber media, makna dari pergeseran ini tiada lain kecuali mesti lebih arif dalam ber-social media: sadari sejak dini bahwa masuk ke social media sama artinya dengan menanggalkan (setidaknya sebagian) batas-batas privasi. Twitter, Facebook, sekali lagi, adalah ruang publik. Sekali mengungkapkan sesuatu di sana, akan dibaca oleh banyak orang, termasuk para pencari dan pengumpul berita.
Tidak elok rasanya, marah kepada reporter, merasa kecolongan karena tiba-tiba ada media yang mengutip pernyataan kita. Bukankah Twitter dan Facebook sendiri juga telah dilengkapi dengan perangkat yang semakin dan semakin memungkinkan kita untuk membatasi akses orang atas akun-akun kita? Kuasa ada di ujung jempol kita. Remove, Delete, Unfollow, Protect…tinggal pilih.
Selamat Hari Pers Nasional 2010!
Social comments and analytics for this post…
This post was mentioned on Twitter by idvirtual: Berita di Era Social Media: Apa yang Harus Dilakukan Reporter dan Apa yang Perlu Disadari Narasumber http://bit.ly/aYnY3s...
mantap..
memang itu tugas jurnalis, membaca situasi di lingkungan yang tengah berkembang dan membingkainya sehingga jelas dan siap dikonsumsi publik sebagai berita yg utuh.
weleh weleh.. tulisanmu mengalihkan kerjaanku..
keep posting mas bro..
Inilah grey area yang penting untuk ditelaah. Kita tahu social media adalah wadah berekspresi, menyampaikan pendapat, berinterkasi dan sebagainya. Sementara media tradisional punya rambu2 yang jelas. Banyak sekali contoh kasus tweet seseorang menjadi berita, dan itu diamini karena memang twitter ada di ranah publik juga.
Namun untuk kasus Dee, sang wartawan melewatkan beberapa etika. Pertama: sang wartawan sudah mencoba menghubungi Dee belum untuk komentar resminya? Kedua: Si wartawan sudah coba reply ke dee, minta izin lewat twitter? Ketiga: ini kan cuma komentar semata…kenapa mesti Dee? Kenapa gak coba komentar dari seleb lain yang lebih mudah dihubungi?
menurut saya sih, elok saja reporter itu dimarahi. setidaknya untuk diingatkan bahwa tindakannya bisa membuat seseorang merasa dilanggar privasinya. berada di ruang publik tak serta merta boleh diperlakukan seenaknya oleh siapa pun. tapi kita boleh berbeda pendapat soal ini.
melakukan RT kan sebenarnya salah satu bentuk mengutip tanpa meminta ijin dari org ybs. kenapa kl ada yg me-RT, tidak diprotes? begitu kita sdh set tweet kita masuk public timelines, mustinya kita hrs siap dg dikutip atau di-RT. kl gak mo dikutip sembarangan, ya atur aja jd private.
mantap, mas tulisannya.
ya begitulah fenomena social media saat ini.
Setuju! Orang yg membuka akun dan lalu aktif di social media berarti bersedia ranah pribadinya dimasuki banyak orang, jadi ga perlu heboh kalau dikutip wartawan. Tinggal wartawannya yg harus elok mengemasnya. Kalo emang bnr wartawan mestinya ngerti donk etika dan tata cara pengutipan.
Seyogianya setiap orang yg sdh memutuskan diri utk me”masuk”i dunia social networking, menyadari bhw dirinya sdh tidak “tertutup” lagi. Jangankan di Twitter, sekali saja nama kita muncul di sebuah situs (apapun situsnya, situs berita, situs sekolah, situs kantor dlsb.), maka dengan mudah publik bisa me”lacak” kita lewat Google … so? Itu resiko kita, tetapi di sisi lain, memang akan sangat elok apabila si reporter berusaha menghubungi Dee terlebih dahulu dan meminta comment/persetujuannya, jadi jangan asal RT saja (tapi ini RT nya bukan di Twitter sih, tapi malah langsung dimuat di media).
mungkin dewan pers atau aji perlu nambahin etika jurnalisme dalam ranah internet, meskipun gak mengikat at least ada semacam nilai yang bisa jadi patokan, hehhe
[...] This post was mentioned on Twitter by Nukman Luthfie, Adhitia Sofyan, Mumu Aloha, Ruswinar Nawangsari, Ruswinar Nawangsari and others. Ruswinar Nawangsari said: Social media adalah ruang publik jadi berhati-hatilah dalam bertutur kata.. http://bit.ly/aztXkq [...]
Quoting Twitter term of service
You are responsible for your use of the Services, for any content you post to the Services, and for any consequences thereof. You should only provide Content that you are comfortable sharing with others. Twitter has the right to distribute your contents worldwide.
But it doesn’t say about media organization not associated with twitter can(Re)distribute your contents. So perhaps @deelestari has every right to be mad.
Jejaring sosial kadang memang jadi sumber masalah. Ya bagaimana kita menyikapinya saja.. Btw, pak nukman masuk TV & semoga bisa ngalahin tenarnya om roy.
saya kutip kta2 trkhir :
“Kuasa ada di ujung jempol kita. Remove, Delete, Unfollow, Protect…tinggal pilih”
kl udah bgityu yaudah ga usah dibesar2kn lah masalah bgituan
bru tahu ada seleb disini
Bukankah setiap pekerjaan selalu ada rambu-rambunya?
Tidak seperti media konvensional yang menganut model Broadcast:Top-Down News, kini social media mengubahnya menjadi model Intercast:Bottom-Up News. Twitter memang bukan sebuah kantor berita, tapi jelas sebuah media yang memiliki konten dan dapat diakses oleh masyarakat luas, seharusnya pengguna sudah sadar sebelum menggunakanya.
“Mau menghubungi tokoh tertentu tapi tidak tahu nomer HP-nya? DM saja via Twitter-nya.” mungkin maksudnya mention kali yah?
Great post….
Mungkin gak usah jauh2. Kita melirik diri sendiri saja. Senangkah kita bila tulisan kita di blog, atau tweet kita dikutip oleh media cetak apapun, tanpa kita tahu?
Kalau kebetulan yang dikutip bagus, tentu saja kita senang. Namun kalau yang dikutip adalah sesuatu yang bersifat sensitif, bisa jadi kita gusar.
Meskipun tulisan/tweet saya memang bisa dinikmati publik internet, saya sendiri akan lebih apresiasi bila si pengutip meminta izin terlebih dahulu. Wong posting dicopas saja kita suka kesal, apalagi ini bila dikutipnya di media yang berbeda dari sumber aslinya.
Ternyata muncul paparazzi model baru berkat twitter. Twitterazzi,
.
waaa nggak sabar nih liat “pergeseran”2 lain… khususnya di perilaku beragama (yang juga erat kaitannya dengan social activities) mudah2 an makin meredam ekstremitas dan fundamentalism tanpa harus jadi sekular…
Tidak perlu heran Sesuatu yang baru sering dianggap asing.
Twitter, juga media sosial lain seperti Facebook di Indonesia belum bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk berbagai kepentingan positif. Jejaring sosial masih sebatas digunakan sebagai sarana ngerumpi, ngedumel, bahkan berantem.
Saya sendiri punya beberapa akun Twitter untuk segmen audiens dan topik yang berbeda.
Kedua pihak, saya pikir, perlu menyesuaikan diri dengan kultur di social media atau secara lebih luasnya kultur di internet.
Apa yang harus dilakukan reporter dan apa yang perlu disadari narasumber? ya di situlah intinya…
Mereka semua harus tahu dimana mereka berada sekarang. Dalam suatu ranah sosial yg lebih luas, dan dengan menerima segala konsekuensi adalah suatu bentuk pertanggungjawaban untuk keduanya.
Great post.. terima kasih atas pencerahannya
thanks for the sharing
Dua-duanya kudu sadar
Sebagi mantan reporter majalah kampus, saya jadi kangen reportase lg
. Tentunya bukan asal ngutip pernyataan narasumber di Twitter. Reporter musti pinter cari celah tapi tetep dalam rambu2 n etika. He2…
Dilema di dunia jejaring sosial dengan dilema jurnalis. Pengguna–taruhlah misal, Dee–memang masih berhak untuk komplain (seiya dengan Ndoro Kakung) tapi ia idealnya juga bisa lebih andalkan kesediaan untuk memahami. Lagipula, bukan tidak mungkin si jurnalis sudah minta izin via mention tapi luput dari penglihatannya. Sedang kalau DM, dari yang saya lihat orang-orang terkenal atau pun ‘terkenal’ saja, mereka kerap enggan membalas DM dari ‘
yang tidak terkenal’ (berdasar keluhan beberapa kenalan yang pernah mencoba menyapa “si terkenal”), yang boleh jadi karena soal kesibukan atau terlalu banyak DM.
Namun begitu, jurnalis juga harus bisa lebih inklusif dalam melihat sumber berita. Toh tidak satu dua sumber yang bisa digarap. Dengan perspektif begini saya kira bisa membantu untuk menghindari terjadinya tudingan “curang”, entah karena pengutipan di luar izin, dlsb atau apapun.
Atau sederhananya, saat berhadapan kondisi demikian, bisa pula melihat lagi apakah tweet seorang yang terkenal “cukup penting” atau bahkan sebenarnya sama sekali tidak penting. Adanya prioritas dan pemilahan demikian bisa menjadi proteksi alternatif untuk menghindari tudingan-tudingan negatif untuk jurnalis. Apalagi ada tanggung jawab sosial yang jauh lebih penting dicari di berbagai tempat daripada sekadar menyimak twit segelintir orang yang belum tentu benar-benar penting.
Hanya ‘omelan’ kecil, karena saya tidak berani menyebut pertimbangan saya ini sebagai renungan. Saleum