Sebuah produk ataupun layanan, dibangun oleh manusia.
Dibesarkan oleh manusia.
Di manage oleh manusia.
Dan Anda berharap produk/layanan Anda sempurna di mata konsumen?
Keinginan menjadi sempurna yang dilakukan dengan cara meningkatkan kualitas produk dan layanan, pastilah sangat layak untuk diapresiasi. Tapi celakanya yang sering terjadi adalah keinginan untuk terlihat sempurna dengan antara lain berusaha meredam pemberitaan negatif di media via PR sana PR sini.
Sampai pada titik tertentu, mungkin Anda bisa tenang karena sebagian pemberitaan negatif (terlihat) bisa teredam. Tapi tunggu dulu. Benarkah semua media bisa Anda kendalikan?
You cannot control the internet, katanya.
Dan itu betul sekali. Apalagi di era Internet Web 2.0, kesempurnaan image yang Anda ciptakan bisa dengan mudah diacak-acak oleh konsumen melalui tulisan di blog atau postingan di berbagai milis serta social networking. Soal postingan di milis dan social networking, saya yakin Anda masih ingat ketika beberapa bulan lalu Astro banyak dihujat di dua consumer generated media tersebut karena cuma jago jualan tapi payah servisnya. Atau First Media yang juga mengalami kasus serupa.
Internet membuka banyak kanal untuk memprotes produsen. Ketika Word of Mouth menyebar di internet, tak ada kekuatan yang bisa meredamnya. Secanggih-canngihnya manager PR dalam membuat ‘statemen versi perusahaan’, tidak bisa mengalahkan kekuatan penggandaan berita yang dikendalikan konsumen di dunia maya, apalagi pada saat beritanya berseberangan dengan berita perusahaan.
Mengantisipasi hal ini, hal yang dibutuhkan adalah perubahan mindset dan perubahan cara berkomunikasi. Dari yang semula selalu berusaha mencitrakan dirinya sebagai produk/layanan yang sempurna, menjadi produk/layanan yang lebih manusiawi. Karena manusiawi, artinya tak lepas dari kekurangan, tapi yang penting berusaha memperbaiki kekurangan tersebut sebaik mungkin.
Era komunikasi web 2.0, menuntut para pakar PR untuk lebih waspada terhadap munculnya pemberitaan negatif yang digenerate langsung oleh konsumen. Dekatilah konsumen. Bicaralah dengan mereka dengan gaya pendekatan yang lebih manusiawi, less korporatif, namun tetap kredible.
Tak ada jurus untuk meredam pemberitaan negatif di internet. Tapi jika tak ada aksi untuk menanggapi hal ini, maka sama saja dengan membiarkan api sedikit demi sedikit membakar rumah Anda.
salah satu karakter media maya adalah apapun yang kita katakan akan terarsip, selamanya, kalo tidak dihapus. bisa jadi berita buruknya masih nyebar meski masalahnya sudah diselesaikan
no body perfect,, kalimat tersebut sering saya,anda dan kita semua mendengar nya, konsumen sekarang sudah lebih smart,, artinya perusahaan tidak bisa lagi menutup-nutup bad acciden.
bilang aja ke konsumen terus trang ,,kalo siap, siap,, kalo gak , ya gakk,,
jangan mempromosikan apa yang tidak sanggup tuk di lakukan,, bahaya jangka panjang nya brooo
Saya setuju di era internet, strategi yang paling tepat adalah dengan mencitrakan produk kita sebagai produk yang mudah dijangkau, bersifat terbuka, dan bersedia menerima kritikan untuk dapat cepat merespon kekurangan dan memperbaiki diri.
Citra produk yang menara gading, atau bersifat flawless karena sudah di riset mendalam oleh orang dalam perusahaan, sepertinya sudah harus mulai ditinggalkan.
Setuju sekal! Produk/brand seperti halnya manusia. Yang paling penting bagaimana memberi/melakukan yang terbaik buat orang lain, Begitu juga produk/brand, bagaimana memberi kualitas dan layanan terbaik buat konsumen. Tapi jangan ikut-ikut yang biasa kita dengar “namanya juga manusia pasti kan ada kesalahan”. Kalau ini namanya ga profesional.
http://uniquetvcomm.blogspot.com